Minggu, 03 April 2011

Internet Semakin Handy, Membantu Wanita Berkarya

Pada tahun 1998, jumlah pengguna internet di Indonesia hanya 1,5 juta orang. Tapi saat ini, pengguna internet telah melesat tinggi, hingga mencapai angka 45 juta orang, jauh melebihi jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Saat ini, informasi memang milik siapa saja, tanpa mengenal tingkat pendidikan, jenjang karir, suku, agama, atau bahkan gender. Ya, informasi dan kebebasan mengaksesnya adalah juga kaum wanita. Sama sekali berbeda jauh dengan dulu, yang hanya dikuasai dan didominasi oleh pria.


Mari coba tengok tas wanita. Selain ditemukan dompet cantik dan aneka kosmetik, pasti akan ditemukan smartphone atau paling tidak handphone dengan kemampuan internet yang canggih. Coba juga cari beberapa toko online di Indonesia, rata-rata pengelolanya pun juga wanita. Lalu, banyak juga tulisan para wanita yang digores dan dipublikasikan melalui media blog, ternyata mampu menginspirasi banyak orang di dunia.

Cukuplah untuk membuat kesimpulan bahwa saat ini bukanlah era wanita yang gaptek (gagap teknologi), melainkan high-tech. Saat ini, teknologi telah dikemas dengan sangat simpel, praktis, dan handy untuk dibawa ke mana-mana. Teknologi tidak hanya didominasi oleh para pria di ruang kerjanya, melainkan juga oleh wanita dimana pun berada, sekalipun itu di rumah dan di dapurnya.

Dengan internet, surga dunia seakan berada dalam telapak tangan wanita. Di mana pun, kapan pun, informasi dengan mudah didapat, dan transaksi dengan cepat diselesaikan. Wanita jadi bisa bersinar dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, berkat bantuan internet. Jika dulu wanita yang mengetahui atau mendapat informasi melebihi pria, maka wanita itu akan dicibir dan dianggap tidak mengerti kodratnya untuk diam di rumah mengurus anak dan suami saja. Tapi saat ini, teknologi internet membukakan jendela mata siapa saja, termasuk wanita.

Wanita yang memilih untuk di rumah, ternyata tetap bisa berkarya dan bekerja berkat teknologi internet. Wanita bisa bekerja di sela-sela aktivitasnya di rumah, seperti berjualan aneka produk via internet, mengembangkan jaringan bisnis kecilnya melalui internet, atau menjalin komunikasi dengan beberapa orang dalam rangka pengembangan bisnis kecilnya, yang semata-mata untuk kepentingan keluarga.

Wanita yang dulu diharuskan diam dan nurut apa kata suami, sekarang bebas menuturkan pandangannya terhadap dunia melalui internet. Wanita bebas menulis pendapatnya dan mengunggahnya melalui blog atau jejaring sosial. Wanita pun bisa menginspirasi orang-orang, berkat tulisan-tulisannya serta karyanya yang membangkitkan semangat.

Ya, kehadiran internet ternyata semakin menyempurnakan emansipasi wanita yang sudah lama digaungkan. Kalau dulu, tuntutan wanita adalah mendapat pendidikan yang sama dengan pria. Sekarang, wanita pun sudah mendapatkan akses informasi yang sama dengan pria juga. Serta kebebasan mengungkapkan pendapat yang dulu hanya didominasi pria.

Kehadiran internet memang mempermudah wanita untuk tetap berkarya di tengah-tengah kesibukannya, baik bekerja, ataupun mengurus rumah, anak, dan suami. Otak wanita memang hebat, karena memiliki banyak partisi sehingga bisa memikirkan dan mengerjakan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan. Dan semuanya itu, dipermudah berkat bantuan teknologi internet.

sumber foto: http://a-proper-blog.blogspot.com/2010/12/escapism-short-story.html
baca selengkapnya......

Senin, 21 Februari 2011

Positive Social Networking


Gabung di social networking itu sama seperti kalian ikutan ajang pencarian bakat. Kalau di social networking, setiap kalian pasang status, kalian harus siap untuk dikomentari teman-teman kalian, baik itu negatif ataupun positif. Sedangkan kalau di ajang pencarian bakat, setiap kalian menunjukkan bakat kalian, kalian pun harus siap juga untuk dikomentari juri-juri, baik itu negatif ataupun positif. Kalau kalian belum siap untuk dikomentari, lebih baik putuskan saja tidak usah bergabung di social networking ataupun ajang pencarian bakat. Lebih baik, tulis semua uneg-uneg di buku harian dan kunci rapat-rapat. Atau nyanyi teriak-teriak saja di kamar mandi, tanpa didengar oleh produser musik.


Jumlah pengguna internet di Indonesia ini sudah melebih jumlah rakyat miskin di negara ini. Dan coba saja dihitung, pasti rata-rata mereka bergabung di social nerworking. Bisa saja Facebook, Youtube, Foursquare, dan yang lagi marak… Twitter. Bagi kita, termasuk saya.. mungkin social networking ini sangat membantu, mengusir sepi dan kebosanan, mencari teman lama, promosi, pekerjaan, dan buku harian.

Ya, saya katakan buku harian. Buku harian yang kedekatannya melebihi kita dengan orangtua, apalagi dengan Tuhan. Bagaimana tidak, kalau setiap aktivitas kita dilaporkan via social networking tersebut. Setiap emosi kita, senang atau sedih, jengkel atau marah, selalu diungkapkan di situ. Padahal kalau di rumah, kita selalu menutup hati dan mulut untuk bercerita pada makhluk hidup yang lebih dekat, dengan dalih, “mereka tidak bisa mendengarkan saya, karena selalu membantah.” Padahal kenyataannya, dengan Tuhan yang tidak mungkin akan membantah pun, kita tidak pernah update status ke Dia. Dalam seminggu, puluhan status terunggah, sedangkan curhatan batin kita melalui doa pada Tuhan, tersangkut di tenggorokan.

Saya menulis ini, bukan karena saya anti social networking. Sesungguhnya, saya ini juga social networking addict. Tetapi, semakin bertambahnya tahun & menjamurnya social networking, saya melihat “penyimpangan” yang bikin saya gemes. Rasanya, cenat cenut tiap baca timeline di social networking saya.

Jujur saja, akhir-akhir ini saya sebal dengan timeline yang dikotori oleh status dan kicauan yang kotor. Makian, marah, keluhan, kalimat-kalimat yang hiperbola alias lebay, kalimat dengan tanda seru banyak yang saya intepretasikan marah-marah, uneg-uneg yang lama-lama bikin eneg, dan sebagainya.

Okey, mungkin bagi sebagian dari kita ada yang merasa bahwa, “Ini akun gue, suka-suka gue dong mau ngapa-ngapain. ”

Dalam hati saya, “Kalo begitu, suka-suka gue juga dong.. Mau nge-block atau unfollow akun lu. Asalkan syaratnya pertemanan kita tetap berlanjut di dunia nyata.”

Yaa.. Saya hanya berusaha mengajak teman-teman untuk menjadi orang yang positif, di mana pun kita berada. Baik di kantor, di kampus, dan juga di social networking. Ingat, akun kita ini merupakan cermin pribadi kita.. Dan bisa jadi headhunter ada di mana-mana dan sedang mengincar pribadi-pribadi yang positif untuk kesempatan emas lebih bisa maju lagi dalam kehidupan. Jadi, lebih baik berhati-hatilah dalam memasang status dan kicauan.

Saya tidak melarang mereka untuk mengeluh, marah-marah, ataupun makian. Tapi… ketika itu diungkapkan berkali-kali, setiap hari, setiap detik, setiap waktu. Sungguh, saya semakin kasihan pada mereka. Di situ marah, di sini marah, begini marah, begitu marah. Itu artinya bukan orang lain atau situasi yang salah, tetapi pribadi mereka yang bermasalah.

Dan yang terakhir adalah, social networking ini sifatnya tertulis. Mudah sekali terjadi kesalahpahaman. Salah-salah, bisa jadi kehilangan teman. Jadi, lebih baik berhati-hatilah dalam menulis status atau memasang komentar. Masih mending kalau pertengkaran yang terjadi, nah.. kalau dipecat dari pekerjaan, dikeluarkan dari sekolah, dihujat orang-orang setanah air? Sudah banyak contoh terjadi, bukan? Semoga tidak pernah terjadi pada saya ataupun kalian ya..

Jadi, mari kita berjejaring sosial dengan positif yang membangun dan menghibur, dan bukan yang justru membuat dahi cenat-cenut karena uneg-uneg yang lama-lama bikin eneg.

baca selengkapnya......

Kamis, 13 Januari 2011

Siapkah Musik Indonesia di-Sm*sh?

“You know me so well… I know you so well.. Girl I need you, girl I want you..”

Yuk, ngacung siapa yang belum pernah denger lagu itu? Hhmm.. jujur saja saya baru denger lagu itu juga 10 jam yang lalu, ketika teman saya bilang, “cari di You Tube dong..” Hihihihi.. tiba-tiba saja saya jadi merasa udik dan baru mengenal You Tube.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk browse video clip lagu ini, mulai dari parodinya sampai penyanyi aslinya. Kalau saya, yang dicari pertama tentu penyanyi aslinya dong… Penasaran, sebagaimana bikin cenat-cenut sih penampilannya.


Saya penyuka drama Korea, Taiwan, dan Jepang. Meski tidak mengikuti secara detil setiap film-film mereka dikarenakan kesibukan yang menyita waktu (halah!), tapi saya lebih suka drama mereka daripada sinetron Indonesia yang justru bikin stres. Kesukaan saya pada karya mereka tentu membuat pengetahuan saya tentang tren di sana juga bertambah. Saya mengenal tokoh-tokoh BBF – Boys Before Flower, yang 2 tahun yang lalu sangat digandrungi anak remaja. Saya mengenal keimutan aktris drama, Kim Bum yang juga digandrungi bahkan oleh teman saya sendiri ini. Dan saya juga mengenal boy band terkenal dari Korea bernama Super Junior. Ini dia mereka:



So, apa hubungannya semua ini dengan boyband yang saya maksud tadi?

Menurut saya, boyband yang menyanyikan “you know me so well” dengan judul lagu aslinya adalah “heart you” itu, mengadopsi tren Korea, Taiwan, dan Jepang. Khususnya mengadopsi boyband ternama dari Korea, yaitu Super Junior. Bedanya, gaji Super Junior pasti lebih sedikit karena personilnya ada 12! Sepertinya itu boyband dengan personil terbanyak yang saya tahu.

Adakah yang salah dengan boyband negara kita ini yang mengikuti gaya negara lain? Tidak ada sama sekali, menurut saya.

Di bawah matahari tidak ada sesuatu yang orisinil. Begitu pula dengan musik. Sekeren-kerennya Lady Gaga, musik & penampilannya pasti terinspirasi dari orang lain. Sejago-jagonya Michael Jackson nge-dance, gayanya juga merupakan perpaduan dari tokoh-tokoh yang menginspirasinya. Toh nyatanya, penampilan mereka diterima dengan sangat baik di dunia.

Dalam penganugerahan award musik terhadap musisi tanah air, kalimat yang sering disebut adalah, “artis A telah mewarnai blantika musik Indonesia.” Apa artinya mewarnai? Mewarnai bukan semata-mata sukses & meraup penjualan keping CD terbanyak. Mewarnai adalah memberikan warna yang berbeda-beda. Bisa merah, biru, kuning, hijau, dan sebagainya.

Begitu pula dengan boyband ini. Mereka pun ingin mewarnai blantika musik Indonesia dengan genre lagunya sendiri. Kalau diterima oleh masyarakat, syukur alhamdullilah, lanjut ke album kedua. Kalau tidak diterima, ya sudah. Mungkin pendengar musik Indonesia lebih suka lagu-lagu melayu dibanding lagu nge-beat & penuh dance.


