Tampilkan postingan dengan label merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merapi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2010

Jogja Diguyur Hujan Krikil, Pasir, dan Abu


Rumah saya, sekitar 23 km dari Merapi, dan 500 meter dari Stadion Maguwoharjo Sleman.

Malam dini hari ini, saya dikagetkan dgn suara gemuruh yg kencang, lebih kencang dr biasanya. Lalu diiringi getaran yang panjang & menggetarkan kaca2 di rumah saya. Kami sekeluarga bergegas ke luar rumah, dan menengok ke utara. Berjaga-jaga, jangan2 merapi kembali meletus. Tapi kabut pekat menutupi jarak pandang kami. Setelah sedikit mereda, kami kembali masuk ke rumah, tidur dengan pintu kamar terbuka, untuk waspada dan siap lari jika terjadi sesuatu.

Kami kembali dikagetkan, dengan suara "pletik-pletik" seperti hujan rintik2 yg menjatuhi genteng. Tp ini beda. Kami bergegas keluar, dan ternyata.. itu hujan krikil dan pasir. Semakin lama semakin deras dan keras. Kentongan di perumahan dipukul untuk membangunkan para warganya. Kami diminta waspada dan tetap di dalam rumah. Semakin lama, hujan krikil itu menipis menjadi hujan abu.

Saya tidak bs tidur nyenyak. Pukul 3 pagi saya baru bisa memejamkan mata dan pukul 6 pagi saya terbangun mendengar suara ramai di depan dan suara sirene. Jarak aman diperluas lagi menjadi radius 20 km. Dan mobil2 yang turun melewati gerbang perumahan saya menuju ke Stadion Maguwoharjo untuk mengantarkan pengungsi yang dipindah. Kami diperintahkan oleh Kepala Dusun untuk membuat nasi bungkus dan mengkoordinasikannya untuk dikirim ke sana. Di sana benar2 penuh. Lebih penuh daripada ketika ada sepak bola. Di sana tidak ada tikar dan dapur umum.

Saya semakin kaget, ketika mendengar bahwa Desa Cangkringan di timur perumahan saya sudah diterjang awan panas. Ya Tuhan... Sejauh itu? Desa Cangkringan itu sekitar 6 km dari rumah saya. Dan di sana banyak korban. Padahal sebelumnya, Cangkringan masih di radius 15 km yg sebelumnya dinyatakan aman. Sampai sekarang, hujan abu tipis masih menyelimuti rumah saya dan kota jogja pada umumnya.

Jujur saja, kali ini saya lebih panik & khawatir dibandingkan gempa bumi 2006 lalu. Tapi, saya harus terus waspada dan berbagi informasi penting dengan teman2 untuk keselamatan kami bersama. Listrik yang padam membuat kami sedikit terisolasi dari informasi berita. Tetapi hp yang nyala memutar radio dan memancarkan berita. Hujan abu yang pekat membuat jalan licin. Semua diminta waspada dan menaiki kendaraan dengan pelan2. Sudah banyak kecelakaan akibat terlalu panik & ngebut di jalan. Jangan lupa juga pakai kacamata & maskernya, bau belerang sangat menyengat menusuk hidung. Lebih baik, pakai jaket atau mantel plus helm dengan kaca tertutup di depan.

Untuk informasi, teman2 yang ingin memberikan bantuan, jangan hanya terkonsentrasi di Stadion Maguwoharjo, karena tempat ini yg sering diberitakan di TV. Tetapi, universitas2 di Jogja mendadak jd tempat pengungsian. Seperti UII, Jakal km.14, Univ. Sadhar, Paingan (timur Stadion Maguwo), Univ Atmajaya Babarsari & Mrican, Seminari Jakal km.7, dan Stadion Tridadi Sleman. Itu semua baru yg di Jogjakarta, yang di daerah Muntilan & Klaten masih ada lagi.

