Kamis, 04 November 2010

Jogja Diguyur Hujan Krikil, Pasir, dan Abu


Rumah saya, sekitar 23 km dari Merapi, dan 500 meter dari Stadion Maguwoharjo Sleman.

Malam dini hari ini, saya dikagetkan dgn suara gemuruh yg kencang, lebih kencang dr biasanya. Lalu diiringi getaran yang panjang & menggetarkan kaca2 di rumah saya. Kami sekeluarga bergegas ke luar rumah, dan menengok ke utara. Berjaga-jaga, jangan2 merapi kembali meletus. Tapi kabut pekat menutupi jarak pandang kami. Setelah sedikit mereda, kami kembali masuk ke rumah, tidur dengan pintu kamar terbuka, untuk waspada dan siap lari jika terjadi sesuatu.

Kami kembali dikagetkan, dengan suara "pletik-pletik" seperti hujan rintik2 yg menjatuhi genteng. Tp ini beda. Kami bergegas keluar, dan ternyata.. itu hujan krikil dan pasir. Semakin lama semakin deras dan keras. Kentongan di perumahan dipukul untuk membangunkan para warganya. Kami diminta waspada dan tetap di dalam rumah. Semakin lama, hujan krikil itu menipis menjadi hujan abu.

Saya tidak bs tidur nyenyak. Pukul 3 pagi saya baru bisa memejamkan mata dan pukul 6 pagi saya terbangun mendengar suara ramai di depan dan suara sirene. Jarak aman diperluas lagi menjadi radius 20 km. Dan mobil2 yang turun melewati gerbang perumahan saya menuju ke Stadion Maguwoharjo untuk mengantarkan pengungsi yang dipindah. Kami diperintahkan oleh Kepala Dusun untuk membuat nasi bungkus dan mengkoordinasikannya untuk dikirim ke sana. Di sana benar2 penuh. Lebih penuh daripada ketika ada sepak bola. Di sana tidak ada tikar dan dapur umum.

Saya semakin kaget, ketika mendengar bahwa Desa Cangkringan di timur perumahan saya sudah diterjang awan panas. Ya Tuhan... Sejauh itu? Desa Cangkringan itu sekitar 6 km dari rumah saya. Dan di sana banyak korban. Padahal sebelumnya, Cangkringan masih di radius 15 km yg sebelumnya dinyatakan aman. Sampai sekarang, hujan abu tipis masih menyelimuti rumah saya dan kota jogja pada umumnya.

Jujur saja, kali ini saya lebih panik & khawatir dibandingkan gempa bumi 2006 lalu. Tapi, saya harus terus waspada dan berbagi informasi penting dengan teman2 untuk keselamatan kami bersama. Listrik yang padam membuat kami sedikit terisolasi dari informasi berita. Tetapi hp yang nyala memutar radio dan memancarkan berita. Hujan abu yang pekat membuat jalan licin. Semua diminta waspada dan menaiki kendaraan dengan pelan2. Sudah banyak kecelakaan akibat terlalu panik & ngebut di jalan. Jangan lupa juga pakai kacamata & maskernya, bau belerang sangat menyengat menusuk hidung. Lebih baik, pakai jaket atau mantel plus helm dengan kaca tertutup di depan.

Untuk informasi, teman2 yang ingin memberikan bantuan, jangan hanya terkonsentrasi di Stadion Maguwoharjo, karena tempat ini yg sering diberitakan di TV. Tetapi, universitas2 di Jogja mendadak jd tempat pengungsian. Seperti UII, Jakal km.14, Univ. Sadhar, Paingan (timur Stadion Maguwo), Univ Atmajaya Babarsari & Mrican, Seminari Jakal km.7, dan Stadion Tridadi Sleman. Itu semua baru yg di Jogjakarta, yang di daerah Muntilan & Klaten masih ada lagi.

Bagi yg ingin memantau keluarga di Jogja, bisa memfollow twitter @jalinmerapi atau mengecek di google map radius lingkar aman merapi di url ini: http://merapi.combine.or.id/posko/

Teman2 semua.. Saya mohon doanya. Untuk keluarga besar penghuni Yogyakarta..
baca selengkapnya......

Rabu, 03 November 2010

Tuhan Tidak Pernah Menghukum Kita dengan Bencana


Bencana datang bertubi-tubi kepada negara kita. Baik bencana alam, bencana akibat ulah manusia, sampai bencana dalam pemerintahan. Akibatnya banyak pertanyaan terlontar, mengapa negara kita ini sering terkena bencana, mengapa bukan negara lain, mengapa harus kita? Ya, banyak pertanyaan itu mungkin terbersit dalam benak kita, begitu juga saya.