Saya menebak, begitulah jalan pikir produser mereka. Membuat sebuah tren musik baru di Indonesia, yang sudah terlalu banyak diwarnai lagu-lagu metal (melayu total). Syukur-syukur diterima, kalau tidak ya sudah… Mungkin segmen penikmat musik Indonesia sekarang memang anti boyband.

Namun, tidak bijak kalau boyband ini dicaci dan dihina sebagai perusak budaya bangsa. Video klip mereka baik-baik saja. Enggak bikin cenat-cenut, enggak ada adegan syur, enggak ada kata-kata kasar (seperti baj*ngan), enggak ada kata-kata yang berbau SARA dan menjelek-jelekan pihak lain. So far, baik-baik saja. Justru lagu yang penuh beat ini bagus untuk memicu semangat anak muda Indonesia yang terlalu sering dicekoki lagu-lagu mellow abis.

Indonesia adalah negara yang belum siap akan perubahan. Perubahan apapun dari berbagai segi kehidupan. Perubahan harga bahan pokok, bukannya diantisipasi dengan mencari ide untuk meningkatkan penghasilan, tetapi malah dikeluhkan. Perubahan harga bahan bakar minyak, bukannya diantisipasi dengan menghemat energi, malah didemo yang menghabiskan energi & tenaga.

Ya, sama dengan perubahan dengan kedatangan boyband baru ini. Bukannya diapresiasi dengan baik justru dimaki-maki, “norak”, “alay”, “banci”, dan sebagainya.

Yuk, mari diingat-ingat ketika negara ini kedatangan band baru dengan aliran melayu total. Diterimakah mereka? Tidak.. Sony Music sebagai produser mereka dicela karena mau mengorbitkan mereka. Ketika mereka manggung, bukan teriakan kagum yang diucapkan, tetapi sumpah serapah & sampah yang dilempar. Bahkan mirisnya, band senior lain malah bikin lagu yang menjelek-jelekkan mereka. Dan alasan mereka yang “rese” ini adalah karena band itu merusak warna musik Indonesia. Padahal menurut saya, mereka takut kesaingi.

Now, let see… 80% band di Indonesia alirannya melayu total, mengikuti genre musik yang pertama kali dibawakan oleh band melayu tersebut. Itu artinya, mereka sukses, mereka berhasil menjadi trendsetter terhadap selera musik Indonesia.

Nah, tren itu berputar. Sekarang produser musik ingin membawa tren musik ke arah boyband. Salahkan? Tidak sama sekali. Bisa jadi, mereka akan mengikuti jejak band metal tersebut yang berhasil membawa tren musik metal di tanah air.

Kalau kita tidak mau terbawa tren tersebut, just don’t listen their performance in everywhere, and don’t mocked at them. Bayangkan kalau itu band kalian. Bayangkan kalau itu keluarga kalian yang punya talenta di music & dance, serta sedang mati-matian meniti karir di industri entertainment.

Saya bukan penggemar boyband ini atau penggemar Super Junior. Saya hanya menikmati semua genre musik selama lagu itu berlirik bagus & easy listening. No matter what the singer.

If you don’t like them, just don’t see their performance, don’t listen their song, and keep silent. As simple as that.


baca selengkapnya......

Kamis, 25 November 2010

Guru Tanpa Tanda Jasa, Masih Adakah?

Tanggal 25 November 2010 kemarin adalah hari guru. Saya jadi berpikir, kenapa ada hari guru ya? Seberapa hebatnya mereka sehingga bisa sampai dijadikan hari istimewa? Kenyataannya guru zaman sekarang, menurut saya, tidak sehebat guru zaman dulu, yang benar-benar pantas diberi predikat pahlawan tanpa tanda jasa. Karena mereka dulu benar2 tidak diberi jasa yang "layak" atau bahkan tanpa jasa sama sekali.

Saya lantas melontarkan pendapat2 saya di twitter. Yang sebenarnya ingin "menyenggol" profesionalitas seorang guru. Meski hanya suara kecil, tapi bukankah saya juga warga negara indonesia yang punya hak untuk bersuara?

Tanpa disangka, twit saya itu ditanggapi oleh teman saya yang orangtuanya seorang guru. Kira-kira, begini bunyinya, “Kalau tanpa pamrih, gmn ortuku kasih makan ke kami anak2nya?”

Menarik! Ya, bekerja tanpa pamrih. Hari gini? Ada yang mau bekerja tanpa pamrih? Tanpa digaji? Zaman dulu bisa, karena kebutuhan dulu hanya masalah perut. Kalau sekarang? Pangan, papan, sandang, dan sebagainya. Bahkan handphone sekarang pun seakan-akan jadi kebutuhan primer.

Kembali ke mengapa ada hari guru? Mengapa tidak ada hari editor? *secara,profesi saya editor :p* Atau, mengapa tidak ada Hari Petani? Padahal mereka juga sangat berjasa mengisi perut-perut kita yg kelaparan.

Menurut analisis saya, itu karena guru dianggap hebat (pada zaman itu). Guru benar-benar bekerja keras mengeluarkan Indonesia dari belenggu penjajah dengan pendidikan. Bahkan banyak guru juga yang tidak digaji, salah satunya eyang kakung saya. Beliau menghidupi 9 anaknya, dengan warung yang dikelola eyang putri saya dan juga sawah yang menghasilkan. Tapi semangat guru-guru zaman dulu benar-benar hebat! Bersepeda ke sekolah. Kalau hujan, sampai di sekolah dengan kaki berlumpur. Belum lagi kelas yang terbatas sehingga membuat guru-guru itu harus mengajar sampai sore, karena harus berbagi dengan kelas-kelas lainnya, sedangkan gurunya cuma terbatas. Belum lagi, gajinya kecil. Parahnya, kadang enggak digaji.

Menurut saya, itu yang membuat guru diberi predikat pahlawan tanpa tanda jasa, dibuatin lagu, dan ada hari guru juga.

Nah, semakin majunya Indonesia dan protes yang dilakukan pihak sana-sini, membuat guru sekarang semakin diperhatikan kesejahteraannya. Gajinya dinaikkan berkali-kali lipat. Belum lagi kalo ada gaji ke 13 atau gaji ke 14. Wah… pakde saya yang guru itu jadi kaya raya dan bisa beli tanah bermeter-meter! In case, guru yg PNS lo ya.. Kl guru honorer atau swasta, beda lagi nanti pembahasannya.

Ibaratnya jadi begini. Yang susah nenek moyangnya yang guru, yang menikmati hasilnya cucu-cucunya yang guru. *semoga guru zaman dulu bs menikmati gaji pensiun yg memuaskan seperti gaji guru sekarang*

Kembali lagi ke bekerja tanpa pamrih, hari gini adakah yang mau? Di semua profesi manapun, yang sanggup bekerja tanpa pamrih, saya meragukan keberadaannya. Di tengah himpitan kebutuhan hidup, mau tidak mau kita membutuhkan uang. Mengutip kata teman saya, “money is not everything, but you need money to have anything”.

Benar memang. Ketika kita bekerja, kita memang sedikit banyak mulai belajar untuk “money oriented”. Tetapi, mbok ya jangan banget-banget. Kalo banget-banget, kita bakal tumbuh jadi bangsa yang matre, yang semua dihitung dengan tolok ukur uang. Padahal, tidak semua bisa dihitung dengan uang, tetapi dengan etika profesionalitas kerja.

Kebetulan pada hari yang sama itu juga, seorang dosen curhat ke saya begini, “Guru di sekolah itu ya.. kan niat saya bikin acara bedah bukunya jam 14.00 pas jam bubar sekolah, jd enggak ganggu proses belajar mengajar di sana. Ehh.. gurunya yang gak mau, karena mereka mau pulang, mereka enggak mau lembur. Ya ampun, apa sih susahnya lembur bentar sampe jam 17.00. Wong kita (dosen2 yg tugasnya jg sama2 mengajar) aja sering ngajar smp malem jam 8 e..”

Hhmm.. saya jadi mikir nih.. Apa ya pantas, sosok guru seperti yang diceritain dosen itu ke saya, pantas disebut pahlawan tanpa tanda jasa?

Sekali lagi, saya tidak mengeneralisir, karena saya tahu.. ada guru-guru lain yang bakal mau lembur sampai sore atau bahkan sampai malam demi kemajuan murid-murid dan juga sekolahnya. Hanya saja, guru di sekolah yang notabene bagus itu (karena masuk rangking 5 besar di kota saya), merupakan potret kecil ironisnya profesionalitas seorang guru yang dipertanyakan.

Apa alasan guru itu tidak mau lembur? Enggak ada gaji lemburan? Gaji lemburannya kecil? Aduhh.. kasian sekali guru-guru di Indonesia yang pemikirannya masih seperti itu. Karena itu artinya, semua dihitung dengan uang. Padahal, pada beberapa kasus, kita harus melakukan sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan uang.

Apa susahnya lembur sebentar, mendampingi murid-muridnya yang meraih pengetahuan baru melalui bedah buku? Toh tidak setiap hari, tidak setiap bulan, tidak setiap saat.

Saya tidak tahu persis perhitungan lemburan gaji guru, tapi lebih baik itu memang diperhitungkan sekecil apapun overtime fee-nya. Dan seharusnya juga, sekecil apapun itu, tidak membuat guru bekerja asal-asalan. Asal datang, asal ngajar, asal absen, asal pulang. Belum lagi guru yang kalau ngerjain tesis mbayar orang untuk ngerjain. Aduuhh… mau jadi apa bangsa ini nantinya.

Nah, kesimpulan saya di hari guru yang mulia ini adalah, apapun profesi kita, guru, dokter, dosen, pengacara, arsitek, sekretaris, bendahara, programmer, editor, petani, peternak, dan yang lainnya.. Sudah seharusnyalah kita bekerja dengan profesional. Profesional yang saya maksud adalah bekerja dengan optimal, tidak asal-asal, bekerja keras, taat peraturan. Boleh money oriented, tapi jangan matre.

Bekerja untuk mendapatkan uang, ya, itu memang benar. Tapi ketika bekerja semata-mata untuk uang, harus dihitung dengan uang semua, menurut saya, profesi yang diembannya (apapun itu) patut dipertanyakan kesungguhannya.

PS:
Sedikit OOT, kalo mau jadi guru, ada “sumpah” yg harus diucapkan enggak sih? Seperti sumpah aristoteles yang selalu diucapkan calon dokter itu… Sebaiknya diadakan akan lebih oke tuh. Karena guru dan dokter itu menurut saya profesi yang memberi sumbangan besar bagi kesejahteraan bangsa ini. Oleh karena itu, profesionalitas kerjanya musti diperkuat dengan “sumpah” yang diucapkan sebelum ditabiskan jadi guru.

Nah, kan dokter itu profesi mulia ya.. (semua profesi mulia ding). Tp mksd saya, dokter dan guru itu profesi yang unik karena bisa mengubah panggilan seseorang. Org yang dokter, di masyarakat dipanggil Pak Dokter. Org yang guru, di masyarakat dipanggil Pak Guru. Ya mungkin enggak di setiap tempat.. Tp itu kan unik.. Coba deh, mana ada yang manggil saya Bu Editor. Hahahaha…

Kredit foto: http://bataknews.wordpress.com/2007/06/22/kasihan-anak-anak-transmigran-di-hutan-borbor-itu/
baca selengkapnya......

Kamis, 04 November 2010

Jogja Diguyur Hujan Krikil, Pasir, dan Abu


Rumah saya, sekitar 23 km dari Merapi, dan 500 meter dari Stadion Maguwoharjo Sleman.

