Rabu, 29 September 2010

I Love Diversity, Coz I Live in Indonesia

Temans, saya sedang gelisah tak menentu nih.. *halah* Alasannya saya sedang mempertanyakan tentang arti keberagaman di negara ini. Iya, keberagaman yg bahasa inggrisnya diversity itu.

Pasalnya begini, semenjak heboh2nya kasus FPI yang menentang diselenggarakannya Q! Film Festival serta kasus dibacoknya pendeta dan jemaat HKBP Bekasi itu. Saya jadi mempertanyakan, apa iya.. masih ada keberagaman di negara Indonesia tercinta ini. Lah wong, setiap ada perbedaan pinginnya selalu saja disamakan.


Hhmm.. jadi bertanya-tanya, apa iya sila ke-3 dari Pancasila itu masih ditegakkan. *yang gak apal, diinget2 ya bunyinya gimana* Apa bisa juga, negara Indonesia ini mo disama-ratakan semuanya sampe ke akar2nya. Mulai dari agama - sehingga ada banyak kasus kekerasan yg enggak perlu saya sebutkan. Lalu suku - sehingga ada perang antar suku hanya karna sengketa yang sebenernya bisa diselesaikan baik-baik. Dan yang paling anyar, tentang orientasi seksual yang berbeda.

Yah! Saya katakan "berbeda" bukan "menyimpang. Alasannya, saya ini manusia biasa dan bukan Tuhan. Saya tidak berhak mengatakan bahwa ini benar, itu salah. Itu benar, ini menyimpang. Dan sebagainya.

*sekarang saya mulai serius nihh..* Saya bukanlah seorang homoseksual (queer) alias lesbi *ya,iyalah..kan cewek* Tapi yang saya tahu, seorang homoseksual itu sebenarnya juga tidak menginginkan hal itu terjadi pada dirinya. Sapa sih yang bisa request ke Tuhan untuk dilahirkan dari ibu yang mana? Enggak ada yang bisa kan? Nah.. begitu pula dengan kasus orang-orang homoseks ini. Mereka juga tidak bisa meminta pada Tuhan untuk tidak menjadikan mereka seperti itu.

Lalu, apa itu semacam takdir menjadi seorang homoseks? Yaah.. untuk beberapa case bisa jadi seperti itu. Meski saya bukan orang biologi yang bisa tahu susunan DNA seorang homoseks itu berbeda. Dan saya juga bukan orang psikologi yang bisa mentreat orang homoseks supaya menjadi heteroseks.

Tapi yang saya maksud dari tulisan yang sudah mulai ngladrah ini adalah bahwa saya mendukung Q! Film Festival. No matter orang-orang di luar sana mo bilang apa. Tapi saya yakin festival ini adalah supaya kita menghargai perbedaan2 yang ada di bumi ini dan di negara Indonesia tercinta pada khususnya. Apalagi pesan tentang pencegahan HIV/AIDS juga menjadi topik utama dalam festival ini.

So... Saya tunggu Q! Film Festival ini di Jogja. Setau saya itu tanggal 11-15 Oktober. Duhh.. jadi gak sabar. Tapi tempatnya belum tahu nih.. Kalau teman-teman ada yang tahu infonya, saya dikabar-kabari ya.. Selamat menikmati film-film bertema Queer. *sstt.. saya punya 1 tumpuk dvd film queer as folk nih. cowoknya ganteng2 bo!*
baca selengkapnya......

Selasa, 17 Agustus 2010

Pak Beye, pendapatan per kapita Indonesia naik ya?

Pak Beye, saya mau cerita nih... Kemarin malam, malam tirakatan, dan malam detik2 kemerdekaan. Saya menghabiskan malam dengan nonton TV. Nah, acara yg saya tonton waktu itu adalah Economic Challenges yang dibawakan oleh Pak Suryopratomo dan mendatangkan tamu Menteri Perekonomian, Pak Hatta Radjasa.


Bapak nonton acara itu tidak? Saya rasa sih tidak.. Karena Bapak pasti sedang sibuk tirakatan di Cikeas atau mungkin gladi resik upacara 17 agustus utk besok paginya. Jadi, saya mau bercerita sedikittt saja tentang isi acara tersebut yang menurut saya sedikittt menggelitik.

Secara garis besar, episode Economic Challenges malam itu menarik. Karena isinya sangat positif, dan benar-benar positif. Yaitu mengajak bangsa Indonesia utk optimis. Ya, optimis memandang perkembangan ekonomi di negara kita ini. Wah.. bagus to itu Pak.. Di buku The Secret aja ditulis bahwa pikiran kita ini yang akan mengontrol kehidupan kita. Jadi, kalau pikiran kita udah optimis, maka hasilnya nanti bagus dan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini, yaitu tentang perekonomian Indonesia.

Nah, satu hal yang menggelitik adalah... tentang perkataan Pak Hatta Radjasa yang menyebutkan bahwa pendapatan per kapita negara kita ini naik. Waa.. saya keplok-keplok sendiri, sampe standing applause mendengarnya. Tunggu.... rasanya ada yang ganjil deh Pak..

Okey.. sekarang saya mau berekonometri, meski saya ini lulusan siswa kelas IPA yg nilai ekonominya dulu tidak sebagus nilai matematika. Bermodal tanya2, baik ke teman ataupun ke mbah google, saya mencari rumus menghitung pendapatan per kapita sebuah negara. Nah... cara bodohnya begini.. Wah.. saya kok jadi ngajari Bapak ya.. Bapak pasti kan udh lebih pinter. Ah, saya ngajari temen2 saya yg lain aja deh.. Hehehe..