Salah satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang saya baca di beberapa blog, dan di status teman saya adalah, bencana ini akibat ulah manusia, yang dengan kata lain Tuhan sedang menghukum manusia akibat ulah dosa-dosanya.

Saya pribadi sangat tidak setuju dengan pernyataan itu. Okey, saya memang bukan seorang ahli agama atau pemuka agama, dan nilai agama saya bukan yang terbaik di dunia ini. Tapi yang saya amini adalah Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. Betapa pun besarnya dosa dan pelanggaran kita, Tuhan tidak pernah menghukum kita. Semua cobaan yang menimpa bumi ini, negara kita, dan kita secara pribadi, bukan untuk menghukum kita.

Kalau ada yang bertanya pada saya dan menunjukkan tentang “bencana” yang Tuhan limpahkan ke manusia pada zaman Nuh dengan air bahnya, atau hujan api pada zaman Lot di kota Sodom dan Gomora. Maka saya akan menjawab, itu dulu. Berabad-abad yang lalu sebelum masehi, dan ketika hubungan Tuhan dan manusia bisa dilakukan secara langsung. Tetapi sekarang sangat berbeda, hubungan kita dan Tuhan sejauh doa. Jalan Tuhan tidak terselami oleh apapun juga, sekalipun itu ilmu pengetahuan atau ilmu agama apapun.

Bukankah ketika Tuhan memberikan pelangi setelah air bah pada zaman Nuh, itu merupakan janji Tuhan, bahwa Tuhan tidak akan memberikan bencana sedemikian dahsyatnya lagi untuk memusnahkan manusia. Dan sampai sekarang, saya tetap mempercayainya.

Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa bencana bertubi-tubi itu menimpa negara kita? Menimpa keluarga kita? Menimpa saudara kita? Atau mungkin menimpa diri kita sendiri.

Secara ilmiah, saya akan menjawab bahwa bencana demi bencana itu karena letak geografis negara kita di pertemuan 3 lempeng, Eurasia, Samudra Pasifik, dan Indo-Australia. Lokasinya yang sangat subur, melimpah kekayaan alam, termasuk juga gunung menjamur di negeri ini. Selanjutnya, silakan kalian pelajari sendiri sisi ilimiah ini.

Lalu secara ketuhanan, saya akan tetap pada keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. Okey, sekarang begini. Kalau memang Tuhan mau menghukum umatNya, dosa apakah mereka para korban bencana itu? Apakah dosa mereka jauh lebih besar melebihi dosa para koruptor? Lalu mengapa bencana itu tidak ditimpakan saja pada para koruptor, para pembunuh, para teroris? Mengapa bencana justru menimpa pada wong cilik dengan tingkat ekonomi bawah?

Apakah bencana itu akibat kemaksiatan negara kita? Pornografi yang merajalela? Freeseks yang seakan-akan tidak lagi menjadi tabu? Kalau memang begitu, mengapa bencana itu tidak ditimpakan saja ke negara-negara barat yang memperbolehkan freeseks. Mengapa tidak ditimpakan saja ke rumah bordil, lokalisasi psk, atau artis-artis bintang bokep?

Saya, yang notabene manusia biasa ini, punya pemikiran dan jawaban yang berbeda. Menurut saya, bencana adalah suatu ujian dari Tuhan untuk umatNya. Ibarat guru yang selalu memberikan pelajaran-pelajaran baik setiap harinya, maka suatu hari aka nada ulangan alias ujian. Bahkan tidak jarang juga guru kita memberikan ulangan dadakan. Ya, seperti Tuhan juga. Bencana ini untuk menguji kita, apakah kita sudah layak disebut umatNya.

Secara teori semua kitab suci sudah disebutkan, bahwa kita harus mengasihi orang lain terutama orang tertindas, kita harus menolong orang yang kesusahan, kita tidak boleh mendewakan harta benda, kita tidak boleh membeda-bedakan orang lain, dan lain sebagainya. Tetapi bagaimana kalau teori itu “ditantang” Tuhan untuk dipraktikkan?

Dari bencana kita belajar untuk sabar, semua ujian hidup yang mendera tidak pernah melebihi kekuatan kita sebagai manusia.

Dari bencana kita belajar untuk tabah, kita pasti dikuatkan oleh rekan-rekan yang ada di sekitar kita, jadi belajarlah untuk “melihat” mereka dan tidak menyalahkan diri sendiri.

