Kamis, 01 Oktober 2009

Bumiku Berguncang (Lagi)



Guncangan itu begitu hebat
Meluluhlantakkan kehidupan dengan cepat
Serasa dunia akan kiamat
Semua berlomba untuk selamat


Yang dibangun lama, runtuh dalam sekejap
Yang dikumpulkan susah, hilang semua
Tangis dan sedih itu meratap
Memanggil Tuhan dan bertanya

Mengapa kami yang mengalami?
Mengapa di kota ini terjadi?
Mengapa harus saat ini?
Mengapa Kau ambil semua dari kami?

Beribu pertanyaan terlontar
Tapi Tuhanku diam tak berkata
Apa Kau tuli tak mendengar?
Padahal kutahu Engkaulah segala Maha

Akhirnya aku sadar Tuhanku lebih hebat
KuasaNya jauh lebih dahsyat
Kalau saja kita mau menghitung berkat
Peristiwa kali ini pun takkan terlewat

Semua pasti ada hikmah
Kalau saja kita mau berserah
Mari kawan bangkit dan jangan berebah
Jalan di depan akan jauh lebih cerah
baca selengkapnya......

Selasa, 25 Agustus 2009

Negara Ceremonial


Indonesia adalah negara ceremonial.

Bayi dalam kandungan usia 7 bulan – ada upacaranya. Bayi lahir – ada selametannya. Bayi usia 8 minggu – ada selematan selapanan. Ulang tahun – ada perayaan ulang tahun. Jadian sama pacar baru – ada makan2nya. Lulus alias wisuda – ada syukurannya. Tunangan – ada pestanya. Nikah – ada pesta besarnya. Usia pernikahan perak atau emas – ada pestanya juga. Nanti ketika sudah waktunya dipanggil Tuhan – ada pesta kematiannya.


Lama-lama, kalau diikutin semua adat kebiasaan di sini, duit itu akan habis hanya untuk upacara-upacara itu. Apalagi kalau mau diturutin semua kata-kata teman, “Kok aku enggak diundang sih?” Makinlah duit kita habis hanya untuk upacara-upacara yang menurut saya – gak penting ini.

Sebenarnya, apa sih tujuan dari seremonial ini? Minta doa pada yang Maha Kuasa supaya diberkati? Kan, sudah sering ke rumah ibadah… Bagi umat Kristen dan Katolik, hari Minggu atau Sabtu, ke gereja. Bagi umat Islam, kan sholat 5 waktu. Dan bagi umat yang lain juga.. sudah bersembahyang minta berkat ke Tuhan atas hidupnya. Masa ya Tuhan tidak mendengar.. Tuhan kan tidak tuli dan tidak buta. Dia pasti kasih berkat buat hidup kita lah…

Setelah dipikir-pikir.. Semua seremonial ini buatan manusia, dan tujuannya juga untuk manusia. Dalam arti, tujuannya untuk harga diri manusia dan untuk ajang pamer.
Dengan berseremonial, manusia akan dipandang oleh manusia lainnya. Lalu pikiran-pikiran dalam manusia pun juga akan bermain-main
“Wah.. dia pasti orang kaya. Baru pesta ulang tahun, sudah meriah gini..”
“Wah, gilaa.. pesta nikahannya mewah gini.”
“Wah, kalo hamil 7 bulan gini cantik yaaa… Semoga anaknya juga cantik dehh..”
“Wah, kantornya besar dan megah yaa…”
Dan “wah .. wah ..” yang lainnya..

Lalu, apakah hidup manusia itu hanya sebatas harga diri saja? Kalau dipikir lebih dalam lagi, sebenarnya iya juga loo.. Supaya dipandang orang punya, jadi pernikahan harus dirayakan besar. Supaya dipandang punya pacar, jadi bikin makan-makan setelah jadian. Supaya dipandang punya anak yang lucu dan sehat, jadi bikin acara selametan. Supaya dipandang punya perusahaan yang keren, bikin deh selametan juga. Supaya dipandang sudah sarjana, bikin syukuran kelulusan. Dan sebagainya…
Untuk orang yang suka pesta, ajang seremonial mungkin akan jadi ajang yang menyenangkan. Seberapapun uangnya kurang, tetap aja akan diadakan (cari utangan sana-sini). Supaya dipandang punya harga diri dan bisa pamer ke temen-temennya. Sstt.. banyak juga loo ternyata orang yang seperti ini.

Tapi buat orang yang mempertanyakan “apa sih tujuan dari ini semua?”, bisa jadi bukan ajang yang harus diadakan. Berdoa secara pribadi sama Tuhan saja cukup. Tidak perlu semua orang tahu bahwa saya sedang berbahagia atau bersedih saat ini. Tidak perlu semuanya dirayakan dengan demikian hebohnya. Cukup saya dan Tuhan saja yang tahu.

Jadi, buat apa bikin resepsi nikah, kalau pemberkatan nikah lebih penting daripada itu? Buat apa bikin acara makan-makan besar pas ulang tahun? Kalau ucapan syukur kepada Tuhan telah diberi umur panjang jauh lebih penting. Buat apa bikin selametan kelahiran? Kalau ucapan syukur dengan doa kepada Tuhan telah diberi anak lucu dan sehat jauh lebih penting.

Lagi-lagi… semua ini adalah buatan manusia. Kalau saya tidak menuruti kata-kata manusia ini, maka mereka pasti akan berkata “Orang ini pelit sekali sih, bikin seremoni aja males banget.” Wahh.. melelahkan juga jadi orang Indonesia, susah juga kalau mau jadi warga Indonesia yang cuek. Katanya lagi krisis, tapi duitnya abis untuk bikin seremoni yang enggak penting begini. Cape de…
baca selengkapnya......