Begini contohnya... Di rumah saya ada 5 orang penghuni, anggap semuanya berusia produktif, dan gajinya masing2 Rp 200.000. Jadi, kalau ditotal Rp 1.000.000. Bener kan? Nah, tahun ini gaji saya dan gaji adik saya naik masing2 Rp 500.000, jadi dapetnya masing2 Rp 700.000. Bener... Mudeng kan.. Tapi, gaji penghuni rumah yang lain tetap Rp 200.000 loh... Lalu, mari semua gaji kami serumah ditotal. Saya dan adik (2 x @Rp 700.000) + 3 penghuni lain (3 x @Rp 200.000) = Rp 2.000.000.

Jadi.. pendapatan per kapita rumah saya naik kan... Kalau dulu totalnya Rp 1.000.000 : 5 = Rp 200.000. Jadi pendapatan per kapita rumah saya Rp 200.000. Sekarang kalau ditotal Rp 2.000.000 : 5 = Rp 400.000. Maka, pendapatan per kapita rumah saja naik jadi Rp 500.000. Tapi.... bagaimana nasib dengan 3 penghuni lainnya?

Nah... itu Pak yang menggelitik. Gaji pegawai Indonesia naik, tapi... yang gajinya enggak naik, lebih banyak dibandingkan yang gajinya naik. Yang punya gaji, lebih sedikit dibandingkan yang pengangguran. Bahkan, pekerja yang gajinya sampai puluhan juta... sebenernya kalau dibagi ke UMR terendah di Indonesia, bisa dapet berapa pekerja tuh.

Itu Pak... yang menurut saya menggelitik. Sampe saya geli sendiri & mringis, melihat kenyataan negara kita yang sungguh tragis, sampai rasanya mau menangis.

Apalagi, harga2 bahan pokok meningkat. Seperti yang dibilang Pak Hatta Radjasa semalem, bahwa harga bahan pokok memang meningkat, tetapi jangan dibandingkan dengan harga 10 tahun yg lalu. 10 tahun yg lalu pendapatannya berapa? Nah, sekarang pendapatannya berapa? Jelas lebih besar sekarang kan...

Tapi kembali menggelitik nih Pak... kalau setiap kenaikan gaji diimbangi dengan kenaikan bahan pokok, gimana kami bisa hidup sedikit berlebih, paling enggak bisa buat nabung utk anak cucu? Wong duit kami abis buat memenuhi bahan pokok terus tiap tahunnya.

Logikanya begitu kan Pak... Bener kan... Coba deh Bapak jadi saya, pasti mikirnya juga begitu. Yakin deh Pak... Suwer tekewer-kewer.. Tapi jangan ikutin saya di acara Tukar Nasib sama Bapak yaa.. Saya ogah jadi presiden. Bikin pusing & bikin kantung mata saya makin besar nanti. Saya lebih menikmati jadi warga Indonesia biasa aja kok Pak... Yakin deh...

Tapi... wis embuhlah Pak... Suwi2 saya juga mumet melu2 Bapak mikirin negara ini. Jalan keluarnya pun saya juga bingung. Ibaratnya, negara kita ini sudah terlanjur jatuh dalam lubang yang besar dan dalam. Jadi, butuh tali yang panjang & kuat untuk menariknya ke atas. Sebelumnya, maaf lo Pak.. Saya cuma ngeluh tapi enggak ada solusi. Bisanya manusia Indonesia kan ya begini ini to.. Cuma ngeluh, protes, bahkan demo2 enggak jelas yg merugikan diri sendiri dan orang lain. Hehehe..

Saya sendiri sudah cukup bersyukur tinggal di negara yang sudah merdeka secara harafiah. Dan bersyukur saya tidak termasuk dalam kategori usia produktif yang pengangguran. Paling tidak saya punya pendapatan utk memenuhi kebutuhan pokok saya. Lalu untuk anak-anak saya nantinya? Yah.. pikirkan besok sajalah.. Semoga ketika saya besok punya anak, pendapatan per kapita negara ini benar2 naik dalam arti yang sebenarnya. Jadi, saya enggak perlu mikir masalah kesehatan & pendidikan mereka. Karena itu sudah dicover sama negara. Kan, kata Pak Hatta Radjasa, kita harus optimis terhadap perkembangan ekonomi negara kita to... Jadi... mari diamini saja impian saya ini. Amiiinnn......

Kredit foto: http://smcinvestment.files.wordpress.com/2009/08/increase-chart-1.jpg
baca selengkapnya......

Senin, 16 Agustus 2010

Are you proud, being Indonesian?

Indonesia Raya, merdeka-merdeka. Tanahku negriku, yang kucinta. Indonesia Raya, merdeka-merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

Kapan hayo... terakhir kali kalian nyanyiin lagu Indonesia Raya? Dulu pas masih sekolah, atau pas KKN? Kalau saya pribadi, terakhir nyanyi lagu kebangsaan itu kemarin Minggu. Pas lagi kebaktian di gereja. Eh, bener lo ini.. selesai pemberian berkat di awal kebaktian, kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya.


Lalu hari Senin di kantor, mp3 lagu di kantor memutar lagu-lagu kebangsaan. Eh, ternyata lagu-lagu kebangsaan kita bagus-bagus lo.. Jauh lebih bagus dibandingkan lagu-lagu alay yang enggak jelas yg lagi ngehit sekarang ini. He he... Ah, kok saya jadi ngelantur. Saya kan bukan mau bahas itu.

Yang saya mau bahas... How proud are you to be Indonesian? Dalam bahasa Indonesianya, "Seberapa bangganya kamu jadi warga Indonesia?"

