Senin, 23 Februari 2009

Musisi Kembar

Menjadi musisi bagi beberapa orang sepertinya mudah sekali. Asal punya kemampuan menyanyi yang oke, penampilan yang menarik, beberapa bakat tambahan lainnya, ditambah (kadangkala) punya modal yang besar di segi financial – produksi berapa ratus ribu keping CD pun enggak masalah mungkin, yang penting lagunya diterima pasar dengan baik dan laku. Berbekal itu semua, rasanya semua menjadi mudah.

Saking banyaknya musisi di tanah air ini, saya sampai bingung dan lupa dengan setiap penyanyi dan lagunya. Apalagi saya bukanlah seorang pengamat musik, melainkan hanya seorang penikmat musik. Tanpa harus memperhatikan siapa yang nyanyi, yang penting lagunya bagus, liriknya apik, lalu saya suka. That’s all.

Di kantor, ada seorang teman yang benar-benar ter-update playlist lagunya. Bahkan lagu yang belum ada video klipnya di TV pun dia punya. Jadi, ketika dia memutar lagu di komputernya, saya hanya mendengarkan tanpa memperhatikan siapa yang nyanyi. Saya hanya menebak, “Oo.. ini suaranya si A. Wah, dia sudah bikin album baru yaa..”.

Kira-kira dua bulan saya mengira bahwa lagu itu dinyanyikan oleh si A. Tapi ketika saya melihat video klipnya di TV, barulah saya tahu bahwa penyanyinya bukan si A. Contohnya saja; Ello – Masih Ada Cinta, saya mengira yang nyanyi Glenn Fredly, Maia dan Cinta Laura - Pengkhianat Cinta, saya mengira yang nyanyi Mulan Jameela, Nindy – Cinta Cuma Satu, saya mengira yang nyanyi Audy, dan Kotak – Masih Cinta, saya mengira yang nyanyi Utopia.

Wah, ini kesalahan ada pada kuping saya atau memang pada penyanyi yang tidak punya ciri khas lagi yaa… Saya masih ingat, ketika di acara adu bakat penyanyi, sang komentator selalu berkata “Kamu harus punya ciri khas sendiri. Jadi ketika saya dengar suaramu di radio, saya langsung tahu itu kamu.” Kata-kata itu terus saya ingat sampai sekarang, meskipun saya bukan seorang penyanyi. Sehingga, saya selalu salut dengan penyanyi yang benar-benar punya ciri khas.

Di luar itu semua, bolehlah… Karena lagunya memang lumayan bagus dan enak untuk didengar. Tapi, melihat maraknya industri musik saat ini, seharusnya menjadikan semua pihak yang terjun di industri musik lebih memperhatikan persaingan yang ada. Bukan asal punya modal kuat dari segi financial saja, tapi juga memperhatikan pasar, kemampuan entertain, ciri khas musik dan suara penyanyi, serta jangan sampai bikin satu album langsung bubar. Itu mah, numpang tenar sesaat aja.. dan musik dijadikan batu loncatan. Wah, kalau musisi senior tahu seperti ini, bisa saja mereka nangis miris.

Memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Tapi paling tidak, dimodifikasilah sedikit supaya ada perbedaan dengan penyanyi lain yang mungkin menjadi kiblat itu tadi. Kekreatifan itu pastilah akan mendapat apresiasi lebih dari sesama musisi lain dan juga para penikmat musik – seperti saya..

baca selengkapnya......

Kamis, 19 Februari 2009

Nge-Slank bareng Garin Nugroho dan Generasi Biru

“Pasti kalo film ini muncul di jaman Soeharto, sudah dicekal” kata seorang teman ketika kami sedang menonton film karya Garin Nugroho – “Generasi Biru”. Film ini dimainkan oleh Slank, sebuah band yang usianya bahkan lebih tua daripada usia saya 25 thn.