Malam dini hari ini, saya dikagetkan dgn suara gemuruh yg kencang, lebih kencang dr biasanya. Lalu diiringi getaran yang panjang & menggetarkan kaca2 di rumah saya. Kami sekeluarga bergegas ke luar rumah, dan menengok ke utara. Berjaga-jaga, jangan2 merapi kembali meletus. Tapi kabut pekat menutupi jarak pandang kami. Setelah sedikit mereda, kami kembali masuk ke rumah, tidur dengan pintu kamar terbuka, untuk waspada dan siap lari jika terjadi sesuatu.

Kami kembali dikagetkan, dengan suara "pletik-pletik" seperti hujan rintik2 yg menjatuhi genteng. Tp ini beda. Kami bergegas keluar, dan ternyata.. itu hujan krikil dan pasir. Semakin lama semakin deras dan keras. Kentongan di perumahan dipukul untuk membangunkan para warganya. Kami diminta waspada dan tetap di dalam rumah. Semakin lama, hujan krikil itu menipis menjadi hujan abu.

Saya tidak bs tidur nyenyak. Pukul 3 pagi saya baru bisa memejamkan mata dan pukul 6 pagi saya terbangun mendengar suara ramai di depan dan suara sirene. Jarak aman diperluas lagi menjadi radius 20 km. Dan mobil2 yang turun melewati gerbang perumahan saya menuju ke Stadion Maguwoharjo untuk mengantarkan pengungsi yang dipindah. Kami diperintahkan oleh Kepala Dusun untuk membuat nasi bungkus dan mengkoordinasikannya untuk dikirim ke sana. Di sana benar2 penuh. Lebih penuh daripada ketika ada sepak bola. Di sana tidak ada tikar dan dapur umum.

Saya semakin kaget, ketika mendengar bahwa Desa Cangkringan di timur perumahan saya sudah diterjang awan panas. Ya Tuhan... Sejauh itu? Desa Cangkringan itu sekitar 6 km dari rumah saya. Dan di sana banyak korban. Padahal sebelumnya, Cangkringan masih di radius 15 km yg sebelumnya dinyatakan aman. Sampai sekarang, hujan abu tipis masih menyelimuti rumah saya dan kota jogja pada umumnya.

Jujur saja, kali ini saya lebih panik & khawatir dibandingkan gempa bumi 2006 lalu. Tapi, saya harus terus waspada dan berbagi informasi penting dengan teman2 untuk keselamatan kami bersama. Listrik yang padam membuat kami sedikit terisolasi dari informasi berita. Tetapi hp yang nyala memutar radio dan memancarkan berita. Hujan abu yang pekat membuat jalan licin. Semua diminta waspada dan menaiki kendaraan dengan pelan2. Sudah banyak kecelakaan akibat terlalu panik & ngebut di jalan. Jangan lupa juga pakai kacamata & maskernya, bau belerang sangat menyengat menusuk hidung. Lebih baik, pakai jaket atau mantel plus helm dengan kaca tertutup di depan.

Untuk informasi, teman2 yang ingin memberikan bantuan, jangan hanya terkonsentrasi di Stadion Maguwoharjo, karena tempat ini yg sering diberitakan di TV. Tetapi, universitas2 di Jogja mendadak jd tempat pengungsian. Seperti UII, Jakal km.14, Univ. Sadhar, Paingan (timur Stadion Maguwo), Univ Atmajaya Babarsari & Mrican, Seminari Jakal km.7, dan Stadion Tridadi Sleman. Itu semua baru yg di Jogjakarta, yang di daerah Muntilan & Klaten masih ada lagi.

Bagi yg ingin memantau keluarga di Jogja, bisa memfollow twitter @jalinmerapi atau mengecek di google map radius lingkar aman merapi di url ini: http://merapi.combine.or.id/posko/

Teman2 semua.. Saya mohon doanya. Untuk keluarga besar penghuni Yogyakarta..
baca selengkapnya......

Rabu, 03 November 2010

Tuhan Tidak Pernah Menghukum Kita dengan Bencana


Bencana datang bertubi-tubi kepada negara kita. Baik bencana alam, bencana akibat ulah manusia, sampai bencana dalam pemerintahan. Akibatnya banyak pertanyaan terlontar, mengapa negara kita ini sering terkena bencana, mengapa bukan negara lain, mengapa harus kita? Ya, banyak pertanyaan itu mungkin terbersit dalam benak kita, begitu juga saya.


Salah satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang saya baca di beberapa blog, dan di status teman saya adalah, bencana ini akibat ulah manusia, yang dengan kata lain Tuhan sedang menghukum manusia akibat ulah dosa-dosanya.

Saya pribadi sangat tidak setuju dengan pernyataan itu. Okey, saya memang bukan seorang ahli agama atau pemuka agama, dan nilai agama saya bukan yang terbaik di dunia ini. Tapi yang saya amini adalah Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. Betapa pun besarnya dosa dan pelanggaran kita, Tuhan tidak pernah menghukum kita. Semua cobaan yang menimpa bumi ini, negara kita, dan kita secara pribadi, bukan untuk menghukum kita.

Kalau ada yang bertanya pada saya dan menunjukkan tentang “bencana” yang Tuhan limpahkan ke manusia pada zaman Nuh dengan air bahnya, atau hujan api pada zaman Lot di kota Sodom dan Gomora. Maka saya akan menjawab, itu dulu. Berabad-abad yang lalu sebelum masehi, dan ketika hubungan Tuhan dan manusia bisa dilakukan secara langsung. Tetapi sekarang sangat berbeda, hubungan kita dan Tuhan sejauh doa. Jalan Tuhan tidak terselami oleh apapun juga, sekalipun itu ilmu pengetahuan atau ilmu agama apapun.

Bukankah ketika Tuhan memberikan pelangi setelah air bah pada zaman Nuh, itu merupakan janji Tuhan, bahwa Tuhan tidak akan memberikan bencana sedemikian dahsyatnya lagi untuk memusnahkan manusia. Dan sampai sekarang, saya tetap mempercayainya.

Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa bencana bertubi-tubi itu menimpa negara kita? Menimpa keluarga kita? Menimpa saudara kita? Atau mungkin menimpa diri kita sendiri.

Secara ilmiah, saya akan menjawab bahwa bencana demi bencana itu karena letak geografis negara kita di pertemuan 3 lempeng, Eurasia, Samudra Pasifik, dan Indo-Australia. Lokasinya yang sangat subur, melimpah kekayaan alam, termasuk juga gunung menjamur di negeri ini. Selanjutnya, silakan kalian pelajari sendiri sisi ilimiah ini.

Lalu secara ketuhanan, saya akan tetap pada keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. Okey, sekarang begini. Kalau memang Tuhan mau menghukum umatNya, dosa apakah mereka para korban bencana itu? Apakah dosa mereka jauh lebih besar melebihi dosa para koruptor? Lalu mengapa bencana itu tidak ditimpakan saja pada para koruptor, para pembunuh, para teroris? Mengapa bencana justru menimpa pada wong cilik dengan tingkat ekonomi bawah?

Apakah bencana itu akibat kemaksiatan negara kita? Pornografi yang merajalela? Freeseks yang seakan-akan tidak lagi menjadi tabu? Kalau memang begitu, mengapa bencana itu tidak ditimpakan saja ke negara-negara barat yang memperbolehkan freeseks. Mengapa tidak ditimpakan saja ke rumah bordil, lokalisasi psk, atau artis-artis bintang bokep?

Saya, yang notabene manusia biasa ini, punya pemikiran dan jawaban yang berbeda. Menurut saya, bencana adalah suatu ujian dari Tuhan untuk umatNya. Ibarat guru yang selalu memberikan pelajaran-pelajaran baik setiap harinya, maka suatu hari aka nada ulangan alias ujian. Bahkan tidak jarang juga guru kita memberikan ulangan dadakan. Ya, seperti Tuhan juga. Bencana ini untuk menguji kita, apakah kita sudah layak disebut umatNya.

Secara teori semua kitab suci sudah disebutkan, bahwa kita harus mengasihi orang lain terutama orang tertindas, kita harus menolong orang yang kesusahan, kita tidak boleh mendewakan harta benda, kita tidak boleh membeda-bedakan orang lain, dan lain sebagainya. Tetapi bagaimana kalau teori itu “ditantang” Tuhan untuk dipraktikkan?

Dari bencana kita belajar untuk sabar, semua ujian hidup yang mendera tidak pernah melebihi kekuatan kita sebagai manusia.

Dari bencana kita belajar untuk tabah, kita pasti dikuatkan oleh rekan-rekan yang ada di sekitar kita, jadi belajarlah untuk “melihat” mereka dan tidak menyalahkan diri sendiri.

Dari bencana kita diajarkan untuk berserah, sekalipun itu menimpa keluarga kita dan mengambil nyawa orang-orang yang kita cintai, tetapi berserahlah karena pasti ada rencana yang indah di balik itu semua.

Dari bencana kita belajar untuk pasrah, menyerahkan semuanya kepada Tuhan, karena yang punya kehidupan kekal ini cuma Tuhan, kita ibarat artis yang bersandiwara mengikuti scenario yang dibuatNya.

Dari bencana kita belajar untuk berbagi, karena rejeki yang Tuhan beri kepada kita tidak boleh dinikmati sendiri. Ingat, tidak ada orang yang miskin karena memberi.
Dari bencana kita belajar untuk menolong, karena kalau kita mengatakan “aku mencintaiMu Tuhan”, tetapi kita tidak menolong orang lain, itu sama saja omong kosong. Tuhan itu ada dalam diri mereka yang akan kita tolong dan juga dalam diri siapapun mereka yang pernah menolong kita.

Dari bencana kita belajar untuk tidak membeda-bedakan, semua manusia itu sama dihadapan Tuhan. Kaya miskin, kuat lemat, dari suku A suku B, dari partai A partai B, dari agama A agama B. Semuanya sama. Dan maukah kita berbagi dan menolong kepada orang-orang yang kita katakan “berbeda”?

Dari bencana kita belajar untuk tidak mendewakan ilmu pengetahuan, Tuhan memang memberi kita akal budi dan pikiran untuk menjelajah bumi dan segala isinya. Tetapi ilmu pengetahuan yang paling mutakhir pun bisa dipatahkan Tuhan.

Dari bencana kita belajar untuk tidak mendewakan harta benda, karena semua itu tidaklah abadi. Harta hanyalah titipan Tuhan di bumi ini untuk dikelola dengan baik, bukan dibawa sampai mati. Masih ingatkan cerita istri Lot yang menjadi tiang garam karena dia masih menengok ke belakang dan melihat rumah dan harta bendanya habis dibakar hujan api? Ya, itu teori kitab sucinya. Ketika sudah dalam kehidupan nyata, mampukah kita benar-benar melaksanakannya.

Dari bencana kita belajar bahwa hidup itu sementara, susah sedih sementara, kaya miskin sementara, dan suatu saat siapa pun juga pasti akan mengalami kematian. Siap tidak siap, tidak ada yang tahu kapan kita mati dan dengan cara bagaimana. Tapi satu hal yang bisa kita siapkan adalah mengisi kehidupan ini dengan berbuat baik kepada siapa saja.


Yaa.. Banyak yang bisa kita pelajari dari bencana. Takdir membawa kita dilahirkan dari rahim ibu berkebangsaan Indonesia. Takdir pula yang membawa kita hidup dan berkarya di Indonesia. Dan sekali lagi, bencana bukan cara Tuhan menghukum manusia tetapi menguji kita untuk bisa naik kelas lagi dalam sekolah kehidupan. Selanjutnya? Kualitas hidup kita akan jauh lebih meningkat.

Selamat menjalani hidup kawan! Tuhan memberkati.
baca selengkapnya......