Sebelum kalian semua jawab, biar saya yang menjawab dulu ya.. Hhhmm... Kalau saya sih... sejujurnya.. (harus jujur kan?) rasa bangganya 50% saja. Bukannya enggak nasionalis, cuma nih ya.. setiap melihat pemerintahan Indonesia yang kemaruk sama kekayaan, wahhh.. rasanya saya jadi enggak bangga tinggal di Indonesia. Aset bangsa diambil untuk membesarkan keluarganya masing-masing. Bantuan untuk orang-orang miskin tidak disalurkan kepada yang bersangkutan. Bahkan nih... bantuan untuk orang-orang korban bencana, justru nyangkut di gudang orang-orang yg sudah kaya. Kalau begini, bagaimana saya bisa bangga?

Saya punya mimpi nih.. Di usia 80 tahun nanti, negara ini akan jauhhhh lebih baik. Bagi dari sisi pemerintahannya dan juga personil-personil di dalamnya. Tidak ada tuh yang namanya KKN sekian trilyun, seperti yg dilakukan Mas Gayus. Atau sogok menyogok, seperti yg dilakukan Pak Anggodo. Dan tidak ada intrik2 politik seperti yg terjadi pada Pak Antasari. Tapi, bisa enggak ya... Hal itu terwujudkan. Harusnya bisa dong.. kan kita harus optimis. Seperti yang sudah diajarkan sama bapak presiden kita tercinta.

Tapi di balik kekecewaan ini, saya masih ada 50% rasa bangganya kok sama Indonesia. Bangga karena saya tinggal di negara yang begitu kaya. Baik sumber daya alam, budaya, flora fauna, tempat wisata yg jauh lebih eksotis, kerajinan tangan, dan sebagainya. Apalagi setiap nonton acara jalan-jalan di wilayah Indonesia atau menggali eksotisnya kekayaan Indonesia, itu bikin saya bangga jadi warga Indonesia.

Yahhh.... Semoga rasa bangga saya yang cuma 50% ini enggak jadi pudar, tapi meningkat terus hingga 100%. Tentu dengan kesadaran kita semua sebagai warga negara Indonesia & juga aparat2 pemerintahannya. Nah, sekarang bagaimana dengan Anda?

kredit foto: http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/08/bendera-21.jpg
baca selengkapnya......

Pak Beye, saya mau jadi PNS!

Pak Beye, saya mau jadi PNS. Gimana caranya ya?

Saya dengar-dengar, jadi PNS itu enak. Kerjaannya gak jelas, banyak nganggurnya, tapi gaji lancar. Apalagi nih pak... Baru saja Bapak naikin gaji para PNS kan.. Buat golongan terendah yang gajinya cuma 1,89juta sekarang minimal jadi 2jt. Belum lagi kalo ada dinas & pelatihan ke mana2, wah.. makin lancar honorernya. Gmn enggak bikin orang-orang pada ngiler tuh Pak.


Pantesan aja nih ya Pak... Semenjak Bapak jadi Presien RI, predikat PNS jadi naik. Semua orang rasanya pingin banget jadi PNS. Setiap PNS di departemen2 atau di pemda open recruitment, selalu saja peminatnya bejibun buanyakknyaa... Rasanya kok beda ya gaungnya, sama PNS jaman dulu. Lebih heboh sekarang gitu loh... Bener lo Pak, beda banget sama jaman presiden2 sebelum Bapak. Contohnya nih, alm. Pak Soeharto ini yg lebih memperhatikan para petani, karena beliau tahu pertanian merupakan aset bangsa sampai kapanpun juga.

Tapi, kalau di pemerintahan Bapak ini, sepertinya PNS yg merupakan aset bangsa ya.. Sodara-sodara saya yg dulu biasa2 aja dgn pekerjaan PNSnya, skrg jd merasa luarr biasaa. Lalu menyuruh saya dan sodara2 lainnya utk mengikuti jejaknya. Bahkan ada juga teman saya yg dipaksa orangtuanya utk jadi PNS dgn jalur emasnya. Wah, saya jadi penasaran nih Pak.. apa sih hebatnya PNS. Jadi karyawan yang kreatif & pekerja keras, saya rasa enggak tuh...

Lah, gimana enggak coba Pak... Katanya masuk kerja jam 8 pagi, lah saya ke kantor kelurahan, kecamatan, imigrasi, bahkan ke kantor polisi aja... petugasnya belum pada datang. Ada yang baru anterin anaknya sekolahlah, ada yang alasan kejebak macetlah, bahkan ada juga yang alasan bangun kesiangan. Wah, Pak... gimana negara Indonesia bakal maju dong kalau PNSnya begini semua.

Saya tahu.. Bapak naikin gaji PNS itu sebelumnya pasti ada pro kontranya. Yang pro pasti org2 PNS dong. Hehe.. saya tau itu.. Siapa sih yg enggak mau gajinya naik. Tp kontranya, karena kenaikan gaji itu enggak diimbangi dgn kenaikan produktivitas Pak.. Belum lagi nih ya... Bapak tahu sendiri kan.. industri negara kita tercinta ini bakal kena imbas besar-besaran dari China. Heboh lo itu Pak... Bayangin ya Pak... Saya yg kemarin baru saja pulang dr Hong Kong aja beli produk2 China dgn harga jauuuuhhhhhhh lbh murah dibandingkan di sini. Bapak pernah ke Hong Kong kan.. Atau mungkin, Ibu Ani pernah belanja barang2 di sana. Bener kan Pak.. sumpah murah2 abis.

Nah.. hubungannya dgn negara kita tercinta ini. Kan sayang tuh Pak, industri Indonesia ini kalah dr terpaan industri China. Jelas2 Indonesia punya kekayaan yg jauh lebih luar biasa, SDMnya pun buanyakk buangett. Kenapa enggak itu aja yg lebih dipikirkan ya Pak, daripada memikirkan kenaikan gaji PNS.