Dari bencana kita diajarkan untuk berserah, sekalipun itu menimpa keluarga kita dan mengambil nyawa orang-orang yang kita cintai, tetapi berserahlah karena pasti ada rencana yang indah di balik itu semua.

Dari bencana kita belajar untuk pasrah, menyerahkan semuanya kepada Tuhan, karena yang punya kehidupan kekal ini cuma Tuhan, kita ibarat artis yang bersandiwara mengikuti scenario yang dibuatNya.

Dari bencana kita belajar untuk berbagi, karena rejeki yang Tuhan beri kepada kita tidak boleh dinikmati sendiri. Ingat, tidak ada orang yang miskin karena memberi.
Dari bencana kita belajar untuk menolong, karena kalau kita mengatakan “aku mencintaiMu Tuhan”, tetapi kita tidak menolong orang lain, itu sama saja omong kosong. Tuhan itu ada dalam diri mereka yang akan kita tolong dan juga dalam diri siapapun mereka yang pernah menolong kita.

Dari bencana kita belajar untuk tidak membeda-bedakan, semua manusia itu sama dihadapan Tuhan. Kaya miskin, kuat lemat, dari suku A suku B, dari partai A partai B, dari agama A agama B. Semuanya sama. Dan maukah kita berbagi dan menolong kepada orang-orang yang kita katakan “berbeda”?

Dari bencana kita belajar untuk tidak mendewakan ilmu pengetahuan, Tuhan memang memberi kita akal budi dan pikiran untuk menjelajah bumi dan segala isinya. Tetapi ilmu pengetahuan yang paling mutakhir pun bisa dipatahkan Tuhan.

Dari bencana kita belajar untuk tidak mendewakan harta benda, karena semua itu tidaklah abadi. Harta hanyalah titipan Tuhan di bumi ini untuk dikelola dengan baik, bukan dibawa sampai mati. Masih ingatkan cerita istri Lot yang menjadi tiang garam karena dia masih menengok ke belakang dan melihat rumah dan harta bendanya habis dibakar hujan api? Ya, itu teori kitab sucinya. Ketika sudah dalam kehidupan nyata, mampukah kita benar-benar melaksanakannya.

Dari bencana kita belajar bahwa hidup itu sementara, susah sedih sementara, kaya miskin sementara, dan suatu saat siapa pun juga pasti akan mengalami kematian. Siap tidak siap, tidak ada yang tahu kapan kita mati dan dengan cara bagaimana. Tapi satu hal yang bisa kita siapkan adalah mengisi kehidupan ini dengan berbuat baik kepada siapa saja.


Yaa.. Banyak yang bisa kita pelajari dari bencana. Takdir membawa kita dilahirkan dari rahim ibu berkebangsaan Indonesia. Takdir pula yang membawa kita hidup dan berkarya di Indonesia. Dan sekali lagi, bencana bukan cara Tuhan menghukum manusia tetapi menguji kita untuk bisa naik kelas lagi dalam sekolah kehidupan. Selanjutnya? Kualitas hidup kita akan jauh lebih meningkat.

Selamat menjalani hidup kawan! Tuhan memberkati.
baca selengkapnya......

Bencana Jadi Ajang Eksis


Merapi kembali memuntahkan erupsi lahar panasnya. Kali ini lebih dahsyat, ilmuwan bilang 3x melebihi letusan di tahun 2006 lalu. Efeknya memang terasa sampai di kota. Selain hawa panas yang terasa, abu vulkanik pun membuat Jogja gelap & sesak oleh bau belerang yang menyengat.


Tidak hanya itu saja. Sekarang, gunung-gunung berapi lainnya pun mulai naik dalam status waspada. Ahh.. Ada apa dengan Indonesia? Orang-orang menyebut bencana alam itu untuk menghukum manusia. Stop! Tuhan tidak pernah menghukum umatNya. It's not fair, karena kenyataannya kita semua ini berdosa & masih hidup serta diberi kesempatan untuk bertobat. Orang-orang ahli penghitung angka mengait-ngaitkan tanggal kejadian dengan ayat-ayat di Kitab Suci. Ah, saya tidak terlalu memusingkannya. Orang-orang ramai-ramai ketakutan dengan sms yang menyesatkan dan menyuruh kita untuk tidak tidur, bahkan kalau perlu mengungsi. Ah, saya hanya menyerahkan semua pada Tuhan karena kemana pun saya berlari, kalau sudah takdir, tak bisa dihindari.