Khas sekali film Garin. Menurut saya, dari scene satu ke scene lainnya susah dimengerti, karena kesannya enggak nyambung. Tapi, setelah hampir akhir2 film, barulah kita bisa berkata “Oo.. jadi maksudnya tuh gini too…”

Pantas juga ketika di brosurnya ditulis “Dari ‘Opera Jawa’ ke ‘Rock and Roll’”, karena film ini memang opera jawa (film Garin sebelumnya) banget tapi dikemas dengan nge-slank. Kalau di “Opera Jawa” dulu, jujur saja saya tidak begitu mengerti esensi penting dari film itu. Mungkin saja karena ketika itu, otak saya belum dipaksa berpikir kritis dan dewasa. Tapi melihat animo masyarakat, sepertinya justru film “Opera jawa” yang heboh sekali penontonnya. Sampai-sampai pemutarannya di Jogja diperpanjang. Bagaimana nasib film “Generasi Biru” ini yaa… Ah, terlalu dini untuk mereview.

Film “Generasi Biru” ini beda dan lebih meremaja. Ada gokilnya, ada nyleneh ke arah ‘saru’nya (tapi emang ini kan yang digemari anak2 sekarang), ada sisi kemanusiaannya, dan ada kritik sosialnya. Jadi, itulah kenapa teman saya tiba2 menyeletuk demikian.

Sekarang kita memang hidup di generasi biru, yang merdeka dan bebas berekspresi serta berpendapat. Tapi seharusnya kebebasan itu digunakan dengan sebaik-baiknya. Bukan asal manut dengan yang ketok palu, tapi juga bukan asal semprot tanpa pemikiran yang matang.

Film ini mengingatkan kita bahwa negara ini pernah mengalami tragedi kemanusiaan besar-besaran, bahkan kalau mau ditelusuri di setiap provinsi mungkin saja masih ada. Mulai dari kerusuhan Mei 1998, Konflik Ambon, krisis gizi, krisis pangan dan air, dll.

Menurut saya, disinilah hebatnya Slank dan Garin Nugroho. Ketika genenasi biru sesungguhnya ada di tangan remaja, padahal remaja adalah saat rentan dengan berbagai godaan. Lalu, film ini muncul dengan maksud mengajak mereka supaya lebih peduli dengan negaranya. Serta benar-benar menanamkan P.L.U.R – Peace.Love.Unity.Respect dalam diri setiap generasi biru – generasi bangsa.

Yah, sekarang kita memang tidak hidup lagi di jaman kuping kita ditutup, ruang gerak kita dibatasi dengan kerangkeng, atau manusia yang tidak dimanusiakan. Meski, sekarang ini masih banyak kejadian yang seperti masa-masa itu. Tapi, mungkin patutlah kita bersyukur karena negara kita sudah banyak berubah, yang perubahan itu dilakukan oleh para generasi biru dan untuk generasi biru.

Coba saja deh, tengok negara tetangga di Korea Utara dengan paham komunisnya. Sampai sekarang ini mereka begitu mengidolakan “the great jenderal”nya yang sudah meninggal. Bahkan fotonya pun disembah-sembah dan tak boleh geser sedikit pun dari gantungan. Mereka diajarkan anti-Amerika, padahal pemimpin barunya sekarang diduga diam2 mengonsumsi produk Amerika. Dan lucunya, lirik lagu kebangsaannya ada kata2 pujaan kepada “the great jenderal”.

Wah, untunglah negara kita telah melewati masa-masa itu. Bukan untuk dilupakan, tapi untuk dipelajari. Dan… coba kalau film ini dibuat oleh warga Korea Utara ya? Mungkin nasibnya seperti surat kabar Indonesia jaman dulu.

baca selengkapnya......

Rabu, 14 Januari 2009

Kata-Kata Aneh

Bahasa ini makin lama makin aneh. Dikatakan ini adalah bahasa gaul tapi artinya jadi aneh. Berikut ini, beberapa kata “aneh” yang saya temui di sekitar:

1. CRC – Club Remaja Community

Saya baca tulisan ini di jaket seorang cowok di sekitar Condongcatur, Yogyakarta. Apa yang aneh? Bukankah Club dan Community artinya kurang lebih sama? Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Club atau dalam bahasa Indonesia Klub, berarti perkumpulan yang kegiatannya untuk maksud tertentu. Sedangkan Community atau Komunitas, berarti kelompok organisme (orang dsb) yang hidup dan saling berinteraksi di suatu tempat tertentu. Jadi, jika ditarik benang merahnya Club dan Community artinya sama-sama perkumpulan orang-orang untuk kegiatan tertentu. Lalu? Ya, saya melihat ada pengulangan tidak penting di sini.