Kemarin abis sensus penduduk kan Pak... Dan Bapak tahu juga kan, bahwa penduduk kita mencapai 234,5 juta jiwa. Ediannn.. buanyak buanget ya Pak.. Nah, logikanya nih ya Pak.. Berapa jiwa yang berada di usia produktif? Lalu, berapa jiwa yang di usia produktif itu merupakan pengangguran. Nah, kalau pemerintah punya dana untuk dialokasikan kepada peningkatan sektor ekonomi di Indonesia utk mengurangi pengangguran. Wah, pahalanya lebih besar tuh Pak.. Jumlah pengangguran di Indonesia, pasti lebih besar dibanding jumlah PNS kan.. Hehehe..

Jadi, bukannya saya enggak setuju loh Pak.. Karena naik atau stagnya gaji PNS itu enggak ada hubungannya sama saya. Wong, saya bukan PNS dan orangtua saya juga bukan PNS. Cuma saja... ini merupakan sebuah bentuk rasa cinta saya sama Indonesia. Apalagi negara kita ini kan usianya udah 65 tahun. Pinginnya sih Pak, di usia 80 tahun mendatang, negara saya ini bakal menjadi negara yg diperhitungkan oleh negara asing. Baik dalam perekonomiannya, keamanannya, dan juga kekayaannya yang luar biasa. Jadi, anak2 saya besok enggak susah nyari kerja karena disediain lapangan kerja banyak sama negara, enggak susah kalau sakit karena dicover asuransi dari negara, dan enggak susah di hari tuanya karena dipelihara negara. Seperti negara-negara lain itu tuh... Kan saya juga pingin seperti itu...

Sekian saja Pak... Ohya, kalau gaji PNS, TNI, dan POLRI naik 10%. Gaji Bapak pasti juga naik dong brarti. Kan Bapak termasuk TNI ya.. dan Presiden itu termasuk PNS kan Pak. Wah, dobel dong Pak.. Selamat ya Pak.. Jangan lupa, makan-makannya.. Saya diundang open house, ngabuburit di istana ya Pak.. Tapi plus transportasi & akomodasi sekalian. Hehehe..

kredit foto: http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/6/8/8-6-2009-pubseuang.jpg
baca selengkapnya......

Rabu, 11 Agustus 2010

Misteri Kematian

Kematian adalah salah satu bagian dari siklus kehidupan yang tidak terselami. Tidak bisa diterka, ditebak, dianalisis, diterawang, ataupun diramal. Baik itu yang berhubungan dengan kapan kematian datang, bagaimana caranya, dan bagaimana kehidupan setelah kematian. Tidak ada yang bisa membacanya.


Sekalipun itu pemuka agama di mana pun itu. Baik pendeta, pastor, ulama, biksu, atau siapapun. Tidak ada yang bisa menerka apa misteri di balik kematian.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bertemu dengan bidadari. Maka banyak orang-orang yang otaknya sudah dirasuki doktrin itu sehingga rela mati demi membela yang dirasa benar, atau disebut jihad.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bertemu Tuhan. Maka banyak orang-orang yang berdoa ditujukan kepada orang mati itu. Bukan ditujukan kepada Tuhan yang punya kehidupan. Tetapi justru minta kepada orang mati untuk disampaikan ke Tuhan.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bisa bertemu dan bersatu dengan orang yang dicintainya. Maka banyak pasangan-pasangan muda yang hubungannya tidak direstui orang tua, lalu memilih lebih baik bunuh diri supaya nanti di alam baka bisa bersatu dengan pasangannya.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bisa meramal masa depan. Maka banyak orang-orang yang menyembah-nyembah kuburan dan perangkat kematian lainnya, supaya bisa tahu masa depannya itu nanti seperti apa, nomor judi yang besok keluar apa, dan soal ujian yang nanti keluar apa.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bisa menghantui atau menakut-nakuti manusia. Maka banyak orang-orang yang takut datang ke kuburan, dan mengkait-kaitkan setan dengan wajah-wajah orang yang mati.

Mungkin ada banyak lagi yang berkata bahwa kehidupan setelah kematian itu nanti seperti ini atau seperti itu. Tapi, menurut saya sebagai orang yang mengimani Tuhan dan bukan mengimani kematian. Maka, setelah mati itu kita benar-benar gameover. Tidak ada ada yang namanya kehidupan lagi, tidak bisa lagi bertemu dgn siapapun, tidak bernyawa, tidak berpikir, tidak merasa, benar-benar mati dan tidak ada yang menjelma menjadi hantu.

Menurut iman saya, hantu adalah malaikat surga yang berkhianat pada Tuhan lalu dia diusir dari surga. Tapi kekuatannya sama seperti malaikat-malaikat baik lainnya. Jadi, malaikat jahat ini sering menjelma menjadi manusia yang sudah mati atau makhluk yang menyeramkan, supaya manusia nanti takut setengah mati. Sehingga ujung-ujungnya, manusia bukannya menyembah Tuhan melainkan menyembah malaikat jahat atau sering dinamakan setan ini.

Lalu, kapan dong ketemu Tuhannya? Nah, dalam iman saya pula.. Semua ada di hari penghakiman alias hari kiamat. Semua orang mati dan orang hidup akan diadili oleh Tuhan yang Empunya Kerajaan Surga. Semua akan dipilih, siapa orang-orang yang layak untuk hidup bersama Tuhan di Surga. Jadi ketemu Tuhannya itu nanti kalau hari penghakiman alias kiamat.