Gara-gara peristiwa ini, saya baru mengetahui bahwa 13% gunung di bumi ini berada di Indonesia. Itu artinya, Indonesia memiliki gunung terbanyak di dunia & teraktif. Satu gunung termuda & teraktif di dunia adalah Gunung Merapi. Itu artinya, ternyata saya tinggal di kaki gunung tersebut. Wow!!

Tidak! Saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti. Gunung Merapi yang indah itu bukan untuk dimaki sebagai perusak kehidupan manusia dan bukan untuk ditakuti. Dia telah menghidupi masyarakat Jogja dengan airnya yang segar dan jernih, dia telah membangun gedung-gedung pencakar langit dengan pasirnya yang kualitas bagus, dan dia juga yang membuat Jogja menjadi kota yang adem, aman, dan nyaman, karena hawanya yang sejuk. Saat ini kita hanya perlu bersabar menunggu dia tidur kembali.

Satu hal yang membuat saat ini saya sangat takjub, apalagi fenomena social networking sedang membooming. Semua orang berlomba-lomba mengupdate statusnya: "sedang di shelter A, memberikan bantuan untuk korban merapi", atau mungkin mengupload foto2 dengan gayanya yang eksis, "perusahaan A, menyumbangkan sekian puluh juta untuk korban merapi". Sampai di sana, bendera nama perusahaan itu dikibarkan dengan dalih sebuah wujud CSR. Ah, saya pikir itu sama seperti numpang promosi di tengah bencana.

Kalau selama ini kita sering mengatakan, "Partai A tuh, pasang bendera di sana. Pasti kampanye tuh.. biar pemilu besok, kadernya yang menang". Sebaiknya kita berpikir ulang, apakah selama ini kita seperti itu juga? Bukankah sama, kalau partai itu memasang bendera partainya, kita sebenarnya sama saja dengan memasang nama perusahaan kita. Kalau partai itu ingin mencari massa, supaya besok banyak yang mencontrengnya, perusahaan2 itu pun ingin supaya produknya dikenal dan dibeli banyak orang.

Tidak bisa dipungkiri, bencana memang salah satu cara untuk numpang ngeksis. Kalau dulu ngeksisnya hanya di lokasi bencana, sekarang kita bisa ngeksis juga di social networking. Seakan-akan kita ini sudah menjadi orang yang paling dermawan di mata banyak orang dengan menyumbang sekian banyak untuk para korban bencana. Tuhan menginginkan itukah? Saya katakan, tidak! dengan keras.

Kalau kita memberi dengan uluran tangan kanan, sebaiknya sembunyikan tangan kiri kita. Maksudnya, Tuhan tidak ingin kita jadi sombong dan menepuk dada, karena kita dan perusahaan, atau kita dan partai kita, bisa menyumbang sekian puluh juta.

Dan, saya kembali bertanya. Beranikah kita memberi & menyumbang kepada korban bencana di sana, dengan datang dan menulis di buku tamu daftar penyumbangnya, "dari PT NN", "dari Partai NN", "dari Komunitas NN"?

Yang mencatat amal ibadah kita adalah Tuhan, bukan para relawan penjaga shelter penampungan. Dan yang melihat seberapa tulus kita membantu adalah Tuhan, bukan para friendlist atau follower kita di social networking.

Selamat membantu sesama kita dan tak henti-hentinya saya mengajak kita semua untuk #prayforindonesia.
baca selengkapnya......

Rabu, 29 September 2010

I Love Diversity, Coz I Live in Indonesia

Temans, saya sedang gelisah tak menentu nih.. *halah* Alasannya saya sedang mempertanyakan tentang arti keberagaman di negara ini. Iya, keberagaman yg bahasa inggrisnya diversity itu.

Pasalnya begini, semenjak heboh2nya kasus FPI yang menentang diselenggarakannya Q! Film Festival serta kasus dibacoknya pendeta dan jemaat HKBP Bekasi itu. Saya jadi mempertanyakan, apa iya.. masih ada keberagaman di negara Indonesia tercinta ini. Lah wong, setiap ada perbedaan pinginnya selalu saja disamakan.


Hhmm.. jadi bertanya-tanya, apa iya sila ke-3 dari Pancasila itu masih ditegakkan. *yang gak apal, diinget2 ya bunyinya gimana* Apa bisa juga, negara Indonesia ini mo disama-ratakan semuanya sampe ke akar2nya. Mulai dari agama - sehingga ada banyak kasus kekerasan yg enggak perlu saya sebutkan. Lalu suku - sehingga ada perang antar suku hanya karna sengketa yang sebenernya bisa diselesaikan baik-baik. Dan yang paling anyar, tentang orientasi seksual yang berbeda.