Bencana Jadi Ajang Eksis


Merapi kembali memuntahkan erupsi lahar panasnya. Kali ini lebih dahsyat, ilmuwan bilang 3x melebihi letusan di tahun 2006 lalu. Efeknya memang terasa sampai di kota. Selain hawa panas yang terasa, abu vulkanik pun membuat Jogja gelap & sesak oleh bau belerang yang menyengat.


Tidak hanya itu saja. Sekarang, gunung-gunung berapi lainnya pun mulai naik dalam status waspada. Ahh.. Ada apa dengan Indonesia? Orang-orang menyebut bencana alam itu untuk menghukum manusia. Stop! Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. It's not fair, karena kenyataannya kita semua ini berdosa & masih hidup serta diberi kesempatan untuk bertobat. Orang-orang ahli penghitung angka mengait-ngaitkan tanggal kejadian dengan ayat-ayat di Kitab Suci. Ah, saya tidak terlalu memusingkannya. Orang-orang ramai-ramai ketakutan dengan sms yang menyesatkan dan menyuruh kita untuk tidak tidur, bahkan kalau perlu mengungsi. Ah, saya hanya menyerahkan semua pada Tuhan karena kemana pun saya berlari, kalau sudah takdir, tak bisa dihindari.

Gara-gara peristiwa ini, saya baru mengetahui bahwa 13% gunung di bumi ini berada di Indonesia. Itu artinya, Indonesia memiliki gunung terbanyak di dunia & teraktif. Satu gunung termuda & teraktif di dunia adalah Gunung Merapi. Itu artinya, ternyata saya tinggal di kaki gunung tersebut. Wow!!

Tidak! Saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti. Gunung Merapi yang indah itu bukan untuk dimaki sebagai perusak kehidupan manusia dan bukan untuk ditakuti. Dia telah menghidupi masyarakat Jogja dengan airnya yang segar dan jernih, dia telah membangun gedung-gedung pencakar langit dengan pasirnya yang kualitas bagus, dan dia juga yang membuat Jogja menjadi kota yang adem, aman, dan nyaman, karena hawanya yang sejuk. Saat ini kita hanya perlu bersabar menunggu dia tidur kembali.

Satu hal yang membuat saat ini saya sangat takjub, apalagi fenomena social networking sedang membooming. Semua orang berlomba-lomba mengupdate statusnya: "sedang di shelter A, memberikan bantuan untuk korban merapi", atau mungkin mengupload foto2 dengan gayanya yang eksis, "perusahaan A, menyumbangkan sekian puluh juta untuk korban merapi". Sampai di sana, bendera nama perusahaan itu dikibarkan dengan dalih sebuah wujud CSR. Ah, saya pikir itu sama seperti numpang promosi di tengah bencana.

Kalau selama ini kita sering mengatakan, "Partai A tuh, pasang bendera di sana. Pasti kampanye tuh.. biar pemilu besok, kadernya yang menang". Sebaiknya kita berpikir ulang, apakah selama ini kita seperti itu juga? Bukankah sama, kalau partai itu memasang bendera partainya, kita sebenarnya sama saja dengan memasang nama perusahaan kita. Kalau partai itu ingin mencari massa, supaya besok banyak yang mencontrengnya, perusahaan2 itu pun ingin supaya produknya dikenal dan dibeli banyak orang.

Tidak bisa dipungkiri, bencana memang salah satu cara untuk numpang ngeksis. Kalau dulu ngeksisnya hanya di lokasi bencana, sekarang kita bisa ngeksis juga di social networking. Seakan-akan kita ini sudah menjadi orang yang paling dermawan di mata banyak orang dengan menyumbang sekian banyak untuk para korban bencana. Tuhan menginginkan itukah? Saya katakan, tidak! dengan keras.

Kalau kita memberi dengan uluran tangan kanan, sebaiknya sembunyikan tangan kiri kita. Maksudnya, Tuhan tidak ingin kita jadi sombong dan menepuk dada, karena kita dan perusahaan, atau kita dan partai kita, bisa menyumbang sekian puluh juta.

Dan, saya kembali bertanya. Beranikah kita memberi & menyumbang kepada korban bencana di sana, dengan datang dan menulis di buku tamu daftar penyumbangnya, "dari PT NN", "dari Partai NN", "dari Komunitas NN"?

Yang mencatat amal ibadah kita adalah Tuhan, bukan para relawan penjaga shelter penampungan. Dan yang melihat seberapa tulus kita membantu adalah Tuhan, bukan para friendlist atau follower kita di social networking.

Selamat membantu sesama kita dan tak henti-hentinya saya mengajak kita semua untuk #prayforindonesia.
baca selengkapnya......

Rabu, 29 September 2010

I Love Diversity, Coz I Live in Indonesia

Temans, saya sedang gelisah tak menentu nih.. *halah* Alasannya saya sedang mempertanyakan tentang arti keberagaman di negara ini. Iya, keberagaman yg bahasa inggrisnya diversity itu.

Pasalnya begini, semenjak heboh2nya kasus FPI yang menentang diselenggarakannya Q! Film Festival serta kasus dibacoknya pendeta dan jemaat HKBP Bekasi itu. Saya jadi mempertanyakan, apa iya.. masih ada keberagaman di negara Indonesia tercinta ini. Lah wong, setiap ada perbedaan pinginnya selalu saja disamakan.


Hhmm.. jadi bertanya-tanya, apa iya sila ke-3 dari Pancasila itu masih ditegakkan. *yang gak apal, diinget2 ya bunyinya gimana* Apa bisa juga, negara Indonesia ini mo disama-ratakan semuanya sampe ke akar2nya. Mulai dari agama - sehingga ada banyak kasus kekerasan yg enggak perlu saya sebutkan. Lalu suku - sehingga ada perang antar suku hanya karna sengketa yang sebenernya bisa diselesaikan baik-baik. Dan yang paling anyar, tentang orientasi seksual yang berbeda.

Yah! Saya katakan "berbeda" bukan "menyimpang. Alasannya, saya ini manusia biasa dan bukan Tuhan. Saya tidak berhak mengatakan bahwa ini benar, itu salah. Itu benar, ini menyimpang. Dan sebagainya.

*sekarang saya mulai serius nihh..* Saya bukanlah seorang homoseksual (queer) alias lesbi *ya,iyalah..kan cewek* Tapi yang saya tahu, seorang homoseksual itu sebenarnya juga tidak menginginkan hal itu terjadi pada dirinya. Sapa sih yang bisa request ke Tuhan untuk dilahirkan dari ibu yang mana? Enggak ada yang bisa kan? Nah.. begitu pula dengan kasus orang-orang homoseks ini. Mereka juga tidak bisa meminta pada Tuhan untuk tidak menjadikan mereka seperti itu.

Lalu, apa itu semacam takdir menjadi seorang homoseks? Yaah.. untuk beberapa case bisa jadi seperti itu. Meski saya bukan orang biologi yang bisa tahu susunan DNA seorang homoseks itu berbeda. Dan saya juga bukan orang psikologi yang bisa mentreat orang homoseks supaya menjadi heteroseks.

Tapi yang saya maksud dari tulisan yang sudah mulai ngladrah ini adalah bahwa saya mendukung Q! Film Festival. No matter orang-orang di luar sana mo bilang apa. Tapi saya yakin festival ini adalah supaya kita menghargai perbedaan2 yang ada di bumi ini dan di negara Indonesia tercinta pada khususnya. Apalagi pesan tentang pencegahan HIV/AIDS juga menjadi topik utama dalam festival ini.

So... Saya tunggu Q! Film Festival ini di Jogja. Setau saya itu tanggal 11-15 Oktober. Duhh.. jadi gak sabar. Tapi tempatnya belum tahu nih.. Kalau teman-teman ada yang tahu infonya, saya dikabar-kabari ya.. Selamat menikmati film-film bertema Queer. *sstt.. saya punya 1 tumpuk dvd film queer as folk nih. cowoknya ganteng2 bo!*
baca selengkapnya......

Selasa, 17 Agustus 2010

Pak Beye, pendapatan per kapita Indonesia naik ya?

Pak Beye, saya mau cerita nih... Kemarin malam, malam tirakatan, dan malam detik2 kemerdekaan. Saya menghabiskan malam dengan nonton TV. Nah, acara yg saya tonton waktu itu adalah Economic Challenges yang dibawakan oleh Pak Suryopratomo dan mendatangkan tamu Menteri Perekonomian, Pak Hatta Radjasa.


Bapak nonton acara itu tidak? Saya rasa sih tidak.. Karena Bapak pasti sedang sibuk tirakatan di Cikeas atau mungkin gladi resik upacara 17 agustus utk besok paginya. Jadi, saya mau bercerita sedikittt saja tentang isi acara tersebut yang menurut saya sedikittt menggelitik.

Secara garis besar, episode Economic Challenges malam itu menarik. Karena isinya sangat positif, dan benar-benar positif. Yaitu mengajak bangsa Indonesia utk optimis. Ya, optimis memandang perkembangan ekonomi di negara kita ini. Wah.. bagus to itu Pak.. Di buku The Secret aja ditulis bahwa pikiran kita ini yang akan mengontrol kehidupan kita. Jadi, kalau pikiran kita udah optimis, maka hasilnya nanti bagus dan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini, yaitu tentang perekonomian Indonesia.

Nah, satu hal yang menggelitik adalah... tentang perkataan Pak Hatta Radjasa yang menyebutkan bahwa pendapatan per kapita negara kita ini naik. Waa.. saya keplok-keplok sendiri, sampe standing applause mendengarnya. Tunggu.... rasanya ada yang ganjil deh Pak..

Okey.. sekarang saya mau berekonometri, meski saya ini lulusan siswa kelas IPA yg nilai ekonominya dulu tidak sebagus nilai matematika. Bermodal tanya2, baik ke teman ataupun ke mbah google, saya mencari rumus menghitung pendapatan per kapita sebuah negara. Nah... cara bodohnya begini.. Wah.. saya kok jadi ngajari Bapak ya.. Bapak pasti kan udh lebih pinter. Ah, saya ngajari temen2 saya yg lain aja deh.. Hehehe..

Begini contohnya... Di rumah saya ada 5 orang penghuni, anggap semuanya berusia produktif, dan gajinya masing2 Rp 200.000. Jadi, kalau ditotal Rp 1.000.000. Bener kan? Nah, tahun ini gaji saya dan gaji adik saya naik masing2 Rp 500.000, jadi dapetnya masing2 Rp 700.000. Bener... Mudeng kan.. Tapi, gaji penghuni rumah yang lain tetap Rp 200.000 loh... Lalu, mari semua gaji kami serumah ditotal. Saya dan adik (2 x @Rp 700.000) + 3 penghuni lain (3 x @Rp 200.000) = Rp 2.000.000.

Jadi.. pendapatan per kapita rumah saya naik kan... Kalau dulu totalnya Rp 1.000.000 : 5 = Rp 200.000. Jadi pendapatan per kapita rumah saya Rp 200.000. Sekarang kalau ditotal Rp 2.000.000 : 5 = Rp 400.000. Maka, pendapatan per kapita rumah saja naik jadi Rp 500.000. Tapi.... bagaimana nasib dengan 3 penghuni lainnya?

Nah... itu Pak yang menggelitik. Gaji pegawai Indonesia naik, tapi... yang gajinya enggak naik, lebih banyak dibandingkan yang gajinya naik. Yang punya gaji, lebih sedikit dibandingkan yang pengangguran. Bahkan, pekerja yang gajinya sampai puluhan juta... sebenernya kalau dibagi ke UMR terendah di Indonesia, bisa dapet berapa pekerja tuh.

Itu Pak... yang menurut saya menggelitik. Sampe saya geli sendiri & mringis, melihat kenyataan negara kita yang sungguh tragis, sampai rasanya mau menangis.