2. Menu: Fried Chicken – Ayam Goreng – Ayam Bakar

Saya baca tulisan ini di sebuah warung makan di Jl. P. Mangkubumi, Yogyakarta. Cukup menggelitik. Bukankah fried chicken itu dalam bahasa Indonesia artinya ayam goreng. Lalu kenapa, di sampingnya ditulis ayam goreng juga? Hhmm… saya melihat ada sebuah kecenderungan masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa Fried Chicken adalah ayam goreng bertepung, seperti punya KFC, McD atau restoran fastfood di tanah air ini. Sedangkan Ayam Goreng adalah ayam yang benar-benar digoreng dengan bumbu asli Indonesia. Jadi, untuk menunjukkan bahwa warung makan itu menyediakan kedua jenis ayam tersebut, maka kedua nama itu ditulis di daftar menunya. Lucu juga…

3. Rekonstruksi Ulang

Ini banyak tertulis di media televisi ketika ada reka ulang adegan pembunuhan. Padahal arti rekonstruksi adalah penyusunan kembali. Nah, ketika ditambahkan kata “ulang”, jadinya penyusunan kembali ulang dong.. Lagi-lagi ada pengulangan tidak penting di sini.

4. Di Jual

Saya baca kata ini di Jl. Raya Tajem, Maguwoharjo, Yogyakarta. Pemenggalan kata di- dipakai ketika ingin menunjukkan tempat atau waktu. Misalnya; di sini, di antara, di Solo, dsb. Lainnya, seharusnya kata “di” dan kata belakangnya, disambung. Jadi, seharusnya kata di jual tidak dipisah, melainkan disambung. Hhmm… Mungkin yang nulis kata itu ingin menunjukkan bahwa nama bangunan itu adalah “jual”, jadi tulisannya “Di Jual”.

5. Secara

Ini dia yang paling bikin saya gemes. Ketika pelajaran bahasa Indonesia, bukankah sudah diajarkan bahwa secara berarti dengan cara. Kenapa kok jadi salah kaprah gini. “Secara gito lo, dia kan cowok gue.”, “Secara, udah capek2 bikin ternyata gak dipake.” Nah, kalau kalimat itu diartikan menjadi “Dengan cara gito lo, dia kan cowok gue.”, “Dengan cara, udah capek2 bikin ternyata gak dipake.” Jadi aneh kan artinya. Seharusnya kata secara kan dipake dalam kalimat “Mereka datang secara bersamaan” – “Mereka datang dengan cara bersamaan.”Wah.. wah.. kok jadi salah kaprah gini sih?

6. Silahkan masuk…

Kalimat ini cukup sering terucap dan saya baca di beberapa cerita pendek. Apa yang salah? Dalam KBBI, kata yang benar seharusnya “Silakan masuk” Dan bukannya “Silahkan masuk”. Tidak ada huruf ‘h’nya. Inilah yang tidak banyak orang tahu.

7. Resiko

Ini juga tidak banyak orang tahu. Dalam tulisan, bukan kata “Resiko”, yang benar adalah “Risiko”. Apapun konteksnya, yang benar adalah kata “Risiko”.

8. Jl. Ring Road

Ini sering diucapkan oleh masyarakat, terutama di sekitara Yogyakarta. “Kemarin ada kecelakaan di Jalan Ring Road Utara”. Bukankah kata Road dalam bahasa Indonesia berarti jalan raya. Nah, ketika digabungkan dengan kata lain, Jl. Ring Road, maka terjadi pengulangan arti dong…

9. Rp. 10.000,00

Ketika tulisan jumlah rupiah ini dituliskan, yang seharusnya benar adalah “Rp 10.000,00”. Tidak menggunakan titik. Yah, tapi sepertinya banyak yang lupa…

10. Facial Punggung

Lucu sekali, ketika membaca tulisan ini di beberapa salon. Bukankah arti facial sendiri sudah wajah. Lalu ketika disandingkan dengan punggung, menjadi wajah punggung. Aneh juga… Mungkin, kata facial di Indonesia identik dengan perawatan kulit. Jadi asal tempel aja dengan kata punggung. Alhasil jadilah kata facial punggung.

Masih adakah yang akan menambahkan daftar kata-kata aneh ini?

baca selengkapnya......