Yah! Saya katakan "berbeda" bukan "menyimpang. Alasannya, saya ini manusia biasa dan bukan Tuhan. Saya tidak berhak mengatakan bahwa ini benar, itu salah. Itu benar, ini menyimpang. Dan sebagainya.

*sekarang saya mulai serius nihh..* Saya bukanlah seorang homoseksual (queer) alias lesbi *ya,iyalah..kan cewek* Tapi yang saya tahu, seorang homoseksual itu sebenarnya juga tidak menginginkan hal itu terjadi pada dirinya. Sapa sih yang bisa request ke Tuhan untuk dilahirkan dari ibu yang mana? Enggak ada yang bisa kan? Nah.. begitu pula dengan kasus orang-orang homoseks ini. Mereka juga tidak bisa meminta pada Tuhan untuk tidak menjadikan mereka seperti itu.

Lalu, apa itu semacam takdir menjadi seorang homoseks? Yaah.. untuk beberapa case bisa jadi seperti itu. Meski saya bukan orang biologi yang bisa tahu susunan DNA seorang homoseks itu berbeda. Dan saya juga bukan orang psikologi yang bisa mentreat orang homoseks supaya menjadi heteroseks.

Tapi yang saya maksud dari tulisan yang sudah mulai ngladrah ini adalah bahwa saya mendukung Q! Film Festival. No matter orang-orang di luar sana mo bilang apa. Tapi saya yakin festival ini adalah supaya kita menghargai perbedaan2 yang ada di bumi ini dan di negara Indonesia tercinta pada khususnya. Apalagi pesan tentang pencegahan HIV/AIDS juga menjadi topik utama dalam festival ini.

So... Saya tunggu Q! Film Festival ini di Jogja. Setau saya itu tanggal 11-15 Oktober. Duhh.. jadi gak sabar. Tapi tempatnya belum tahu nih.. Kalau teman-teman ada yang tahu infonya, saya dikabar-kabari ya.. Selamat menikmati film-film bertema Queer. *sstt.. saya punya 1 tumpuk dvd film queer as folk nih. cowoknya ganteng2 bo!*
baca selengkapnya......

Selasa, 17 Agustus 2010

Pak Beye, pendapatan per kapita Indonesia naik ya?

Pak Beye, saya mau cerita nih... Kemarin malam, malam tirakatan, dan malam detik2 kemerdekaan. Saya menghabiskan malam dengan nonton TV. Nah, acara yg saya tonton waktu itu adalah Economic Challenges yang dibawakan oleh Pak Suryopratomo dan mendatangkan tamu Menteri Perekonomian, Pak Hatta Radjasa.


Bapak nonton acara itu tidak? Saya rasa sih tidak.. Karena Bapak pasti sedang sibuk tirakatan di Cikeas atau mungkin gladi resik upacara 17 agustus utk besok paginya. Jadi, saya mau bercerita sedikittt saja tentang isi acara tersebut yang menurut saya sedikittt menggelitik.

Secara garis besar, episode Economic Challenges malam itu menarik. Karena isinya sangat positif, dan benar-benar positif. Yaitu mengajak bangsa Indonesia utk optimis. Ya, optimis memandang perkembangan ekonomi di negara kita ini. Wah.. bagus to itu Pak.. Di buku The Secret aja ditulis bahwa pikiran kita ini yang akan mengontrol kehidupan kita. Jadi, kalau pikiran kita udah optimis, maka hasilnya nanti bagus dan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam hal ini, yaitu tentang perekonomian Indonesia.

Nah, satu hal yang menggelitik adalah... tentang perkataan Pak Hatta Radjasa yang menyebutkan bahwa pendapatan per kapita negara kita ini naik. Waa.. saya keplok-keplok sendiri, sampe standing applause mendengarnya. Tunggu.... rasanya ada yang ganjil deh Pak..

Okey.. sekarang saya mau berekonometri, meski saya ini lulusan siswa kelas IPA yg nilai ekonominya dulu tidak sebagus nilai matematika. Bermodal tanya2, baik ke teman ataupun ke mbah google, saya mencari rumus menghitung pendapatan per kapita sebuah negara. Nah... cara bodohnya begini.. Wah.. saya kok jadi ngajari Bapak ya.. Bapak pasti kan udh lebih pinter. Ah, saya ngajari temen2 saya yg lain aja deh.. Hehehe..