Bagi yg ingin memantau keluarga di Jogja, bisa memfollow twitter @jalinmerapi atau mengecek di google map radius lingkar aman merapi di url ini: http://merapi.combine.or.id/posko/

Teman2 semua.. Saya mohon doanya. Untuk keluarga besar penghuni Yogyakarta..
baca selengkapnya......

Rabu, 03 November 2010

Bencana Jadi Ajang Eksis


Merapi kembali memuntahkan erupsi lahar panasnya. Kali ini lebih dahsyat, ilmuwan bilang 3x melebihi letusan di tahun 2006 lalu. Efeknya memang terasa sampai di kota. Selain hawa panas yang terasa, abu vulkanik pun membuat Jogja gelap & sesak oleh bau belerang yang menyengat.


Tidak hanya itu saja. Sekarang, gunung-gunung berapi lainnya pun mulai naik dalam status waspada. Ahh.. Ada apa dengan Indonesia? Orang-orang menyebut bencana alam itu untuk menghukum manusia. Stop! Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. It's not fair, karena kenyataannya kita semua ini berdosa & masih hidup serta diberi kesempatan untuk bertobat. Orang-orang ahli penghitung angka mengait-ngaitkan tanggal kejadian dengan ayat-ayat di Kitab Suci. Ah, saya tidak terlalu memusingkannya. Orang-orang ramai-ramai ketakutan dengan sms yang menyesatkan dan menyuruh kita untuk tidak tidur, bahkan kalau perlu mengungsi. Ah, saya hanya menyerahkan semua pada Tuhan karena kemana pun saya berlari, kalau sudah takdir, tak bisa dihindari.

Gara-gara peristiwa ini, saya baru mengetahui bahwa 13% gunung di bumi ini berada di Indonesia. Itu artinya, Indonesia memiliki gunung terbanyak di dunia & teraktif. Satu gunung termuda & teraktif di dunia adalah Gunung Merapi. Itu artinya, ternyata saya tinggal di kaki gunung tersebut. Wow!!

Tidak! Saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti. Gunung Merapi yang indah itu bukan untuk dimaki sebagai perusak kehidupan manusia dan bukan untuk ditakuti. Dia telah menghidupi masyarakat Jogja dengan airnya yang segar dan jernih, dia telah membangun gedung-gedung pencakar langit dengan pasirnya yang kualitas bagus, dan dia juga yang membuat Jogja menjadi kota yang adem, aman, dan nyaman, karena hawanya yang sejuk. Saat ini kita hanya perlu bersabar menunggu dia tidur kembali.

Satu hal yang membuat saat ini saya sangat takjub, apalagi fenomena social networking sedang membooming. Semua orang berlomba-lomba mengupdate statusnya: "sedang di shelter A, memberikan bantuan untuk korban merapi", atau mungkin mengupload foto2 dengan gayanya yang eksis, "perusahaan A, menyumbangkan sekian puluh juta untuk korban merapi". Sampai di sana, bendera nama perusahaan itu dikibarkan dengan dalih sebuah wujud CSR. Ah, saya pikir itu sama seperti numpang promosi di tengah bencana.

Kalau selama ini kita sering mengatakan, "Partai A tuh, pasang bendera di sana. Pasti kampanye tuh.. biar pemilu besok, kadernya yang menang". Sebaiknya kita berpikir ulang, apakah selama ini kita seperti itu juga? Bukankah sama, kalau partai itu memasang bendera partainya, kita sebenarnya sama saja dengan memasang nama perusahaan kita. Kalau partai itu ingin mencari massa, supaya besok banyak yang mencontrengnya, perusahaan2 itu pun ingin supaya produknya dikenal dan dibeli banyak orang.

Tidak bisa dipungkiri, bencana memang salah satu cara untuk numpang ngeksis. Kalau dulu ngeksisnya hanya di lokasi bencana, sekarang kita bisa ngeksis juga di social networking. Seakan-akan kita ini sudah menjadi orang yang paling dermawan di mata banyak orang dengan menyumbang sekian banyak untuk para korban bencana. Tuhan menginginkan itukah? Saya katakan, tidak! dengan keras.