Kamis, 04 Desember 2008

Ketik Reg Spasi …

Pernahkah Anda memperhatikan? Jika dulu iklan-iklan TV dipenuhi dengan iklan produk barang tertentu, sekarang ini iklan-iklan TV dipenuhi dengan iklan layanan sms “Ketik Reg Spasi…”. Apalagi jika malam hari, semakin tinggi rating acara TV maka semakin banyak iklannya dan semakin melimpah iklan-iklan layanan sms tersebut disuguhkan.


Mulai dari Reg (spasi) Games, Reg (spasi) Primbon, Reg (spasi) Jodoh, Reg (spasi) Ringtone, Reg (spasi) Uang, Reg (spasi) Ideal, dll. Iklan tersebut diulang berkali-kali padahal durasinya tidak bisa dibilang singkat. Satu hal yang saya herankan, worth it enggak sih mengiklankan di TV dengan pemasukan yang didapat? Padahal pastinya butuh modal yang besar sekali untuk bisa iklan di TV. Dan, sudah adakah peraturan pemerintah yang mengatur penayangan iklan-iklan layanan sms ini?


Saya tinggal bersama lingkungan yang lebih memilih menghabiskan pulsa ponselnya untuk hal-hal seperti urusan bisnis, relasi, telp pacar atau suami atau istri, serta pekerjaan. Jadi, muncul pertanyaan besar di kepala saya “Siapa ya.. orang-orang yang mau menghabiskan pulsanya untuk sms hiburan ini?” Bagi saya, ini hal yang tidak berguna dan buang-buang uang. Tapi bagi sebagian besar orang lain mungkin tidak, karena ini adalah sebuah hiburan. Ya, itu hak mereka.


Tapi, bagi saya fenomena ini cukuplah menarik. Ketika setiap orang di jagat Indonesia ini punya handphone. Ketika handphone mulai menjadi trend lifestyle tersendiri. Ketika harga diri seseorang dilihat dari handphonenya. Maka rasanya, setiap orang berlomba-lomba memiliki handphone yang terbaru dan tercanggih dibanding milik temannya.


Penjual sate keliling di komplek rumah saya, handphonenya lebih bagus dan lebih canggih dibanding handphone saya. Dan ketika ada teman yang meledek saya, saya hanya berkata “Ya, sebenarnya bisa aja saya beli handphone canggih seperti punya tukang sate itu, atau bahkan yang lebih. Tapi, kebutuhan saya yang lebih penting dari handphone masih banyak. Masa ya besok saya tidur pake handphone, makan pake handphone, pergi kerja pake handphone”.


Setiap orang pasti punya standarisasi masing-masing untuk handphonenya. Ada yang handphonenya harus berfasilitas mp3, radio, kamera, wifi, tv, dll. Bagi saya, fungsi utama handphone adalah sebuah fasilitas komunikasi telepon dan sms. Handphone bisa dibilang tidak berguna ketika tidak bisa telepon atau ditelepon, serta tidak bisa mengirim sms atau dikirimi sms. Alias ketika handphone itu tidak ada pulsanya atau rusak. Sedangkan fasilitas lainnya adalah fasilitas tambahan, dan saya lebih memilih fasilitas kamera dibanding yang lainnya. :-b


Ya, handphone sekarang memang makin mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Harga layanan tiap provider pun semua berlomba-lomba untuk murah-murahan. Dan harga sms layanan hiburan “Ketik Reg Spasi…” juga berlomba-lomba paling murah dan paling menarik. Siapa yang terpincut oleh semua iklan yang ditawarkannya? Saya tidak tahu persisnya, tapi mungkin banyak. Lalu, bagaimana dengan Anda?

baca selengkapnya......

Senin, 24 November 2008

Guruku sayang, di mana engkau sekarang?

Hari Selasa, 25 November 2008 adalah Hari Guru Nasional. Mungkin tak banyak orang mengetahuinya, kecuali siswa-siswi yang masih selalu bertemu guru-gurunya setiap hari, serta guru-guru itu sendiri. Saya sendiri pun juga tak mengingatnya, setelah malamnya adik saya berkata “Mbak, aku besok libur sekolahnya, soalnya besok Hari Guru. Jadi gurunya mau upacara kali..”. Oo.. jadi besok adalah Hari Guru – pikir saya.