Begini contohnya... Di rumah saya ada 5 orang penghuni, anggap semuanya berusia produktif, dan gajinya masing2 Rp 200.000. Jadi, kalau ditotal Rp 1.000.000. Bener kan? Nah, tahun ini gaji saya dan gaji adik saya naik masing2 Rp 500.000, jadi dapetnya masing2 Rp 700.000. Bener... Mudeng kan.. Tapi, gaji penghuni rumah yang lain tetap Rp 200.000 loh... Lalu, mari semua gaji kami serumah ditotal. Saya dan adik (2 x @Rp 700.000) + 3 penghuni lain (3 x @Rp 200.000) = Rp 2.000.000.

Jadi.. pendapatan per kapita rumah saya naik kan... Kalau dulu totalnya Rp 1.000.000 : 5 = Rp 200.000. Jadi pendapatan per kapita rumah saya Rp 200.000. Sekarang kalau ditotal Rp 2.000.000 : 5 = Rp 400.000. Maka, pendapatan per kapita rumah saja naik jadi Rp 500.000. Tapi.... bagaimana nasib dengan 3 penghuni lainnya?

Nah... itu Pak yang menggelitik. Gaji pegawai Indonesia naik, tapi... yang gajinya enggak naik, lebih banyak dibandingkan yang gajinya naik. Yang punya gaji, lebih sedikit dibandingkan yang pengangguran. Bahkan, pekerja yang gajinya sampai puluhan juta... sebenernya kalau dibagi ke UMR terendah di Indonesia, bisa dapet berapa pekerja tuh.

Itu Pak... yang menurut saya menggelitik. Sampe saya geli sendiri & mringis, melihat kenyataan negara kita yang sungguh tragis, sampai rasanya mau menangis.

Apalagi, harga2 bahan pokok meningkat. Seperti yang dibilang Pak Hatta Radjasa semalem, bahwa harga bahan pokok memang meningkat, tetapi jangan dibandingkan dengan harga 10 tahun yg lalu. 10 tahun yg lalu pendapatannya berapa? Nah, sekarang pendapatannya berapa? Jelas lebih besar sekarang kan...

Tapi kembali menggelitik nih Pak... kalau setiap kenaikan gaji diimbangi dengan kenaikan bahan pokok, gimana kami bisa hidup sedikit berlebih, paling enggak bisa buat nabung utk anak cucu? Wong duit kami abis buat memenuhi bahan pokok terus tiap tahunnya.

Logikanya begitu kan Pak... Bener kan... Coba deh Bapak jadi saya, pasti mikirnya juga begitu. Yakin deh Pak... Suwer tekewer-kewer.. Tapi jangan ikutin saya di acara Tukar Nasib sama Bapak yaa.. Saya ogah jadi presiden. Bikin pusing & bikin kantung mata saya makin besar nanti. Saya lebih menikmati jadi warga Indonesia biasa aja kok Pak... Yakin deh...

Tapi... wis embuhlah Pak... Suwi2 saya juga mumet melu2 Bapak mikirin negara ini. Jalan keluarnya pun saya juga bingung. Ibaratnya, negara kita ini sudah terlanjur jatuh dalam lubang yang besar dan dalam. Jadi, butuh tali yang panjang & kuat untuk menariknya ke atas. Sebelumnya, maaf lo Pak.. Saya cuma ngeluh tapi enggak ada solusi. Bisanya manusia Indonesia kan ya begini ini to.. Cuma ngeluh, protes, bahkan demo2 enggak jelas yg merugikan diri sendiri dan orang lain. Hehehe..

Saya sendiri sudah cukup bersyukur tinggal di negara yang sudah merdeka secara harafiah. Dan bersyukur saya tidak termasuk dalam kategori usia produktif yang pengangguran. Paling tidak saya punya pendapatan utk memenuhi kebutuhan pokok saya. Lalu untuk anak-anak saya nantinya? Yah.. pikirkan besok sajalah.. Semoga ketika saya besok punya anak, pendapatan per kapita negara ini benar2 naik dalam arti yang sebenarnya. Jadi, saya enggak perlu mikir masalah kesehatan & pendidikan mereka. Karena itu sudah dicover sama negara. Kan, kata Pak Hatta Radjasa, kita harus optimis terhadap perkembangan ekonomi negara kita to... Jadi... mari diamini saja impian saya ini. Amiiinnn......

Kredit foto: http://smcinvestment.files.wordpress.com/2009/08/increase-chart-1.jpg
baca selengkapnya......

Senin, 16 Agustus 2010

Are you proud, being Indonesian?