Jadi... kalau ada orang-orang yang berkata bahwa setelah mati nanti kita bakal bertemu bidadari, kita bakal bertemu Tuhan, kita bakal bertemu dan bersatu dengan yang kita cintai, kita bisa meramal masa depan, atau kita bakal bisa menghantui atau menakut-nakuti manusia. Berarti... orang-orang itu sudah pernah mati.

Kredit foto: http://kelvinphin.files.wordpress.com/2008/05/300px-20000_graveyard.jpg
baca selengkapnya......

Jumat, 30 Juli 2010

Backpacking Seru di Hong Kong

Siapa sih yang menolak jalan-jalan gratis ke Hong Kong? Kalau saya, tentu saja tidak dong… Berbekal keisengan saya, ternyata itu membuahkan hasil yang mengagetkan sekaligus menyenangkan.

Kabar itu saya terima dari Inke Maris, persis 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan saya ke Hong Kong. Ternyata, sayalah yang mendapatkan tiket gratis dari Cita Cinta dan Hong Kong Tourism Board untuk terbang ke Hong Kong plus menginap selama 3 hari 2 malam di sana. Saya juga berhak memilih teman untuk menemani perjalanan saya di sana.

Wah… saat mendengar kabar itu, saya benar-benar shock, senang, excited, dan sedikit deg-degan juga, karena ternyata perjalanan saya ke Hong Kong hanya berdua saja dengan teman saya itu. Yaahh.. seperti backpacking. Berbekal peta Hong Kong, peta MTR, dan semua info tentang Hong Kong, kami berdua siap menjelajah kota yang dijuluki Center of Shopping in Asia itu.

Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta sampai ke Hong Kong International Airport kira-kira membutuhkan waktu 4,5 jam dan perbedaan waktu antara Jakarta dan Hong Kong adalah 1 jam lebih awal di Hong Kong. Kami berangkat pukul 8.30 WIB dan sampai di sana sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Saat itu cuaca di sana tidak begitu panas, sedikit mendung tapi tidak hujan.

Dari bandara hingga ke hotel, kami dijemput oleh bus khusus yang dinamakan Airport Hotelink, yang akan mengantarkan kami serta turis-turis asing lainnya ke hotel masing-masing. Dari bandara, kami harus melewati jembatan yang super panjang dan besar. Kalau di Indonesia, seperti jembatan Suramadu. Hong Kong memang negara berbentuk pulau-pulau kecil, jadi selain dengan kapal fery, pulau satu dengan pulau lainnya dihubungkan pula dengan jembatan yang super besar dan panjang itu.

Perjalanan kami menuju ke kota, dibuat terkagum-kagum oleh kota ini. Semuanya serba rapi dan teratur. Bayangkan saja, kota Hong Kong ini sebenarnya kecil, sumpek, penduduknya padat, dan berisi gedung-gedung tinggi menjulang. Tapi kenyataannya kota ini jauh dari yang namanya macet dan polusi. Saat itu kami hanya memendam pertanyaan besar, kenapa kota ini bisa jauh dari macet ya, padahal penduduknya juga banyak. Yaahh.. kami pasti akan menemukan jawabannya setelah menjalani petualangan kami di sini.

Setibanya di hotel, kembali kami dibuat terkagum-kagum dengan hotel Harbour Grand Hong Kong yang sangat bagus. Kami akan menginap di hotel ini, tepatnya di lantai 22, dan di kamar dengan pemandangan yang keren. Untung saja, kami bukan wanita yang phobia ketinggian, jadi pemandangan jalan-jalan, gedung-gedung, dan pelabuhan dengan kapal-kapal fery-nya, justru membuat kami betah duduk-duduk di pinggir jendela sambil memandangi kota ini.

Yaps, malam pertama di kota ini sudah tiba. Saatnya untuk menjelajahi kehidupan penduduk di kota ini. Tujuan kami saat itu adalah berjalan-jalan ke Victoria Park, sebuah taman yang berisi banyak public facility, seperti lapangan basket, lapangan futsal, kolam renang, gym, perpustakaan, dan lain sebagainya. Semuanya tertata rapi, bersih, dan nyaman. Wah, seandainya saja di Indonesia ada fasilitas publik yang seindah dan sebersih Victoria Park, dijamin deh kita pasti bakal betah untuk berlama-lama di sana. Selain asyik menikmati suasananya, badan kita juga bakal segar dan sehat karena berolah raga di situ lebih nyaman.

Selain ke Victoria Park, kami juga berjalan-jalan menyusuri setiap jalan-jalan sempit di kota ini. Kami menemukan toko seperti mall tetapi kecil, yang bernama Fashion Tin Hau Shopping. Tempat ini berisi toko-toko kecil menjual aneka fashion dan pernak-pernik lucu, ada juga salon, tempat massage, serta satu lagi yang membuat kami kaget, yaitu kantor penyalur TKW Indonesia. Bayangkan saja, di jendela kaca kantor itu ditempel poster besar yang menuliskan CV dan foto para TKW Indonesia yang siap bekerja di Hong Kong. Kebanyakan dari mereka berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Keahlian mereka pun beragam, yang pasti semuanya layak untuk dihargai.

Saking banyaknya TKW Indonesia di negara ini, kami juga menemukan kantor salah satu bank swasta Indonesia di sini. Ada juga mobil kargo khusus yang akan mengantarkan barang-barang dari Hong Kong ke Indonesia. Selain itu dijual juga kartu operator seluler khusus yang mempermudah hubungan telekomunikasi dengan keluarga di Indonesia, tentu dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan operator seluler biasa.