Kalau kita memberi dengan uluran tangan kanan, sebaiknya sembunyikan tangan kiri kita. Maksudnya, Tuhan tidak ingin kita jadi sombong dan menepuk dada, karena kita dan perusahaan, atau kita dan partai kita, bisa menyumbang sekian puluh juta.

Dan, saya kembali bertanya. Beranikah kita memberi & menyumbang kepada korban bencana di sana, dengan datang dan menulis di buku tamu daftar penyumbangnya, "dari PT NN", "dari Partai NN", "dari Komunitas NN"?

Yang mencatat amal ibadah kita adalah Tuhan, bukan para relawan penjaga shelter penampungan. Dan yang melihat seberapa tulus kita membantu adalah Tuhan, bukan para friendlist atau follower kita di social networking.

Selamat membantu sesama kita dan tak henti-hentinya saya mengajak kita semua untuk #prayforindonesia.
baca selengkapnya......

Jumat, 11 Desember 2009

Mencari Merapi


Seperti biasa, saya pulang ke rumah sekitar pukul 17.30. Kantor saya di selatan, sedangkan rumah saya di utara. Dan Jalan Gejayan yang sekarang berubah nama menjadi Jalan Affandi menjadi jalan wajib sehari-hari baik berangkat ataupun pulang beraktivitas.


Dalam perjalanan pulang, saya jadi teringat. Dulu setiap saya pulang kuliah atau pulang berakltivitas di sore hari, saya selalu melihat pemandangan cakep di arah utara. Yaitu gunung merapi berdiri kokoh dengan gagahnya. Jelas sekali dan seakan-akan dekat dengan kota Yogyakarta. Tidak ada awan atau kabut yang menutupi, tidak ada awan mengepul yang membuat warga Yogyakarta berpikir bahwa gunung itu sedang adem ayem. Tapi jika gunung itu mengepul dengan asap yang membumbung tinggi, wahh… bisa jadi tanda tanya, jangan-jangan sedang ada aktivitas di perut gunung itu.

Dari rumah saya di kuku kaki gunung merapi pun bisa terlihat pemandangan apik itu. Tinggal naik ke lantai atas, duduk-duduk di balkon depan, atau kalau perlu naik ke atap rumah, pemandangannya cantik nian. Atau jika tidak mau bersusah payah, bisa juga tinggal duduk di depan rumah, gunung ganteng itu bisa terlihat jelas rupawan.
Dulu, ketika peristiwa gempa mengguncang kota saya tahun 2006 silam. Semua penduduk perumahan tempat saya tinggal, ke luar rumah dan menenggok ke arah utara. Jangan-jangan gunung itu meletus dengan dahsyatnya – maklum saat itu memang kami sedang menanti detik-detik gunung itu memuntahkan isi perutnya.

Sebelum gempa itu terjadi, orang tua saya pernah pamit pada anak-anaknya, katanya mau beli roti bakar dulu di dekat pasar. Tapi sampai jam 22.00 belum juga pulang. Saya menunggu mereka sambil terkantuk-kantuk di ruang tengah. Ealahh.. ternyata mereka mampir ke rumah Mbah Marijan di kaki gunung merapi sono. Sempat disuguhi teh, mengobrol dengan penduduk setempat tentang aktivitas Merapi, dan juga mengobrol dengan wartawan stasiun TV nasional.

Sedemikian besar perhatian kami – warga Ngayogyakarta Hadiningrat ini terhadap gunung gagah di utara Yogyakarta. Tapi sekarang dan setahun terakhir ini, saya tidak pernah melihatnya lagi. Hhhhmm… Ke mana ya gerangan gunung ganteng itu? Baik-baik saja kah dikau berdiri dengan gagah di utara sana? Perlihatkan dirimu lagi ya pada kami yang kangen padamu. Perlihatkan dengan baik-baik saja dan tidak perlu dengan kehebohan muntahan isi perut atau kepulan asap tebal. Itu sudah cukup menunjukkan bahwa kau baik-baik saja di utara sana.
baca selengkapnya......