Indonesia Raya, merdeka-merdeka. Tanahku negriku, yang kucinta. Indonesia Raya, merdeka-merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

Kapan hayo... terakhir kali kalian nyanyiin lagu Indonesia Raya? Dulu pas masih sekolah, atau pas KKN? Kalau saya pribadi, terakhir nyanyi lagu kebangsaan itu kemarin Minggu. Pas lagi kebaktian di gereja. Eh, bener lo ini.. selesai pemberian berkat di awal kebaktian, kami semua menyanyikan lagu Indonesia Raya.


Lalu hari Senin di kantor, mp3 lagu di kantor memutar lagu-lagu kebangsaan. Eh, ternyata lagu-lagu kebangsaan kita bagus-bagus lo.. Jauh lebih bagus dibandingkan lagu-lagu alay yang enggak jelas yg lagi ngehit sekarang ini. He he... Ah, kok saya jadi ngelantur. Saya kan bukan mau bahas itu.

Yang saya mau bahas... How proud are you to be Indonesian? Dalam bahasa Indonesianya, "Seberapa bangganya kamu jadi warga Indonesia?"

Sebelum kalian semua jawab, biar saya yang menjawab dulu ya.. Hhhmm... Kalau saya sih... sejujurnya.. (harus jujur kan?) rasa bangganya 50% saja. Bukannya enggak nasionalis, cuma nih ya.. setiap melihat pemerintahan Indonesia yang kemaruk sama kekayaan, wahhh.. rasanya saya jadi enggak bangga tinggal di Indonesia. Aset bangsa diambil untuk membesarkan keluarganya masing-masing. Bantuan untuk orang-orang miskin tidak disalurkan kepada yang bersangkutan. Bahkan nih... bantuan untuk orang-orang korban bencana, justru nyangkut di gudang orang-orang yg sudah kaya. Kalau begini, bagaimana saya bisa bangga?

Saya punya mimpi nih.. Di usia 80 tahun nanti, negara ini akan jauhhhh lebih baik. Bagi dari sisi pemerintahannya dan juga personil-personil di dalamnya. Tidak ada tuh yang namanya KKN sekian trilyun, seperti yg dilakukan Mas Gayus. Atau sogok menyogok, seperti yg dilakukan Pak Anggodo. Dan tidak ada intrik2 politik seperti yg terjadi pada Pak Antasari. Tapi, bisa enggak ya... Hal itu terwujudkan. Harusnya bisa dong.. kan kita harus optimis. Seperti yang sudah diajarkan sama bapak presiden kita tercinta.

Tapi di balik kekecewaan ini, saya masih ada 50% rasa bangganya kok sama Indonesia. Bangga karena saya tinggal di negara yang begitu kaya. Baik sumber daya alam, budaya, flora fauna, tempat wisata yg jauh lebih eksotis, kerajinan tangan, dan sebagainya. Apalagi setiap nonton acara jalan-jalan di wilayah Indonesia atau menggali eksotisnya kekayaan Indonesia, itu bikin saya bangga jadi warga Indonesia.

Yahhh.... Semoga rasa bangga saya yang cuma 50% ini enggak jadi pudar, tapi meningkat terus hingga 100%. Tentu dengan kesadaran kita semua sebagai warga negara Indonesia & juga aparat2 pemerintahannya. Nah, sekarang bagaimana dengan Anda?

kredit foto: http://anisavitri.files.wordpress.com/2009/08/bendera-21.jpg
baca selengkapnya......

Pak Beye, saya mau jadi PNS!

Pak Beye, saya mau jadi PNS. Gimana caranya ya?

Saya dengar-dengar, jadi PNS itu enak. Kerjaannya gak jelas, banyak nganggurnya, tapi gaji lancar. Apalagi nih pak... Baru saja Bapak naikin gaji para PNS kan.. Buat golongan terendah yang gajinya cuma 1,89juta sekarang minimal jadi 2jt. Belum lagi kalo ada dinas & pelatihan ke mana2, wah.. makin lancar honorernya. Gmn enggak bikin orang-orang pada ngiler tuh Pak.


Pantesan aja nih ya Pak... Semenjak Bapak jadi Presien RI, predikat PNS jadi naik. Semua orang rasanya pingin banget jadi PNS. Setiap PNS di departemen2 atau di pemda open recruitment, selalu saja peminatnya bejibun buanyakknyaa... Rasanya kok beda ya gaungnya, sama PNS jaman dulu. Lebih heboh sekarang gitu loh... Bener lo Pak, beda banget sama jaman presiden2 sebelum Bapak. Contohnya nih, alm. Pak Soeharto ini yg lebih memperhatikan para petani, karena beliau tahu pertanian merupakan aset bangsa sampai kapanpun juga.