Pikiran ini jadi melayang, mengingat guru-guru yang pernah mengajar saya. Saya ingat, Bu Prapti – guru TK yang suka bercerita, memeluk saya ketika saya menangis gara-gara disuntik tes golongan darah, mengajari saya main musik dan menari, serta menemani saya ketika saya menunggu ibu yang belum juga menjemput. Rumahnya masih berdiri kokoh di Jl Kolombo (di samping Fresco Digital Photografi), tapi saya tak tahu lagi kabarnya. Anak temanku yang sekarang bersekolah di TKku dulu itu, sudah tidak lagi diajar oleh beliau.


Saya ingat lagi, Bu Tarsih – guru kelas 1 SD yang dengan sabar sekali mengajari saya membaca dan menghitung. Guru yang super sabar tapi juga tegas ini adalah guru favorit saya sepanjang masa. Saya ingat sekali, pertama kali saya ditanya “Noni kenapa terlambat?” dan dengan polosnya saya menjawab “Soalnya Bapak beraknya lama.” Hahahaha…. Malu rasanya kalau diingat-ingat.


Di kelas 1 ini juga saya pertama kali menorehkan tinta di buku dengan tulisan “Saya tidak akan lupa mengerjakan PR lagi.” sebanyak 5 kali. Tidak banyak mungkin, tapi itu cukup membuat saya jera, karena selain dihukum seperti itu, saya juga tidak diijinkan keluar saat istirahat. Selain itu, yang paling saya ingat adalah ketika kami harus berbaris ke belakang untuk masuk dengan tertib ke kelas kami. Tapi tidak dengan mudah kami bisa masuk ke kelas, karena di tangan Bu Tarsih sudah ada banyak kartu yang tertulis berbagai penjumlahan angka-angka. Misalnya: 4+5, lalu saya harus menjawab hasilnya dengan benar. Kalau tepat, saya bisa masuk dan duduk manis di bangku kelas, tapi kalau salah saya harus kembali ke barisan paling belakang. Wah, deg-degan rasanya ketika menanti-nanti giliran saya tiba.


Ada lagi, Bu Des – guru Biologi dan Fisika di bangku SMP. Guru ini juga guru tersabar diantara semua guru di sekolah saya saat itu. Di tangan Bu Des, pelajaran Fisika yang terkenal susah itu bisa menjadi sangat mudah. Dan pelajaran Biologi yang membosankan itu jadi mengasyikan dengan berbagai praktikum seru diajarkan oleh beliau. Saat itu, ada satu hari yang pelajaran Biologi dan Fisikanya berturut-turut selama 2 jam pelajaran. Tapi, karena gurunya sama jadi tidak perlu ganti guru, hanya ganti buku yang dipelajari. Dan gara-gara Bu Des pula, jam pelajaran yang biasanya terasa lambat itu begitu berlalu dengan cepat. Wah, beliaulah yang pertama kali membuat saya menyukai pelajaran Biologi.


Di bangku SMA, ada Bu Hernita – guru Bahasa Indonesia favorit saya itu. Mungkin terdengar sepele ya, pelajaran yang sepertinya mudah tapi sebenarnya itu rumit. Beliaulah yang pertama kali mendukung saya untuk ikutan “Lomba Esai 100 tahun Bung Hatta”, meski saya kalah tapi lumayanlah buat pengalaman. Beliau juga yang mendesak saya untuk segera melengkapi data-data untuk mendaftar kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi UAJY jalur Unggulan. Ketika hanya berkas saya yang belum lengkap, beliau menunggu saya untuk segera melengkapinya.


Selain piawai di pendidikan Bahasa Indonesia, beliau juga jago sekali menyanyi. Suaranya yang merdu kadangkala masih saya nikmati ketika menonton Jogja TV atau ketika saya beribadah di GKJ Sawokembar. Beliau jugalah yang melatih saya bernyanyi di Paduan Suara SMA. Dan jika menjelang lomba, biasanya beliau terlihat galak. Hahaha… mungkin sindrom pelatih yang dikejar deadline tampil. Dan setelah lomba berhasil dilewati, biasanya kami suka menggoda beliau yang sebelumnya suka marah-marah sendiri.