Lelah berjalan-jalan, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Tapi, sepertinya niat kami ini belum direstui Tuhan. Bayangkan saja, akibat terlalu menikmati perjalanan dan pemandangan kota ini, sekarang kami bena
r-benar lupa jalan kembali ke hotel. Rasanya setiap gedung sama saja, setiap sudut perempatan kota ini juga serupa.

Kami lalu bertanya kepada salah satu pejalan kaki yang untungnya dia bisa sedikit berbahasa Inggris, tetapi dia hanya menjawab, “Oohh.. Harbour Grand is so far from here. In there…” ujarnya sambil menunjukkan arah. Lalu dia pun berlalu pergi menyebrang jalan dengan langkah yang seperti terburu-buru.

Kami kembali membuka peta kota Hong Kong ini dan mencoba mencari-cari, sebenarnya kami ini s
ekarang ada di mana sih. Seperti yang sering dibilang kaum pria, bahwa navigasi wanita itu buruk, dan itu benar-benar terbukti, karena kami benar-benar tidak tahu arah sekarang. Utara, Timur, Barat, Selatan pun kami tidak tahu.

Saking letihnya berjalan kaki, kami lalu memutuskan untuk menyerah dan naik taksi. Kami percaya, kalau naik taksi pasti supirnya tahu letak hotel kami tersebut. Tapi ternyata harapan kami itu salah besar. Ketika kami berkata, “We will go to Harbour Grand Hong Kong Hotel.” Bapak supir taksi itu justru berkata, “Hah?? This is Hong Kong.”

Alamakkk… Ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris dan dia tidak tahu di mana itu hotel Harbour Grand Hong Kong. Akhirnya teman saya berkata, “Oke, stop us in Victoria Park.” Pastilah dia tahu di mana itu dan seharusnya letak Victoria Park tidak jauh dari hotel kami.

Yah.. akhirnya kami diturunkan di Victoria Park. Dari situ kami kembali mempelajari peta dan akhirnya, kami tiba di hotel dengan selamat tepat di tengah malam. Wahh.. sungguh pengalaman yang melelahkan, sekaligus menyenangkan. Kesasar di negeri orang yang kita tidak bisa bahasanya.

Esok paginya, kami kembali merancang rute perjalanan ka
mi hari itu. “Hari ini pokoknya kita harus sampai ke Disneyland,” ujar saya. Yah.. sambil makan pagi di hotel, kami benar-benar mempelajari peta MTR dan mencatat rutenya di selembar kertas.


MTR adalah subway atau kereta bawah tanah yang bisa m
engantarkan kami ke mana saja, termasuk ke Disneyland. Di sini, tiket naik MTR adalah dengan menggesekkan Octopus Card ke pintu masuk. Kartu ajaib seharga 150 HKD ini tidak hanya bisa mengantarkan kami menaiki MTR, tetapi juga trem, bus, bahkan membeli minuman di mesin penjual minuman, membayar belanjaan di beberapa supermarket, dan juga di toko-toko lain. Lalu, jika nanti deposit isinya sudah habis kita bisa mengisi ulangnya lagi. Benar-benar praktis.

Octopus Card bisa dibeli di bandara dan juga di beberapa stasiun pemberhentian. Saat itu saya membeli Octopus Card seharga 150 HKD di Causeway Bay Station. Ketika teman saya mau membelinya juga, dia belajar dari orang yang mengantri di depannya. Ternyata Hong Kong memfasilitasi orang-orang yang mau berwisata dengan MTR selama sehari. Dengan cukup membeli tiket yang bernama Tourist Day Pass seharga 50 HKD, kita bisa pergi berwisata ke mana saja hanya dalam waktu satu hari. Ditambah lagi ada diskon-diskon khusus untuk membeli tiket masuk ke tempat wisata itu. Wah, pokoknya komplit deh. Beli satu kartu, ada kartu-kartu diskon lain di dalamnya.

Perjalanan dengan MTR seperti menyusuri lorong labirin dan kita harus mencari jalan keluarnya. Mungkin karena baru pertama kali, kali ini kami salah naik MTR yang salah jurusan. Untungnya hanya sekali saja kami salah naik, karena selanjutnya kami bertemu dengan seorang TKW yang dengan baik hati memberi tahu kami jurusan MTR yang benar.

Di Sunny Bay Station, saatnya kami pindah MTR lagi mencari MTR khusus yang akan mengantarkan kami ke Disneyland. Wah, bertambah lagi kekaguman kami terhadap MTR khusus ini. Jendela-jendela dan pegangan tangannya, semua berbentuk kepala Mickey Mouse, ditambah lagi di beberapa sudut ada patung tokoh-tokoh Disney. Semakin menambah atmosfer Disney yang menyenangkan.


Akhirnya impian yang saya tuliskan di kuis Cita Cinta, yaitu jalan-jalan ke Disneyland, kesampaian juga. Kami tiba di Disneyland dengan selamat alias tidak nyasar-nyasar. Dengan membeli tiket seharga 350 HKD untuk adult, kami bebas menaiki, menonton, dan menikmati semua permainan dan atraksi di sini. Oh ya, teman saya yang membeli tiket MTR khusus Tourist Day Pass mendapat diskon sebesar 30 HKD untuk membeli tiket masuk Disneyland. Hmm… lumayan kan. Bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang mau berwisata di Hong Kong, karena lebih baik membeli tiket khusus itu saja dibandingkan Octopus Card.

Sekarang kami sudah di dalam Disneyland. Ya ampun, menyenangkan sekali di sini. Serasa kembali ke masa anak-anak dulu, tetapi semuanya benar-benar mengagumkan. Tokoh-tokoh Disney yang selalu hidup sepanjang jaman itu bergaya dan beratraksi menarik, membuat kami dan para pengunjung lainnya rela antri panjang hanya untuk menikmati permainannya.