Tapi, kalau di pemerintahan Bapak ini, sepertinya PNS yg merupakan aset bangsa ya.. Sodara-sodara saya yg dulu biasa2 aja dgn pekerjaan PNSnya, skrg jd merasa luarr biasaa. Lalu menyuruh saya dan sodara2 lainnya utk mengikuti jejaknya. Bahkan ada juga teman saya yg dipaksa orangtuanya utk jadi PNS dgn jalur emasnya. Wah, saya jadi penasaran nih Pak.. apa sih hebatnya PNS. Jadi karyawan yang kreatif & pekerja keras, saya rasa enggak tuh...

Lah, gimana enggak coba Pak... Katanya masuk kerja jam 8 pagi, lah saya ke kantor kelurahan, kecamatan, imigrasi, bahkan ke kantor polisi aja... petugasnya belum pada datang. Ada yang baru anterin anaknya sekolahlah, ada yang alasan kejebak macetlah, bahkan ada juga yang alasan bangun kesiangan. Wah, Pak... gimana negara Indonesia bakal maju dong kalau PNSnya begini semua.

Saya tahu.. Bapak naikin gaji PNS itu sebelumnya pasti ada pro kontranya. Yang pro pasti org2 PNS dong. Hehe.. saya tau itu.. Siapa sih yg enggak mau gajinya naik. Tp kontranya, karena kenaikan gaji itu enggak diimbangi dgn kenaikan produktivitas Pak.. Belum lagi nih ya... Bapak tahu sendiri kan.. industri negara kita tercinta ini bakal kena imbas besar-besaran dari China. Heboh lo itu Pak... Bayangin ya Pak... Saya yg kemarin baru saja pulang dr Hong Kong aja beli produk2 China dgn harga jauuuuhhhhhhh lbh murah dibandingkan di sini. Bapak pernah ke Hong Kong kan.. Atau mungkin, Ibu Ani pernah belanja barang2 di sana. Bener kan Pak.. sumpah murah2 abis.

Nah.. hubungannya dgn negara kita tercinta ini. Kan sayang tuh Pak, industri Indonesia ini kalah dr terpaan industri China. Jelas2 Indonesia punya kekayaan yg jauh lebih luar biasa, SDMnya pun buanyakk buangett. Kenapa enggak itu aja yg lebih dipikirkan ya Pak, daripada memikirkan kenaikan gaji PNS.

Kemarin abis sensus penduduk kan Pak... Dan Bapak tahu juga kan, bahwa penduduk kita mencapai 234,5 juta jiwa. Ediannn.. buanyak buanget ya Pak.. Nah, logikanya nih ya Pak.. Berapa jiwa yang berada di usia produktif? Lalu, berapa jiwa yang di usia produktif itu merupakan pengangguran. Nah, kalau pemerintah punya dana untuk dialokasikan kepada peningkatan sektor ekonomi di Indonesia utk mengurangi pengangguran. Wah, pahalanya lebih besar tuh Pak.. Jumlah pengangguran di Indonesia, pasti lebih besar dibanding jumlah PNS kan.. Hehehe..

Jadi, bukannya saya enggak setuju loh Pak.. Karena naik atau stagnya gaji PNS itu enggak ada hubungannya sama saya. Wong, saya bukan PNS dan orangtua saya juga bukan PNS. Cuma saja... ini merupakan sebuah bentuk rasa cinta saya sama Indonesia. Apalagi negara kita ini kan usianya udah 65 tahun. Pinginnya sih Pak, di usia 80 tahun mendatang, negara saya ini bakal menjadi negara yg diperhitungkan oleh negara asing. Baik dalam perekonomiannya, keamanannya, dan juga kekayaannya yang luar biasa. Jadi, anak2 saya besok enggak susah nyari kerja karena disediain lapangan kerja banyak sama negara, enggak susah kalau sakit karena dicover asuransi dari negara, dan enggak susah di hari tuanya karena dipelihara negara. Seperti negara-negara lain itu tuh... Kan saya juga pingin seperti itu...

Sekian saja Pak... Ohya, kalau gaji PNS, TNI, dan POLRI naik 10%. Gaji Bapak pasti juga naik dong brarti. Kan Bapak termasuk TNI ya.. dan Presiden itu termasuk PNS kan Pak. Wah, dobel dong Pak.. Selamat ya Pak.. Jangan lupa, makan-makannya.. Saya diundang open house, ngabuburit di istana ya Pak.. Tapi plus transportasi & akomodasi sekalian. Hehehe..

kredit foto: http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/6/8/8-6-2009-pubseuang.jpg
baca selengkapnya......