Ohya, ada lagi guru di keluarga saya yang paling saya hormati. Yaitu – mbah kakung saya sendiri. Beliau dulu adalah seorang guru, serta mantan pendiri dan kepala sekolah di sebuah SD kecil di daerah Wuryantoro – Wonogiri. Jika beliau bercerita tentang perjuangannya mendidik anak-anak, pastinya itu dulu terasa berat. Di saat kesadaran akan pendidikan masih rendah dan di saat orang tua lebih suka menyuruh anaknya pergi ke sawah dibanding pergi sekolah. Tapi mbah kakung rela bersepeda berpuluh kilometer dari rumahnya di desa Pracimantoro menuju sekolahnya. Bahkan selama berbulan-bulan tanpa bayaran sepeser pun, beliau rela mengayuh sepeda tuanya itu.


Ketika aku masih duduk di bangku SD, mungkin beliau merindukan masa-masa di sekolah dulu. Jadi, beliaulah yang suka memaksa ibu supaya biar beliau saja yang mengantarku ke sekolah. Aku sudah berani ke sekolah sendiri, tapi beliau malah menungguiku dan mengobrol dengan guruku. Dan ketika aku mendapat PR, beliau yang membantuku mengerjakannya dan tidak jarang justru beliau yang mengerjakannya. Hahaha… tidak salah jika ibu marah, karena aku nanti tidak berkembang. Sekarang, saatnya beliau bernafas lega ketika melihat semuanya menjadi lebih baik karena pendidikan. Beberapa anaknya ada yang mengikuti jejaknya menjadi seorang guru, itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri baginya. Serta melihatku menjadi seperti saat ini, aku pun melihat garis kebahagiaan terpancar di wajahnya.


Pastinya, ada banyak guru-guru yang berjasa bagi perkembangan saya. Mulai dari saya TK sampai saya di bangku kuliah. Semuanya mampu memberi kesan tersendiri bagi saya. Jadi, itulah mengapa Andrea Hirata begitu mengagungkan nama Ibu Muslimah – gurunya. Sama seperti saya yang masih terus mengenang guru-guru saya dan juga kenangan-kenangan indah, nakal, dan jahil dengan beliau.


Guru adalah Pahlawan tanpa Tanda Jasa. Begitu yang sering disebut-sebut selama ini. Saya pun mengakuinya, ketika gaji yang diterima guru tidaklah besar tapi beliau rela bersabar mendidik siswa-siswinya. Tapi saat ini masih adakah guru yang benar-benar tanpa tanda jasa alias rela berkorban untuk kemajuan pendidikan siswa-siswinya. Masih ada banyakkah “mbah kakung – mbah kakung” lain yang mendidik siswa-siswinya tanpa bayaran sepeser pun. Saya yakin ada, tapi saya pun tak tahu berapa…

baca selengkapnya......

Kamis, 16 Oktober 2008

Kotaku panas sekali, sedang sakitkah dikau?

Pada tanggal 17 Oktober 2008, matahari akan terus menyinari kita selama 36 jam (1.5 hari). Dan selama itu Amerika dan tetangga-tentangganya akan gelap 1,5 hari. Ini akan mengkonversi 3 hari menjadi 2 hari besar. Ini terjadi setiap 2400 tahun sekali. Kita beruntung dapat menyaksikan dan merasakannya.



Saya mendapatkan pesan hoax itu di YM pada tanggal 14 Oktober 2008. Mungkin diantara teman-teman juga ada yang sudah mendapatkannya, baik via YM ataupun fasilitas internet lainnya. Tapi, berita ini sepertinya memang marak sekali menyebar di dunia maya.


Dua hari kemudian tepatnya tanggal 16 Oktober 2008, saya membaca sebuah berita di Kompas Online dengan judul “Bohong, Matahari Terlihat 36 Jam”, dengan alasan logisnya demikian;

“Pada sistem rotasi bumi sering disebut memiliki gerak gasing dengan kemiringan sumbu 23,5 derajat, tetapi tetap tidak memungkinkan wilayah ekuator mendapatkan sinar matahari sampai 36 jam dalam 2.400 tahun sekali seperti dinyatakan di dalam kabar bohong itu.” tutur Thomas Djamaludin, peneliti utama bidang astronomi astrofisika pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Ditambahkan pula oleh Mezak Arnold Ratag, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa penyinaran matahari di wilayah ekuator termasuk Indonesia yang memiliki batas koordinat 11 derajat Lintang Selatan (LS) sampai 6 derajat Lintang Utara (LU), rata- rata melihat sinar matahari hanya selama 12 jam plus atau minus 45 menit. Kemungkinan matahari dapat terlihat selama 36 jam sangat tidak mungkin.