Akhirnya, petualangan kami seharian di Disneyland harus berakhir. Kami masih harus melalui perjalanan melalui MTR untuk kembali ke hotel. Saking letihnya, kami memutuskan untuk membeli makan malam take away. Gara-gara makan siang di Disneyland dengan menu yang mahal, yaitu 70 HKD untuk 1 porsi saja yang itu sangat besar dan menurut kami sangat tidak enak. Jadi ini membuat kami ingin menikmati menu yang pasti-pasti saja, apalagi kalau bukan McDonald. Di sini McDonald benar-benar sangat murah, jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Cara makan kentangnya pun berbeda, karena kita akan diberi sebuah kantung besar dan satu sachet bumbu rasa rumput laut untuk nanti dicampur dan dikocok dengan kentang di dalam kantung tersebut.

Fiuuhh… Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir kami di Hong Kong. Belum puas rasanya, karena belum semua tempat menarik kami kunjungi. Tapi, kami bertekad suatu hari nanti kami pasti akan kembali ke negara ini untuk menikmati wisata menarik di sini.

Jadi di hari terakhir ini kami memutuskan untuk berbelanja. Ke Hong Kong kalau enggak belanja rasanya rugi. Benar kalau negara ini disebut Center of Shopping in Asia, karena harga barang-barang di sini memang lebih murah dibandingkan di Indonesia. Kami menemukan toko serba 2 HKD dan toko baju yang harganya 10 HKD.

Setelah berbelanja di sekitar jalan-jalan itu, kami masih belum puas, sehingga membuat saya bertanya pada salah satu TKW yang kami temui. “Mbak, tempat yang jual baju-baju khas Hong Kong di mana ya?”

Beruntung sekali, kami kembali bertemu dengan TKW yang baik hati mengantarkan kami ke sana. Di tempat yang dinamakan North Point Market itulah, kami benar-benar kalap berbelanja. Tempat itu begitu ramai penjual dan pembelinya. Harga-harganya pun benar-benar murah. Bayangkan saja, tas yang jika saya beli di Indonesia seharga 100.000 IDR, di sana saya bisa membelinya seharga 50 HKD atau 60.000 IDR.

Satu hal unik di tempat ini yang saya temukan saat saya bertanya kepada penjual, “how much it is?” Dia pun menjawab dengan bahasa cantonese yang tidak kami mengerti. Lalu, ketika saya mengernyitkan dahi dan berkata, “sorry….” Dia pun berkata, “suwidak songo.” (bahasa jawa: enam puluh sembilan). Wuaa… ternyata mereka bisa bahasa jawa. Tapi jangan salah, mereka hanya hafal pengucapan harga-harga saja dalam bahasa jawa.

Seperti salah satu stand juga yang penjualnya berteriak-teriak, “Telung puluh. Telung puluh!” (bahasa jawa: tiga puluh). Artinya, barang yang mereka jual seharga 30 HKD. Hhmm.. sepertinya mereka belajar bahasa jawa karena pasar ini rata-rata penjualnya adalah TKW dari Indonesia. Jadi, sebagai penjual mereka harus sedikit belajar bahasa akrabnya pembeli dong..

Lelah berbelanja, kini saatnya kami kembali ke hotel untuk check out. Sudah cukup belanjaan kami, karena hanya dalam waktu 4 jam saja, koper kami sudah beranak satu. Dalam perjalanan menuju ke hotel, kami sempatkan untuk menikmati detik-detik terakhir petualangan singkat kami di kota ini.

Kini kami menemukan jawaban mengapa kota ini padat tapi tidak pernah macet, yaitu karena kami tidak menemukan motor dan perumahan penduduk di sini. Semua gedung-gedung tinggi berisi toko-toko di lantai bawah dan apartemen di lantai atas. Penduduk di sini hanya sedikit yang punya mobil, meski harga mobilnya murah, tetapi harga sewa parkirnya sangat mahal. Bayangkan saja, mereka harus mengeluarkan 12 HKD per jam, atau 70 HKD per hari, atau 2000 HKD per bulan untuk menitipkan mobilnya di lahan parkir. Ini membuat mereka lebih memilih naik transportasi umum untuk bepergian.

Lagipula, semua transportasi umum di sini terawat dengan bersih dan rapi. Serta pejalan kaki di sini benar-benar dihargai. Bahkan meskipun itu hanya satu orang menyebrang jalan di zebra cross, semua kendaraan, dari mobil, trem, taxi, sampai bus, berhenti semua. Tidak ada pemandangan motor yang naik ke trotoar karena macet dan mengklaksoni pejalan kaki di trotoar, seperti yang sering kita alami di Indonesia.


Wah, Indonesia benar-benar harus belajar dari kota ini deh.. Baik penataan kotanya, lalu lintas, fasilitas umum, transportasi umum, dan juga kesadaran penduduknya untuk saling menghargai pejalan kaki dan merawat semua sarana umum.

Perjalanan singkat ini benar-benar seru dan menyenangkan. Terima kasih untuk Cita Cinta, Hong Kong Tourism Board, dan Inke Maris yang sudah kasih kesempatan kami untuk jalan-jalan ke negara ini. Untuk pertama kalinya kami backpacking ke Hong Kong dan pertama kalinya kami kesasar di negeri orang yang bahasa daerahnya tidak kami pahami. Masih kurang sebenarnya, tapi suatu saat kami pasti kami akan mengunjungi negara ini untuk membayar utang jalan-jalan kami ke tempat yang belum sempat dikunjungi.

So, Hong Kong… See you soon..
baca selengkapnya......

Senin, 24 Mei 2010

Apa sih Fungsi Facebook dan Twitter?