Apalagi, harga2 bahan pokok meningkat. Seperti yang dibilang Pak Hatta Radjasa semalem, bahwa harga bahan pokok memang meningkat, tetapi jangan dibandingkan dengan harga 10 tahun yg lalu. 10 tahun yg lalu pendapatannya berapa? Nah, sekarang pendapatannya berapa? Jelas lebih besar sekarang kan...

Tapi kembali menggelitik nih Pak... kalau setiap kenaikan gaji diimbangi dengan kenaikan bahan pokok, gimana kami bisa hidup sedikit berlebih, paling enggak bisa buat nabung utk anak cucu? Wong duit kami abis buat memenuhi bahan pokok terus tiap tahunnya.

Logikanya begitu kan Pak... Bener kan... Coba deh Bapak jadi saya, pasti mikirnya juga begitu. Yakin deh Pak... Suwer tekewer-kewer.. Tapi jangan ikutin saya di acara Tukar Nasib sama Bapak yaa.. Saya ogah jadi presiden. Bikin pusing & bikin kantung mata saya makin besar nanti. Saya lebih menikmati jadi warga Indonesia biasa aja kok Pak... Yakin deh...

Tapi... wis embuhlah Pak... Suwi2 saya juga mumet melu2 Bapak mikirin negara ini. Jalan keluarnya pun saya juga bingung. Ibaratnya, negara kita ini sudah terlanjur jatuh dalam lubang yang besar dan dalam. Jadi, butuh tali yang panjang & kuat untuk menariknya ke atas. Sebelumnya, maaf lo Pak.. Saya cuma ngeluh tapi enggak ada solusi. Bisanya manusia Indonesia kan ya begini ini to.. Cuma ngeluh, protes, bahkan demo2 enggak jelas yg merugikan diri sendiri dan orang lain. Hehehe..

Saya sendiri sudah cukup bersyukur tinggal di negara yang sudah merdeka secara harafiah. Dan bersyukur saya tidak termasuk dalam kategori usia produktif yang pengangguran. Paling tidak saya punya pendapatan utk memenuhi kebutuhan pokok saya. Lalu untuk anak-anak saya nantinya? Yah.. pikirkan besok sajalah.. Semoga ketika saya besok punya anak, pendapatan per kapita negara ini benar2 naik dalam arti yang sebenarnya. Jadi, saya enggak perlu mikir masalah kesehatan & pendidikan mereka. Karena itu sudah dicover sama negara. Kan, kata Pak Hatta Radjasa, kita harus optimis terhadap perkembangan ekonomi negara kita to... Jadi... mari diamini saja impian saya ini. Amiiinnn......

Kredit foto: http://smcinvestment.files.wordpress.com/2009/08/increase-chart-1.jpg
baca selengkapnya......

Senin, 16 Agustus 2010

Are you proud, being Indonesian?

Indonesia Raya, merdeka-merdeka. Tanahku negriku, yang kucinta. Indonesia Raya, merdeka-merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

Kapan hayo... terakhir kali kalian nyanyiin lagu Indonesia Raya? Dulu pas masih sekolah, atau pas KKN? Kalau saya pribadi, terakhir nyanyi lagu kebangsaan itu kemarin Minggu. Pas lagi kebaktian di gereja. Eh, bener lo ini.. selesai pemberian berkat di awal kebaktian, kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya.


Lalu hari Senin di kantor, mp3 lagu di kantor memutar lagu-lagu kebangsaan. Eh, ternyata lagu-lagu kebangsaan kita bagus-bagus lo.. Jauh lebih bagus dibandingkan lagu-lagu alay yang enggak jelas yg lagi ngehit sekarang ini. He he... Ah, kok saya jadi ngelantur. Saya kan bukan mau bahas itu.

Yang saya mau bahas... How proud are you to be Indonesian? Dalam bahasa Indonesianya, "Seberapa bangganya kamu jadi warga Indonesia?"

Sebelum kalian semua jawab, biar saya yang menjawab dulu ya.. Hhhmm... Kalau saya sih... sejujurnya.. (harus jujur kan?) rasa bangganya 50% saja. Bukannya enggak nasionalis, cuma nih ya.. setiap melihat pemerintahan Indonesia yang kemaruk sama kekayaan, wahhh.. rasanya saya jadi enggak bangga tinggal di Indonesia. Aset bangsa diambil untuk membesarkan keluarganya masing-masing. Bantuan untuk orang-orang miskin tidak disalurkan kepada yang bersangkutan. Bahkan nih... bantuan untuk orang-orang korban bencana, justru nyangkut di gudang orang-orang yg sudah kaya. Kalau begini, bagaimana saya bisa bangga?

Saya punya mimpi nih.. Di usia 80 tahun nanti, negara ini akan jauhhhh lebih baik. Bagi dari sisi pemerintahannya dan juga personil-personil di dalamnya. Tidak ada tuh yang namanya KKN sekian trilyun, seperti yg dilakukan Mas Gayus. Atau sogok menyogok, seperti yg dilakukan Pak Anggodo. Dan tidak ada intrik2 politik seperti yg terjadi pada Pak Antasari. Tapi, bisa enggak ya... Hal itu terwujudkan. Harusnya bisa dong.. kan kita harus optimis. Seperti yang sudah diajarkan sama bapak presiden kita tercinta.

Tapi di balik kekecewaan ini, saya masih ada 50% rasa bangganya kok sama Indonesia. Bangga karena saya tinggal di negara yang begitu kaya. Baik sumber daya alam, budaya, flora fauna, tempat wisata yg jauh lebih eksotis, kerajinan tangan, dan sebagainya. Apalagi setiap nonton acara jalan-jalan di wilayah Indonesia atau menggali eksotisnya kekayaan Indonesia, itu bikin saya bangga jadi warga Indonesia.

Yahhh.... Semoga rasa bangga saya yang cuma 50% ini enggak jadi pudar, tapi meningkat terus hingga 100%. Tentu dengan kesadaran kita semua sebagai warga negara Indonesia & juga aparat2 pemerintahannya. Nah, sekarang bagaimana dengan Anda?

kredit foto: http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/08/bendera-21.jpg
baca selengkapnya......

Pak Beye, saya mau jadi PNS!

Pak Beye, saya mau jadi PNS. Gimana caranya ya?

Saya dengar-dengar, jadi PNS itu enak. Kerjaannya gak jelas, banyak nganggurnya, tapi gaji lancar. Apalagi nih pak... Baru saja Bapak naikin gaji para PNS kan.. Buat golongan terendah yang gajinya cuma 1,89juta sekarang minimal jadi 2jt. Belum lagi kalo ada dinas & pelatihan ke mana2, wah.. makin lancar honorernya. Gmn enggak bikin orang-orang pada ngiler tuh Pak.


Pantesan aja nih ya Pak... Semenjak Bapak jadi Presien RI, predikat PNS jadi naik. Semua orang rasanya pingin banget jadi PNS. Setiap PNS di departemen2 atau di pemda open recruitment, selalu saja peminatnya bejibun buanyakknyaa... Rasanya kok beda ya gaungnya, sama PNS jaman dulu. Lebih heboh sekarang gitu loh... Bener lo Pak, beda banget sama jaman presiden2 sebelum Bapak. Contohnya nih, alm. Pak Soeharto ini yg lebih memperhatikan para petani, karena beliau tahu pertanian merupakan aset bangsa sampai kapanpun juga.

Tapi, kalau di pemerintahan Bapak ini, sepertinya PNS yg merupakan aset bangsa ya.. Sodara-sodara saya yg dulu biasa2 aja dgn pekerjaan PNSnya, skrg jd merasa luarr biasaa. Lalu menyuruh saya dan sodara2 lainnya utk mengikuti jejaknya. Bahkan ada juga teman saya yg dipaksa orangtuanya utk jadi PNS dgn jalur emasnya. Wah, saya jadi penasaran nih Pak.. apa sih hebatnya PNS. Jadi karyawan yang kreatif & pekerja keras, saya rasa enggak tuh...

Lah, gimana enggak coba Pak... Katanya masuk kerja jam 8 pagi, lah saya ke kantor kelurahan, kecamatan, imigrasi, bahkan ke kantor polisi aja... petugasnya belum pada datang. Ada yang baru anterin anaknya sekolahlah, ada yang alasan kejebak macetlah, bahkan ada juga yang alasan bangun kesiangan. Wah, Pak... gimana negara Indonesia bakal maju dong kalau PNSnya begini semua.

Saya tahu.. Bapak naikin gaji PNS itu sebelumnya pasti ada pro kontranya. Yang pro pasti org2 PNS dong. Hehe.. saya tau itu.. Siapa sih yg enggak mau gajinya naik. Tp kontranya, karena kenaikan gaji itu enggak diimbangi dgn kenaikan produktivitas Pak.. Belum lagi nih ya... Bapak tahu sendiri kan.. industri negara kita tercinta ini bakal kena imbas besar-besaran dari China. Heboh lo itu Pak... Bayangin ya Pak... Saya yg kemarin baru saja pulang dr Hong Kong aja beli produk2 China dgn harga jauuuuhhhhhhh lbh murah dibandingkan di sini. Bapak pernah ke Hong Kong kan.. Atau mungkin, Ibu Ani pernah belanja barang2 di sana. Bener kan Pak.. sumpah murah2 abis.

Nah.. hubungannya dgn negara kita tercinta ini. Kan sayang tuh Pak, industri Indonesia ini kalah dr terpaan industri China. Jelas2 Indonesia punya kekayaan yg jauh lebih luar biasa, SDMnya pun buanyakk buangett. Kenapa enggak itu aja yg lebih dipikirkan ya Pak, daripada memikirkan kenaikan gaji PNS.

Kemarin abis sensus penduduk kan Pak... Dan Bapak tahu juga kan, bahwa penduduk kita mencapai 234,5 juta jiwa. Ediannn.. buanyak buanget ya Pak.. Nah, logikanya nih ya Pak.. Berapa jiwa yang berada di usia produktif? Lalu, berapa jiwa yang di usia produktif itu merupakan pengangguran. Nah, kalau pemerintah punya dana untuk dialokasikan kepada peningkatan sektor ekonomi di Indonesia utk mengurangi pengangguran. Wah, pahalanya lebih besar tuh Pak.. Jumlah pengangguran di Indonesia, pasti lebih besar dibanding jumlah PNS kan.. Hehehe..

Jadi, bukannya saya enggak setuju loh Pak.. Karena naik atau stagnya gaji PNS itu enggak ada hubungannya sama saya. Wong, saya bukan PNS dan orangtua saya juga bukan PNS. Cuma saja... ini merupakan sebuah bentuk rasa cinta saya sama Indonesia. Apalagi negara kita ini kan usianya udah 65 tahun. Pinginnya sih Pak, di usia 80 tahun mendatang, negara saya ini bakal menjadi negara yg diperhitungkan oleh negara asing. Baik dalam perekonomiannya, keamanannya, dan juga kekayaannya yang luar biasa. Jadi, anak2 saya besok enggak susah nyari kerja karena disediain lapangan kerja banyak sama negara, enggak susah kalau sakit karena dicover asuransi dari negara, dan enggak susah di hari tuanya karena dipelihara negara. Seperti negara-negara lain itu tuh... Kan saya juga pingin seperti itu...

Sekian saja Pak... Ohya, kalau gaji PNS, TNI, dan POLRI naik 10%. Gaji Bapak pasti juga naik dong brarti. Kan Bapak termasuk TNI ya.. dan Presiden itu termasuk PNS kan Pak. Wah, dobel dong Pak.. Selamat ya Pak.. Jangan lupa, makan-makannya.. Saya diundang open house, ngabuburit di istana ya Pak.. Tapi plus transportasi & akomodasi sekalian. Hehehe..

kredit foto: http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/6/8/8-6-2009-pubseuang.jpg
baca selengkapnya......