Terlepas dari pesan singkat yang ternyata adalah hoax dan bohong belaka, tapi suatu fenomena alam yang saat ini sedang saya rasakan dan keluhkan adalah “Matahari sedang bersinar sangat kejam, membuat kota saya panas sekali akhir-akhir ini.” Bahkan ketika lunch break time saya berjalan melewati perempatan Mirota Kampus Dept. Store, di atas gedungnya terpampang suhu kota yang menunjukkan angka 37ºC. Waahhh gila, pantesan panas sekali. Sungguh panas yang menyengat, membuat gerah, dan malas beranjak keluar kantor kalau tidak kepepet.

Ada apakah gerangan? Biasanya bulan Oktober bumi Jogja sudah diguyur hujan, tapi Oktober tahun ini saya tidak merasakannya. Aneh sekali, ketika di sudut kota Jogja yang lain diguyur hujan lebat, sedangkan di lokasi tempat saya berada panas begitu menyengat.


Saya kira, fenomena ini tidak hanya terjadi di kota Jogja melainkan di kota-kota lain di seluruh Indonesia. Tapi, ketika ngobrol dengan teman dari Pontianak dia justru mengeluhkan bahwa di kotanya hujan turun terus tiada henti. “Wah… wah… bisa-bisa predikat kota khatulistiwa pindah ke Jogja ya.. Atau mungkin garis khatulistiwanya sudah bergeser ke arah lintang selatan.” gurau saya.


Ketika saya mengeluhkan panasnya kota saya ke seorang teman dari India yang tinggal di Oman, dia justru mengatakan pada saya demikian “Seharusnya kamu bersyukur, suhunya baru 37ºC. Di Oman suhu biasanya 42-45ºC, tapi akhir-akhir ini disini juga sangat panas sekali, dan suhunya bisa mencapai 50ºC.” Wahh… gilaa.. Saya mungkin bisa terpanggang jika tinggal disana.


Yah, mungkin inilah alasan mengapa selalu dielu-elukan “Let’s Go Green!” atau “Stop Global Warming!”.


Seperti yang dulu sempat dibahas di Kick Andy pada Jumat, 3 Oktober 2008, bahwa temperatur bumi dibaca lewat suhu di Kutub Selatan dan Kutub Utara. Jika terjadi perubahan suhu di kedua kutub tersebut, maka bisa dikatakan bahwa bumi secara keseluruhan sedang sakit.


Ketika terjadi pemanasan global, es-es di kedua kutub itu akan mencair. Bukan mencair dan menetes seperti yang kita bayangkan jika es batu mencair, melainkan mencair yang seperti tanah longsor. Itu membunuh populasi binatang-binatang kutub di sana dan membuat pulau-pulau di belahan bumi lainnya akan tenggelam ditelan laut.

Menjadi sangat wajar jika di belahan bumi lain panas begitu menyengat sampai terjadi kekeringan, sedangkan di belahan lainnya lagi hujan turun tiada henti sampai terjadi banjir besar. Inilah salah satu efek dari Global Warming.


Saya bukan simpatisan LSM atau apapun itu, tapi saya pribadi mencoba berpikir “Apa yang bisa saya berikan pada bumi saya supaya dia cepat sembuh.” Yah, dengan bertindak sekecil apapun itu, dimulai dari diri sendiri, dari lingkungan kita berada, pastinya dampaknya akan semakin besar. Menghemat listrik, menghemat bensin, menghemat kertas, menghemat pembuangan plastik dan tisu, serta masih banyak lagi.


Ya, karena saya tidak mau jika anak cucu saya hidup susah hanya karena bumi ini sakit-sakitan terus.


baca selengkapnya......

Senin, 13 Oktober 2008

Nasi Goreng di Jl. Legian, Kuta – Bali

Tepat enam tahun yang lalu terjadi sebuah peristiwa luar biasa di Legian, Kuta – Bali. Teror bom menyerang Paddy’s Club dan Sari Club. Kurang tahu pukul berapa tepatnya, tetapi yang paling saya ingat adalah tanggal 12 Oktober 2002 sekitar pukul 11 malam WITA.