Bagi kalian, apa sih fungsi Facebook, Twitter, dan situs jejaring sosial lainnya? Cari teman lama mungkin. Cari pacar bisa jadi. Cari koneksi kerja yang saling menguntungkan, boleh juga. Atau yang lainnya. Sah-sah saja kok. Tidak ada yang salah. Asalkan tidak dipakai untuk menculik orang yaa… Seperti yang kemarin heboh diberitakan itu. :)


Bagi saya pribadi, salah satu fungsi Facebook dan Twitter adalah sebagai e-book motivation. Saya enggak perlu susah-susah beli buku motivasi atau langganan sms motivasi dari Andrie Wongso atau Mario Teguh. Tetapi, dengan rutin membaca status, postingan note dari teman-teman di Facebook atau Twitter, itu bisa memberi motivasi pada saya dalam menjalani hari-hari.

Mungkin teman-teman ada yang tidak merasakan bahwa ternyata status kalian bisa mencharge hidup saya. Meski saya jarang memberi komentar, tidak menyumbang jempol saya, atau tidak meretweet status kalian. Tapi, setidaknya saya semakin bersemangat menjalani hari demi hari kehidupan saya.
Status tentang sapaan atau senyuman, bisa membuat saya bersemangat menjalani hari demi hari. Status kalimat-kalimat motivasi yang mengutip dari siapapun itu, bisa membuat saya belajar akan sesuatu. Status tentang update’an kegiatan ketika bekerja bisa membuat saya semakin semangat bekerja dan mencapai prestasi kerja yang secemerlang teman-teman saya. Dan masih banyak yang lainnya lagi.

Tapi, semakin hari dan semakin dekatnya saya dengan jejaring sosial ini, saya merasakan ada yang ganjil di beberapa status teman-teman saya. Sampai rasanya saya ingin menghapusnya dari friend list saya. Bagaimana tidak, statusnya selalu berisi keluhan, makian, stressfull, atau apapun itu yang negatif. BBnya penuh dengan spam, ngeluh. Kalungnya hilang, ngeluh. Berangkat kantor kena macet, marah2. Temen kantor atau pacar menyebalkan, teriak aarrgghhh. Dan masih sangat banyak lagi.

Kesannya kok hari-harinya dia penuh dengan hal-hal negatif yaa.. Kalau emang begitu, kasian amat hidupnya yaa. Hidup cuma sekali kok isinya nyebelin terus. Hehe…

Saya juga pernah kok, memasang status negatif, berisi keputusasaan, kejengkelan, dll. Tapi tidak setiap hari, dan bahkan tidak sehari 3x. Bagi saya, ini adalah masalah saya, emangnya kalian yang baca bisa bantu apa? Paling banter, cuma komentar support doang aja kan.. Memang sii.. itu membantu, meski tidak lantas membuat masalah saya selesai. Tapi, kalau setiap hari saya mengeluhkan hidup saya via Facebook atau Twitter, apa kalian juga akan selalu membantu saya setiap saat? Kalian kan juga punya masalah sendiri2 dalam hidup kalian. Jadi, kalian selesaikan masalah kalian dan saya akan menyelesaikan masalah saya. Oke kan tuh.. ;)

Sebenernya sah-sah aja sii kalau pingin curhat dan sedikit curcol via Facebook atau Twitter tentang hal-hal yang menyebalkan. Sama sekali enggak salah. Tapi... akan menjadi mengganggu ketika selama satu hari itu, rajin banget update status yang isinya negatif terus. Dan akan benar-benar mengganggu mata yang membaca ketika setiap hari, statusnya keputusasaan dan makian. Wuahhh.. jadi bukannya jadi kasian tapi sebel sendiri bacanya. Hehe..

Hidup ini adalah bagaimana kita memandang setiap peristiwa yang terjadi pada diri kita. Semua peristiwa yang mungkin awalnya menyebalkan, bisa akan menyenangkan adalah tergantung bagaimana kita memandangnya. Kalau kita dari awal udah mengeluarkan kata-kata “siyal”, “bête”, “aarrgghh”, “munyuk”, “anjrit”, bajigur”, “asyem”, dan kawan-kawannya. Hukum tarik menarik itu berjalan, dan artinya… Hidup kalian hari itu akan selalu “siyal”, “bête”, “aarrgghh”, “munyuk”, dan seterusnya. Percaya gak? Buktikan aja... ;)

Kalian mau, hidupnya akan mengalami hal-hal menyebalkan itu? Tentunya enggak kan.. Jadi, yukkksss mulai dari memasang status Facebook dan Twitter yang menyenangkan. Misalnya, “Syukurlah… kalungku hilang, itu artinya Tuhan akan kasih aku kalung yang lebih bagus lagi”, “Puji Tuhan, hari ini banku bocor, artinya kalori dalam tubuhku terbakar dan itung2 olahraga deh.”, “Macet nii.. Tapi, jadi bisa dengerin talkshow di radio kesayangan lebih lama dong..”, "Alhamdullilah, kerjaanku banyak buaanggetttt.. At least aku masih kerja dan gak nganggur." Atau masih banyak lainnya lagi.

Dengan begitu, Facebook dan Twitter kalian benar-benar bisa jadi berkat buat orang lain kan.. Dan, bisa jadi e-book motivasi buat friend dan followers kalian. Akan lebih menyenangkan bukan.. Saya senang bacanya, dan kalian yang awalnya bête pasti akan berubah jadi senang. Yakin deh!!! Karena hukum tarik menarik itu berlaku, begitu juga di dunia Facebook dan Twitter. :)

Jadi... intinya adalah Positive thinking and positive writing. Yukkk ahhh...
baca selengkapnya......