Rabu, 11 Agustus 2010

Misteri Kematian

Kematian adalah salah satu bagian dari siklus kehidupan yang tidak terselami. Tidak bisa diterka, ditebak, dianalisis, diterawang, ataupun diramal. Baik itu yang berhubungan dengan kapan kematian datang, bagaimana caranya, dan bagaimana kehidupan setelah kematian. Tidak ada yang bisa membacanya.


Sekalipun itu pemuka agama di mana pun itu. Baik pendeta, pastor, ulama, biksu, atau siapapun. Tidak ada yang bisa menerka apa misteri di balik kematian.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bertemu dengan bidadari. Maka banyak orang-orang yang otaknya sudah dirasuki doktrin itu sehingga rela mati demi membela yang dirasa benar, atau disebut jihad.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bertemu Tuhan. Maka banyak orang-orang yang berdoa ditujukan kepada orang mati itu. Bukan ditujukan kepada Tuhan yang punya kehidupan. Tetapi justru minta kepada orang mati untuk disampaikan ke Tuhan.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bisa bertemu dan bersatu dengan orang yang dicintainya. Maka banyak pasangan-pasangan muda yang hubungannya tidak direstui orang tua, lalu memilih lebih baik bunuh diri supaya nanti di alam baka bisa bersatu dengan pasangannya.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bisa meramal masa depan. Maka banyak orang-orang yang menyembah-nyembah kuburan dan perangkat kematian lainnya, supaya bisa tahu masa depannya itu nanti seperti apa, nomor judi yang besok keluar apa, dan soal ujian yang nanti keluar apa.

Ada yang berkata, kalau mati itu nanti bisa menghantui atau menakut-nakuti manusia. Maka banyak orang-orang yang takut datang ke kuburan, dan mengkait-kaitkan setan dengan wajah-wajah orang yang mati.

Mungkin ada banyak lagi yang berkata bahwa kehidupan setelah kematian itu nanti seperti ini atau seperti itu. Tapi, menurut saya sebagai orang yang mengimani Tuhan dan bukan mengimani kematian. Maka, setelah mati itu kita benar-benar gameover. Tidak ada ada yang namanya kehidupan lagi, tidak bisa lagi bertemu dgn siapapun, tidak bernyawa, tidak berpikir, tidak merasa, benar-benar mati dan tidak ada yang menjelma menjadi hantu.

Menurut iman saya, hantu adalah malaikat surga yang berkhianat pada Tuhan lalu dia diusir dari surga. Tapi kekuatannya sama seperti malaikat-malaikat baik lainnya. Jadi, malaikat jahat ini sering menjelma menjadi manusia yang sudah mati atau makhluk yang menyeramkan, supaya manusia nanti takut setengah mati. Sehingga ujung-ujungnya, manusia bukannya menyembah Tuhan melainkan menyembah malaikat jahat atau sering dinamakan setan ini.

Lalu, kapan dong ketemu Tuhannya? Nah, dalam iman saya pula.. Semua ada di hari penghakiman alias hari kiamat. Semua orang mati dan orang hidup akan diadili oleh Tuhan yang Empunya Kerajaan Surga. Semua akan dipilih, siapa orang-orang yang layak untuk hidup bersama Tuhan di Surga. Jadi ketemu Tuhannya itu nanti kalau hari penghakiman alias kiamat.

Jadi... kalau ada orang-orang yang berkata bahwa setelah mati nanti kita bakal bertemu bidadari, kita bakal bertemu Tuhan, kita bakal bertemu dan bersatu dengan yang kita cintai, kita bisa meramal masa depan, atau kita bakal bisa menghantui atau menakut-nakuti manusia. Berarti... orang-orang itu sudah pernah mati.

Kredit foto: http://kelvinphin.files.wordpress.com/2008/05/300px-20000_graveyard.jpg
baca selengkapnya......

Jumat, 30 Juli 2010

Backpacking Seru di Hong Kong

Siapa sih yang menolak jalan-jalan gratis ke Hong Kong? Kalau saya, tentu saja tidak dong… Berbekal keisengan saya, ternyata itu membuahkan hasil yang mengagetkan sekaligus menyenangkan.

Kabar itu saya terima dari Inke Maris, persis 2 minggu sebelum jadwal keberangkatan saya ke Hong Kong. Ternyata, sayalah yang mendapatkan tiket gratis dari Cita Cinta dan Hong Kong Tourism Board untuk terbang ke Hong Kong plus menginap selama 3 hari 2 malam di sana. Saya juga berhak memilih teman untuk menemani perjalanan saya di sana.

Wah… saat mendengar kabar itu, saya benar-benar shock, senang, excited, dan sedikit deg-degan juga, karena ternyata perjalanan saya ke Hong Kong hanya berdua saja dengan teman saya itu. Yaahh.. seperti backpacking. Berbekal peta Hong Kong, peta MTR, dan semua info tentang Hong Kong, kami berdua siap menjelajah kota yang dijuluki Center of Shopping in Asia itu.

Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta sampai ke Hong Kong International Airport kira-kira membutuhkan waktu 4,5 jam dan perbedaan waktu antara Jakarta dan Hong Kong adalah 1 jam lebih awal di Hong Kong. Kami berangkat pukul 8.30 WIB dan sampai di sana sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Saat itu cuaca di sana tidak begitu panas, sedikit mendung tapi tidak hujan.

Dari bandara hingga ke hotel, kami dijemput oleh bus khusus yang dinamakan Airport Hotelink, yang akan mengantarkan kami serta turis-turis asing lainnya ke hotel masing-masing. Dari bandara, kami harus melewati jembatan yang super panjang dan besar. Kalau di Indonesia, seperti jembatan Suramadu. Hong Kong memang negara berbentuk pulau-pulau kecil, jadi selain dengan kapal fery, pulau satu dengan pulau lainnya dihubungkan pula dengan jembatan yang super besar dan panjang itu.

Perjalanan kami menuju ke kota, dibuat terkagum-kagum oleh kota ini. Semuanya serba rapi dan teratur. Bayangkan saja, kota Hong Kong ini sebenarnya kecil, sumpek, penduduknya padat, dan berisi gedung-gedung tinggi menjulang. Tapi kenyataannya kota ini jauh dari yang namanya macet dan polusi. Saat itu kami hanya memendam pertanyaan besar, kenapa kota ini bisa jauh dari macet ya, padahal penduduknya juga banyak. Yaahh.. kami pasti akan menemukan jawabannya setelah menjalani petualangan kami di sini.

Setibanya di hotel, kembali kami dibuat terkagum-kagum dengan hotel Harbour Grand Hong Kong yang sangat bagus. Kami akan menginap di hotel ini, tepatnya di lantai 22, dan di kamar dengan pemandangan yang keren. Untung saja, kami bukan wanita yang phobia ketinggian, jadi pemandangan jalan-jalan, gedung-gedung, dan pelabuhan dengan kapal-kapal fery-nya, justru membuat kami betah duduk-duduk di pinggir jendela sambil memandangi kota ini.

Yaps, malam pertama di kota ini sudah tiba. Saatnya untuk menjelajahi kehidupan penduduk di kota ini. Tujuan kami saat itu adalah berjalan-jalan ke Victoria Park, sebuah taman yang berisi banyak public facility, seperti lapangan basket, lapangan futsal, kolam renang, gym, perpustakaan, dan lain sebagainya. Semuanya tertata rapi, bersih, dan nyaman. Wah, seandainya saja di Indonesia ada fasilitas publik yang seindah dan sebersih Victoria Park, dijamin deh kita pasti bakal betah untuk berlama-lama di sana. Selain asyik menikmati suasananya, badan kita juga bakal segar dan sehat karena berolah raga di situ lebih nyaman.

Selain ke Victoria Park, kami juga berjalan-jalan menyusuri setiap jalan-jalan sempit di kota ini. Kami menemukan toko seperti mall tetapi kecil, yang bernama Fashion Tin Hau Shopping. Tempat ini berisi toko-toko kecil menjual aneka fashion dan pernak-pernik lucu, ada juga salon, tempat massage, serta satu lagi yang membuat kami kaget, yaitu kantor penyalur TKW Indonesia. Bayangkan saja, di jendela kaca kantor itu ditempel poster besar yang menuliskan CV dan foto para TKW Indonesia yang siap bekerja di Hong Kong. Kebanyakan dari mereka berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Keahlian mereka pun beragam, yang pasti semuanya layak untuk dihargai.

Saking banyaknya TKW Indonesia di negara ini, kami juga menemukan kantor salah satu bank swasta Indonesia di sini. Ada juga mobil kargo khusus yang akan mengantarkan barang-barang dari Hong Kong ke Indonesia. Selain itu dijual juga kartu operator seluler khusus yang mempermudah hubungan telekomunikasi dengan keluarga di Indonesia, tentu dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan operator seluler biasa.


Lelah berjalan-jalan, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Tapi, sepertinya niat kami ini belum direstui Tuhan. Bayangkan saja, akibat terlalu menikmati perjalanan dan pemandangan kota ini, sekarang kami bena
r-benar lupa jalan kembali ke hotel. Rasanya setiap gedung sama saja, setiap sudut perempatan kota ini juga serupa.

Kami lalu bertanya kepada salah satu pejalan kaki yang untungnya dia bisa sedikit berbahasa Inggris, tetapi dia hanya menjawab, “Oohh.. Harbour Grand is so far from here. In there…” ujarnya sambil menunjukkan arah. Lalu dia pun berlalu pergi menyebrang jalan dengan langkah yang seperti terburu-buru.

Kami kembali membuka peta kota Hong Kong ini dan mencoba mencari-cari, sebenarnya kami ini s
ekarang ada di mana sih. Seperti yang sering dibilang kaum pria, bahwa navigasi wanita itu buruk, dan itu benar-benar terbukti, karena kami benar-benar tidak tahu arah sekarang. Utara, Timur, Barat, Selatan pun kami tidak tahu.

Saking letihnya berjalan kaki, kami lalu memutuskan untuk menyerah dan naik taksi. Kami percaya, kalau naik taksi pasti supirnya tahu letak hotel kami tersebut. Tapi ternyata harapan kami itu salah besar. Ketika kami berkata, “We will go to Harbour Grand Hong Kong Hotel.” Bapak supir taksi itu justru berkata, “Hah?? This is Hong Kong.”

Alamakkk… Ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris dan dia tidak tahu di mana itu hotel Harbour Grand Hong Kong. Akhirnya teman saya berkata, “Oke, stop us in Victoria Park.” Pastilah dia tahu di mana itu dan seharusnya letak Victoria Park tidak jauh dari hotel kami.

Yah.. akhirnya kami diturunkan di Victoria Park. Dari situ kami kembali mempelajari peta dan akhirnya, kami tiba di hotel dengan selamat tepat di tengah malam. Wahh.. sungguh pengalaman yang melelahkan, sekaligus menyenangkan. Kesasar di negeri orang yang kita tidak bisa bahasanya.

Esok paginya, kami kembali merancang rute perjalanan ka
mi hari itu. “Hari ini pokoknya kita harus sampai ke Disneyland,” ujar saya. Yah.. sambil makan pagi di hotel, kami benar-benar mempelajari peta MTR dan mencatat rutenya di selembar kertas.


MTR adalah subway atau kereta bawah tanah yang bisa m
engantarkan kami ke mana saja, termasuk ke Disneyland. Di sini, tiket naik MTR adalah dengan menggesekkan Octopus Card ke pintu masuk. Kartu ajaib seharga 150 HKD ini tidak hanya bisa mengantarkan kami menaiki MTR, tetapi juga trem, bus, bahkan membeli minuman di mesin penjual minuman, membayar belanjaan di beberapa supermarket, dan juga di toko-toko lain. Lalu, jika nanti deposit isinya sudah habis kita bisa mengisi ulangnya lagi. Benar-benar praktis.