Saya memang tidak berada di lokasi kejadian pada saat itu. Tapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan disana saat itu. Legian – Kuta yang biasanya ramai diisi wisatawan yang tersenyum bahagia menikmati liburannya, tiba-tiba harus menangis kehilangan, menjerit kesakitan, berteriak minta tolong, dan hanya termangu melihat semuanya habis ditelan bom.


Dua bulan sebelumnya yaitu bulan Agustus awal tahun 2002 (saya lupa tepatnya tanggal berapa), saya sedang menikmati liburan keluarga di Kuta, Bali. Malam itu kira-kira pukul 10 malam waktu setempat, saya dan keluarga berjalan kaki menyusuri Jl.Legian. Karena perut lapar, dan tidak ada makanan yang cocok di lidah kami, maka bapak memutuskan untuk mengajak kami makan nasi goreng saja. Nasi goreng jawa yang biasa dijual dengan gerobak, dan banyak ada di kota asal saya, Yogyakarta.


Gerobak penjual nasi goreng yang berhenti di depan sebuah toko yang sudah tutup (saya lupa itu toko apa) dan berada di sebuah gang kecil yang cukup sempit. Ada sedikit meja dan kursi ditata untuk para pembelinya yang mau makan disitu. Aneh memang jika itu ditemukan di Kuta, Bali sebuah tempat yang membuat kita seakan-akan berada di luar negeri karena banyak turis asingnya. Tapi, memang begitulah yang sedang saya alami malam itu. Mungkin sang penjual memang bermaksud menyediakan makanan bagi turis domestik yang tidak cocok dengan menu makanan yang biasa ada di Kuta, seperti steak, spagethi, beef grilled, dll.


Sambil menunggu nasi goreng dibuat, bapak lalu mengobrol dengan penjual nasi goreng itu, dan diketahuinya bahwa ternyata mereka berasal dari daerah yang sama yaitu Banyuwangi, Jawa Timur. Dia mencoba mengadu nasib di pulau seberang dan menjadi penjual nasi goreng di Kuta, Bali. Kembali bapak mengobrol dengan penjual nasi goreng itu menggunakan bahasa jawa, “Niku rame-rame enten nopo tho?” atau “Itu ramai-ramai ada apa sih?”. Lalu dijawabnya demikian “Oo.. niku diskotik, nggih biasane namung turis ingkang remen dolan ting mriku.” atau “Oo.. itu diskotik, ya.. biasanya cuma turis asing yang seneng main ke situ.”


Bapak masih melanjutkan ngobrol dengan penjual nasi goreng itu, sedangkan saya yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMA hanya melihat sambil lalu ke kerumunan gedung yang banyak orangnya. Sebuah pemandangan yang sangat biasa terjadi Bali, banyak diskotik dan hampir semuanya tidak ada yang sepi pengunjung.


Dua hari kemudian, kami sekeluarga pulang ke Jogja dan melanjutkan aktivitas harian kami masing-masing. Lalu dua bulan kemudian, pagi hari tanggal 13 Oktober 2002 saya yang tengah bersiap-siap berangkat sekolah tiba-tiba dikagetkan dengan berita di TV yang menjelaskan bahwa semalam baru saja terjadi pemboman di Legian, Kuta – Bali. Seakan tidak percaya, karena sepertinya baru saja saya meninggalkan pulau dewata itu. Karena saya terburu-buru sekolah, jadi berita itu saya simak sambil lalu saja.


Malamnya, kembali saya dan keluarga menonton Liputan 6 SCTV dan hampir seluruhnya isi berita itu tentang peristiwa menyedihkan itu. Satu hal yang membuat saya terhenyak adalah ketika saya mengetahui lokasi pemboman itu “Sari Club”, Jl. Legian, Kuta, Bali. Sebuah diskotik dekat dengan gang kecil tempat penjual nasi goreng itu mencari nafkah. Entah bagaimana nasib penjual nasi goreng itu, meski firasatku mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tapi jika malam itu dia memang berada di tempat itu pasti kenangan buruk tentang peristiwa pemboman itu tidak akan hilang dari benaknya.


Sama seperti ingatanku tentang Bali sebelum adanya terorisme.


baca selengkapnya......