Octopus Card bisa dibeli di bandara dan juga di beberapa stasiun pemberhentian. Saat itu saya membeli Octopus Card seharga 150 HKD di Causeway Bay Station. Ketika teman saya mau membelinya juga, dia belajar dari orang yang mengantri di depannya. Ternyata Hong Kong memfasilitasi orang-orang yang mau berwisata dengan MTR selama sehari. Dengan cukup membeli tiket yang bernama Tourist Day Pass seharga 50 HKD, kita bisa pergi berwisata ke mana saja hanya dalam waktu satu hari. Ditambah lagi ada diskon-diskon khusus untuk membeli tiket masuk ke tempat wisata itu. Wah, pokoknya komplit deh. Beli satu kartu, ada kartu-kartu diskon lain di dalamnya.

Perjalanan dengan MTR seperti menyusuri lorong labirin dan kita harus mencari jalan keluarnya. Mungkin karena baru pertama kali, kali ini kami salah naik MTR yang salah jurusan. Untungnya hanya sekali saja kami salah naik, karena selanjutnya kami bertemu dengan seorang TKW yang dengan baik hati memberi tahu kami jurusan MTR yang benar.

Di Sunny Bay Station, saatnya kami pindah MTR lagi mencari MTR khusus yang akan mengantarkan kami ke Disneyland. Wah, bertambah lagi kekaguman kami terhadap MTR khusus ini. Jendela-jendela dan pegangan tangannya, semua berbentuk kepala Mickey Mouse, ditambah lagi di beberapa sudut ada patung tokoh-tokoh Disney. Semakin menambah atmosfer Disney yang menyenangkan.


Akhirnya impian yang saya tuliskan di kuis Cita Cinta, yaitu jalan-jalan ke Disneyland, kesampaian juga. Kami tiba di Disneyland dengan selamat alias tidak nyasar-nyasar. Dengan membeli tiket seharga 350 HKD untuk adult, kami bebas menaiki, menonton, dan menikmati semua permainan dan atraksi di sini. Oh ya, teman saya yang membeli tiket MTR khusus Tourist Day Pass mendapat diskon sebesar 30 HKD untuk membeli tiket masuk Disneyland. Hmm… lumayan kan. Bisa jadi pelajaran buat teman-teman yang mau berwisata di Hong Kong, karena lebih baik membeli tiket khusus itu saja dibandingkan Octopus Card.

Sekarang kami sudah di dalam Disneyland. Ya ampun, menyenangkan sekali di sini. Serasa kembali ke masa anak-anak dulu, tetapi semuanya benar-benar mengagumkan. Tokoh-tokoh Disney yang selalu hidup sepanjang jaman itu bergaya dan beratraksi menarik, membuat kami dan para pengunjung lainnya rela antri panjang hanya untuk menikmati permainannya.


Akhirnya, petualangan kami seharian di Disneyland harus berakhir. Kami masih harus melalui perjalanan melalui MTR untuk kembali ke hotel. Saking letihnya, kami memutuskan untuk membeli makan malam take away. Gara-gara makan siang di Disneyland dengan menu yang mahal, yaitu 70 HKD untuk 1 porsi saja yang itu sangat besar dan menurut kami sangat tidak enak. Jadi ini membuat kami ingin menikmati menu yang pasti-pasti saja, apalagi kalau bukan McDonald. Di sini McDonald benar-benar sangat murah, jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia. Cara makan kentangnya pun berbeda, karena kita akan diberi sebuah kantung besar dan satu sachet bumbu rasa rumput laut untuk nanti dicampur dan dikocok dengan kentang di dalam kantung tersebut.

Fiuuhh… Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir kami di Hong Kong. Belum puas rasanya, karena belum semua tempat menarik kami kunjungi. Tapi, kami bertekad suatu hari nanti kami pasti akan kembali ke negara ini untuk menikmati wisata menarik di sini.

Jadi di hari terakhir ini kami memutuskan untuk berbelanja. Ke Hong Kong kalau enggak belanja rasanya rugi. Benar kalau negara ini disebut Center of Shopping in Asia, karena harga barang-barang di sini memang lebih murah dibandingkan di Indonesia. Kami menemukan toko serba 2 HKD dan toko baju yang harganya 10 HKD.

Setelah berbelanja di sekitar jalan-jalan itu, kami masih belum puas, sehingga membuat saya bertanya pada salah satu TKW yang kami temui. “Mbak, tempat yang jual baju-baju khas Hong Kong di mana ya?”

Beruntung sekali, kami kembali bertemu dengan TKW yang baik hati mengantarkan kami ke sana. Di tempat yang dinamakan North Point Market itulah, kami benar-benar kalap berbelanja. Tempat itu begitu ramai penjual dan pembelinya. Harga-harganya pun benar-benar murah. Bayangkan saja, tas yang jika saya beli di Indonesia seharga 100.000 IDR, di sana saya bisa membelinya seharga 50 HKD atau 60.000 IDR.

Satu hal unik di tempat ini yang saya temukan saat saya bertanya kepada penjual, “how much it is?” Dia pun menjawab dengan bahasa cantonese yang tidak kami mengerti. Lalu, ketika saya mengernyitkan dahi dan berkata, “sorry….” Dia pun berkata, “suwidak songo.” (bahasa jawa: enam puluh sembilan). Wuaa… ternyata mereka bisa bahasa jawa. Tapi jangan salah, mereka hanya hafal pengucapan harga-harga saja dalam bahasa jawa.

Seperti salah satu stand juga yang penjualnya berteriak-teriak, “Telung puluh. Telung puluh!” (bahasa jawa: tiga puluh). Artinya, barang yang mereka jual seharga 30 HKD. Hhmm.. sepertinya mereka belajar bahasa jawa karena pasar ini rata-rata penjualnya adalah TKW dari Indonesia. Jadi, sebagai penjual mereka harus sedikit belajar bahasa akrabnya pembeli dong..

Lelah berbelanja, kini saatnya kami kembali ke hotel untuk check out. Sudah cukup belanjaan kami, karena hanya dalam waktu 4 jam saja, koper kami sudah beranak satu. Dalam perjalanan menuju ke hotel, kami sempatkan untuk menikmati detik-detik terakhir petualangan singkat kami di kota ini.

Kini kami menemukan jawaban mengapa kota ini padat tapi tidak pernah macet, yaitu karena kami tidak menemukan motor dan perumahan penduduk di sini. Semua gedung-gedung tinggi berisi toko-toko di lantai bawah dan apartemen di lantai atas. Penduduk di sini hanya sedikit yang punya mobil, meski harga mobilnya murah, tetapi harga sewa parkirnya sangat mahal. Bayangkan saja, mereka harus mengeluarkan 12 HKD per jam, atau 70 HKD per hari, atau 2000 HKD per bulan untuk menitipkan mobilnya di lahan parkir. Ini membuat mereka lebih memilih naik transportasi umum untuk bepergian.

Lagipula, semua transportasi umum di sini terawat dengan bersih dan rapi. Serta pejalan kaki di sini benar-benar dihargai. Bahkan meskipun itu hanya satu orang menyebrang jalan di zebra cross, semua kendaraan, dari mobil, trem, taxi, sampai bus, berhenti semua. Tidak ada pemandangan motor yang naik ke trotoar karena macet dan mengklaksoni pejalan kaki di trotoar, seperti yang sering kita alami di Indonesia.


Wah, Indonesia benar-benar harus belajar dari kota ini deh.. Baik penataan kotanya, lalu lintas, fasilitas umum, transportasi umum, dan juga kesadaran penduduknya untuk saling menghargai pejalan kaki dan merawat semua sarana umum.

Perjalanan singkat ini benar-benar seru dan menyenangkan. Terima kasih untuk Cita Cinta, Hong Kong Tourism Board, dan Inke Maris yang sudah kasih kesempatan kami untuk jalan-jalan ke negara ini. Untuk pertama kalinya kami backpacking ke Hong Kong dan pertama kalinya kami kesasar di negeri orang yang bahasa daerahnya tidak kami pahami. Masih kurang sebenarnya, tapi suatu saat kami pasti kami akan mengunjungi negara ini untuk membayar utang jalan-jalan kami ke tempat yang belum sempat dikunjungi.

So, Hong Kong… See you soon..
baca selengkapnya......

Senin, 24 Mei 2010

Apa sih Fungsi Facebook dan Twitter?

Bagi kalian, apa sih fungsi Facebook, Twitter, dan situs jejaring sosial lainnya? Cari teman lama mungkin. Cari pacar bisa jadi. Cari koneksi kerja yang saling menguntungkan, boleh juga. Atau yang lainnya. Sah-sah saja kok. Tidak ada yang salah. Asalkan tidak dipakai untuk menculik orang yaa… Seperti yang kemarin heboh diberitakan itu. :)


Bagi saya pribadi, salah satu fungsi Facebook dan Twitter adalah sebagai e-book motivation. Saya enggak perlu susah-susah beli buku motivasi atau langganan sms motivasi dari Andrie Wongso atau Mario Teguh. Tetapi, dengan rutin membaca status, postingan note dari teman-teman di Facebook atau Twitter, itu bisa memberi motivasi pada saya dalam menjalani hari-hari.

Mungkin teman-teman ada yang tidak merasakan bahwa ternyata status kalian bisa mencharge hidup saya. Meski saya jarang memberi komentar, tidak menyumbang jempol saya, atau tidak meretweet status kalian. Tapi, setidaknya saya semakin bersemangat menjalani hari demi hari kehidupan saya.
Status tentang sapaan atau senyuman, bisa membuat saya bersemangat menjalani hari demi hari. Status kalimat-kalimat motivasi yang mengutip dari siapapun itu, bisa membuat saya belajar akan sesuatu. Status tentang update’an kegiatan ketika bekerja bisa membuat saya semakin semangat bekerja dan mencapai prestasi kerja yang secemerlang teman-teman saya. Dan masih banyak yang lainnya lagi.

Tapi, semakin hari dan semakin dekatnya saya dengan jejaring sosial ini, saya merasakan ada yang ganjil di beberapa status teman-teman saya. Sampai rasanya saya ingin menghapusnya dari friend list saya. Bagaimana tidak, statusnya selalu berisi keluhan, makian, stressfull, atau apapun itu yang negatif. BBnya penuh dengan spam, ngeluh. Kalungnya hilang, ngeluh. Berangkat kantor kena macet, marah2. Temen kantor atau pacar menyebalkan, teriak aarrgghhh. Dan masih sangat banyak lagi.

Kesannya kok hari-harinya dia penuh dengan hal-hal negatif yaa.. Kalau emang begitu, kasian amat hidupnya yaa. Hidup cuma sekali kok isinya nyebelin terus. Hehe…

Saya juga pernah kok, memasang status negatif, berisi keputusasaan, kejengkelan, dll. Tapi tidak setiap hari, dan bahkan tidak sehari 3x. Bagi saya, ini adalah masalah saya, emangnya kalian yang baca bisa bantu apa? Paling banter, cuma komentar support doang aja kan.. Memang sii.. itu membantu, meski tidak lantas membuat masalah saya selesai. Tapi, kalau setiap hari saya mengeluhkan hidup saya via Facebook atau Twitter, apa kalian juga akan selalu membantu saya setiap saat? Kalian kan juga punya masalah sendiri2 dalam hidup kalian. Jadi, kalian selesaikan masalah kalian dan saya akan menyelesaikan masalah saya. Oke kan tuh.. ;)

Sebenernya sah-sah aja sii kalau pingin curhat dan sedikit curcol via Facebook atau Twitter tentang hal-hal yang menyebalkan. Sama sekali enggak salah. Tapi... akan menjadi mengganggu ketika selama satu hari itu, rajin banget update status yang isinya negatif terus. Dan akan benar-benar mengganggu mata yang membaca ketika setiap hari, statusnya keputusasaan dan makian. Wuahhh.. jadi bukannya jadi kasian tapi sebel sendiri bacanya. Hehe..

Hidup ini adalah bagaimana kita memandang setiap peristiwa yang terjadi pada diri kita. Semua peristiwa yang mungkin awalnya menyebalkan, bisa akan menyenangkan adalah tergantung bagaimana kita memandangnya. Kalau kita dari awal udah mengeluarkan kata-kata “siyal”, “bête”, “aarrgghh”, “munyuk”, “anjrit”, bajigur”, “asyem”, dan kawan-kawannya. Hukum tarik menarik itu berjalan, dan artinya… Hidup kalian hari itu akan selalu “siyal”, “bête”, “aarrgghh”, “munyuk”, dan seterusnya. Percaya gak? Buktikan aja... ;)

Kalian mau, hidupnya akan mengalami hal-hal menyebalkan itu? Tentunya enggak kan.. Jadi, yukkksss mulai dari memasang status Facebook dan Twitter yang menyenangkan. Misalnya, “Syukurlah… kalungku hilang, itu artinya Tuhan akan kasih aku kalung yang lebih bagus lagi”, “Puji Tuhan, hari ini banku bocor, artinya kalori dalam tubuhku terbakar dan itung2 olahraga deh.”, “Macet nii.. Tapi, jadi bisa dengerin talkshow di radio kesayangan lebih lama dong..”, "Alhamdullilah, kerjaanku banyak buaanggetttt.. At least aku masih kerja dan gak nganggur." Atau masih banyak lainnya lagi.

Dengan begitu, Facebook dan Twitter kalian benar-benar bisa jadi berkat buat orang lain kan.. Dan, bisa jadi e-book motivasi buat friend dan followers kalian. Akan lebih menyenangkan bukan.. Saya senang bacanya, dan kalian yang awalnya bête pasti akan berubah jadi senang. Yakin deh!!! Karena hukum tarik menarik itu berlaku, begitu juga di dunia Facebook dan Twitter. :)

Jadi... intinya adalah Positive thinking and positive writing. Yukkk ahhh...
baca selengkapnya......

Selasa, 20 April 2010

Mengapa Orang Menikah?

Apa alasan seseorang untuk menikah? Tolong beri saya satu jawaban terhadap pertanyaan ini. Mungkin ada yang menjawab, "untuk memenuhi permintaan orang tua", "untuk memenuhi perintah agama", "karena saya sudah menemukan pendamping hidup saya yang sejati", "untuk punya keturunan", dll. Ada satu jawaban dr teman saya yang cukup menyentil, "nikah itu untuk melegalkan hubungan seksual". Hhmm.. hanya itu saja? Lalu, di mana makna kudus sebuah pernikahan??


Di usia saya yang menjelang seperempat abad ini, pertanyaan2 klise sering terlontar, "kapan married nik?". Kan udah saatnya, kan usianya pas, dan masih banyak kan..kan.. yang lain lagi. Wow!! Siapa sih yang menetapkan batas usia menikah itu?? Tuhan gak pernah bilang "Hey, umatku.. menikahlah di usia 25 tahun." Atau apalah itu.. Yang lebih mengenal diri saya adalah saya sendiri. Jadi, mau kapan saya menikah, saya yang bs menjawab itu. Jawaban yang bukan untuk disebarluaskan. Saya jg punya impian, tp bukan untuk diumbar-umbar.

Kembali ke esensi sebuah pernikahan. Saya sering berpikir, "ngapain sih nikah, kalo ternyata kata bnyk orang yang sudah nikah, menikah itu bukan urusan mudah." Potret dunia pernikahan dalam kepala saya memang beragam. Dan inilah yang membuat saya sering bertanya2, "buat apa menikah?"

Menikah adalah sebuah komitmen. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa diceraikan oleh manusia. Namun, banyak hal yang bertentangan terjadi. Pasangan dgn mudah menikah dan dengan mudah bercerai. Pasangan menikah, tapi ketemu sama suami/istrinya aja malesnya bukan main. Pasangan menikah, tapi enggak ada rasa kangen meluk atau cium suami/istrinya dgn kemesraan. Pasangan menikah, tapi lebih baik waktunya dihabiskan untuk bekerja atau pergi sm tmn2nya, drpd ketemu suami/istrinya di rmh. Pasangan menikah, tapi hal-hal pribadi justru diceritakan ke sahabat lawan jenisnya daripada ke suami/istrinya. Pasangan menikah, tapi jika ada kesulitan bukannya minta tolong pada suami/istrinya, melainkan pada orang lain lawan jenisnya.

Yahhh.. Banyak sekali potret hal2 seperti itu dalam hidup saya. Dan jika yang terjadi memang demikian, itu sama saja seperti yang dikatakan teman saya bahwa "menikah itu tidak lebih dari melegalkan hubungan seksual."

Saya bukan wanita aliran feminis (mentang2 hari kartini yaa.. hehe). Saya seorang wanita tulen yang tidak anti terhadap pernikahan dan tetap memiliki impian untuk menikah dengan seorang pria pilihan saya, yang saya kasihi, dan menikahnya kami bukan karena perintah orangtua, melainkan kesadaran kami bersama.

Tulisan ini hanya bermula dari keprihatinan saya dengan dunia pernikahan saat ini. Dengan mudah orang-orang mengucapkan "would you marry me?" dan mengucapkan janji pernikahan. Tapi dengan mudah pula, semuanya berakhir di meja pengadilan. Bahkan kesamaan keyakinan dan juga larangan dari lembaga agama yang melarang perceraian pun, tetap tidak bisa menghalangi sebuah perpisahan.

Lalu, buat apa orang menikah??

Semoga.. tulisan pendek saya ini bisa mengajak teman-teman semua untuk menghargai esensi dari pernikahan. Yang sudah menikah tapi merasakan hal yang hambar dengan pasangannya, coba diingat-ingat kembali "mengapa saya dulu memilihnya dengan sadar sebagai pasangan hidup saya". Peluk dan cium lagi pasangan Anda dengan penuh kemesraan seperti yang pernah Anda lakukan dulu. Tidak ada yang membosankan dalam dunia ini, kecuali Anda bisa menciptakan penyegaran-penyegaran yang bisa menghangatkan.

Bagi yang akan menikah, selamat sudah berani memutuskan keputusan pertama dan terakhir dalam hidup Anda. Pikirkan lagi, apakah benar2 dia orang yang Tuhan beri kepada Anda. Jangan sampai setelah cincin melingkar di jari manis kanan, Anda baru menyesalinya karena baru menemukan orang yang Anda benar2 cintai.

Dan bagi yang belum menikah, sabar sajaa... Hanya Anda yang punya jawaban atas itu semua. Tidak perlu termakan dgn pertanyaan2 klise "kapan married?" itu. Anggap saja itu sebuah doa. Tapi juga jangan terburu-buru. Bisa jadi kan, di detik2 menjelang keputusan penting itu, Tuhan beri kejutan yang lain.

Intinya, mari kita menghargai pernikahan. Mari kita hargai perasaan orang yang kita nikahi itu. Kita mungkin merasa bahwa kita sudah menghargainya, tapi kita tidak tahu apa yang benar-benar ada dalam pikirannya.

"Happy Wedding"
baca selengkapnya......

Minggu, 11 April 2010

Mencari Ide di Pameran Kartun Benny dan Mice

Malam ini tadi, hari Minggu 11 April 2010, sepulang dari ibadah di gereja, saya dan pacar saya jalan-jalan ke pameran kartun Benny & Mice di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran yang diselenggarakan di BBY bekerja sama dengan Kompas Gramedia ini, ternyata keren loo... Sangat direkomendasikan untuk para penggemar kartun. Bahwa ternyata kartun di Indonesia itu bagus dan tidak kalah dengan kartun dari Jepang atau negara lain.



Awalnya kita disuguhi dengan kartun mereka dalam buku "Lagak Jakarta" serta "100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta. Berbagai cerita tentang perilaku orang-orang Jakarta digambarkan dengan unik dan menarik. Setting tempatnya pun juga bagus. Cucian bergelantung di mana-mana. Menggambarkan kondisi perkampungan di Jakarta di mana cucian bergelantungan di depan pagar, seperti toko baju. Selain itu, di dalah satu sudut ruang pameran ini juga dibuat sebuah bak sampah yang berantakan. Persis seperti Jakarta dan masalah sampahnya yang tidak kelar-kelar.


Lucu lagi tentang penggambaran kartunis Benny & Mice ini tentang hebohnya bersepeda saat berangkat kerja alias "Bike to Work". Alasannya ramah lingkungan dan menyehatkan badan. Apalagi buat kota besar metropolitan ini. Mereka gambarkan dalam kartun lucu seperti ini.


Setelah itu, belok ke kanan kita akan melihat pemandangan yang bertolak belakang dengan keribetan di Jakarta, yaitu Bali. Ya, seperti pada buku mereka "Lost in Bali". Bau dupa yang dipasang sudah harum sekali.. Belum lagi sarung kotak-kotak yang ikut dipasang. Meski biasanya buat nutupi batang pohon, namun dalam pameran ini buat nutupin pot pohon.


Satu hal yang lucu dan ini memang benar-benar saya lihat di Bali ketika saya mengunjungi pulau itu 1 tahun yang lalu. Banyak sekali orang-orang yang memakainya. Saya pikir ini mungkin memang pantas & wajib dipakai di pulau penuh pantai ini. "Supaya tidak licin & kepleset" pikir saya. Namun, Benny & Mice menggambarkan dari sisi yang berbeda. Dan ini lucu! :)


Lalu, tidak luput juga karikatur dalam buku mereka "Dari Presiden ke Presiden" juga dipertontonkan. Beberapa karikatur lain yang sangat relevan dalam kehidupan sekarang ini banyak sekali. Mulai dari kasus Century sampai cerita tentang Pajak yang dipertanyakan kejelasannya.


Satu lagi. Hebohnya kampanye tentang Global Warming ternyata juga ikut digambarkan oleh mereka. Menunjukkan bahwa mereka memang jeli melihat momen dan ikut serta dalam menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli lagi dengan lingkungan. Salah satunya dengan tidak boros tissue. Memakai tissue berlebihan = menebang pohon.


Masuk ke salah satu sudut dalam ruangan di BBY ini, kita akan melihat kliping profil dan cerita seputar Benny & Mice. Semua dipasang besar dan ditempel. Puas deh nglihatnya. Kalau tidak pegel, bisa dibaca satu-satu semua klipingnya. :)


Terakhir... Kita akan diperlihatkan sejarah awal mula pertemanan Benny Rachmadi (Benny) dengan Muhammad Misrad (Mice), sampai pada akhirnya mereka membuahkan karya spektakuler ini. Dan di sudut dekat pintu keluar ada buku gambar yang bisa kita coret-coret atau gambari, serta kritik & saran kita untuk pasangan ini. "Bikin kartun tentang kota Jogja donk.." itu bocoran saran saya untuk dua kartunis keren dari tanah air ini.


Bagi yang belum sempat main ke sana. Pameran masih dibuka kok. Mulai dari tanggal 6 - 15 April 2010, pkl. 09.00 - 21.00 WIB. Di Bentara Budaya - Kompas, Jl. Kota Baru, Yogyakarta. Pulang dari situ, banyak inspirasi dan ide deh.. ;)
baca selengkapnya......