Selasa, 28 Juli 2009

Uang Pajakku Dikemanakan?

Baru kali ini saya membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Bukan karena saya sedang atau pernah terlibat dalam masalah kepolisian, tetapi untuk memenuhi suatu syarat kelengkapan pendaftaran cpns deplu. Yah.. itung2 uji peruntungan.

Bukan hal yang mudah untuk bisa menembus departemen luar negeri. Saya tahu itu. Tapi, sebuah tekad kuat dalam diri ini supaya saya segera keluar dari kota ini, meninggalkan segala kepenatan di dalam rumah. Jadi, saya anggap tekad dan semangat yang kuat ini sebagai motivasi terbesar saya untuk berjuang sebaik mungkin.

Sebenarnya bukan itu inti dari tulisan saya. Lebih pada “sesuatu” yang harus saya bayar untuk bisa mendapatkan selembar SKCK. Mulai dari 5000 rupiah di ketua RT, 5000 rupiah di desa, 5000 rupiah di kelurahan, 5000 rupiah di koramil, 5000 rupiah di polsek, 5000 rupiah di sidik jari polres, 5000 rupiah di polres. Jadi total saya mengeluarkan 30.000 rupiah.

Pungli-pungli kecil yang dianggap sebagai “biaya administrasi” inilah yang sungguh miris sekali. Ketika “bayar pajak” didengung-dengungkan oleh setiap kantor pajak bahkan oleh media massa. Dengan berbagai punishment dilontarkan supaya membuat kita buru2 mendaftarkan npwp kita masing-masing. Ternyata, di sudut-sudut birokrasi pemerintahan yang kecil-kecil ini masih juga dimintai yang namanya “biaya administrasi”.

Saya jadi bertanya, buat apa saya bikin NPWP, buat apa saya bayar pajak tiap bulannya, buat apa gaji saya dipotong, dsb. Kalau toh, ternyata saya tidak mendapatkan semua yang saya butuhkan. Okey.. kalau mereka yang bekerja di pemerintahan terutama perpajakan akan berkata, “Lho, ini jalan raya kan hasil pajak, listrik yang menerangi jalan ini juga hasil pajak.”

Maka saya pun akan berkata, “Okey… I know.. Tapi, saya butuh sehat, saya butuh perawatan dokter ketika saya sakit. Dan sayangnya itu tidak saya dapatkan di negara ini.”

“Lho? Kamu kan bukan tergolong masyarakat kurang mampu. Jadi tidak berhak dapat itu.”

Sekali lagi saya berusaha membantah, “Saya tidak meminta pemerintah mencover semua kebutuhan primer saya. But, at least seper sepuluh dari total yang saya butuhkan. Misalkan, biaya kesehatan, saya dapat 50.000. Kalau saya gengsi menggunakan kelas itu, saya bisa up-kan sendiri dengan membayar sendiri sisanya. Adil kan…?”

Lalu, apa hubungannya dengan pungli-pungli yang harus saya bayar untuk dapat selembar SKCK tadi? Ya.. ini sama saja. Negara ini dililit oleh birokrasi yang rumit dan lama-lama bisa mencekik sendiri. Sayang sekali, sebenarnya bisa diringkas kan.. Negara ini bukannya tidak mampu, negara ini hanya tidak mampu untuk berpikir bahwa sebenarnya negara ini mampu.

Miris juga rasanya, lihat seorang saudara saya yang baru saja kerja di kantor perpajakan dan belum ditempatkan. Tetapi baru beberapa bulan bekerja (belum sampe 6 bulan), ia langsung bisa membeli mobil livina baru gres tahun 2009. Inikah hasil yang namanya “rapelan”? Di saat orang-orang bekerja keras pagi-siang-malam, susah payah ia membeli mobil, dan mereka-mereka yang kerja di pemerintahan kerja santai2, makan pungli alias uang rakyat, dan 3 bulan kemudian beli mobil baru deh…

Tidak heran, banyak orang beramai-ramai pingin jadi PNS. Karena yang diinginkan adalah keamanan finansialnya. Padahal sebenarnya tantangan kerja di PNS itu tidak lebih besar dibanding karyawan swasta. Tapi, yah.. bagaimana lagi. PNS digaji rakyat, padahal rakyat Indonesia itu berjuta-juta jumlahnya, jadi hitung saja PNS dapat berapa rupiah tiap bulannya.

Lalu bagaimana dengan saya yang notabene juga tertarik bekerja di departemen pemerintahan? Tidak dipungkiri, saya juga membutuhkan financial yang menggiurkan yang ditawarkan departemen tersebut. Kalau mau ditelisik lagi lebih dalam, ini bukan keinginan saya pribadi, melainkan keinginan para orang tua supaya anaknya bisa dibanggakan kerja di departemen pemerintahan. Orang tua memang narsis, gak mau kalah. Kalau budhe saya bisa membanggakan anaknya yang baru saja beli livina, maka orang tua saya memaksa saya bekerja ekstra dan mendaftar kerja di departemen pemerintahan, supaya besok bisa beli rumah dan bisa lebih dibanggakan.

Ah, sudahlah… daripada curhat colongan.

Lebih baik saya bekerja dengan lebih jujur, tanpa memakan gaji buta. Kalau bekerja di perusahaan swasta saja saya bisa belajar jujur, besok jika saya diperkenankan bekerja di departemen pemerintahan, saya akan terus berupaya jujur. Dan sedikit memperbaiki kebolongan2 pemerintahan di sana-sini, melalui pemikiran saya. Mulia sekali ya impian saya ini…. (boleh sedikit narsis kan..)

Negara Indonesia memang sudah terlalu besar dan terlalu sulit mengelola tiap-tiap personilnya. Tapi sekali lagi yang mau saya tegaskan, Negara ini bukan tidak mampu, tetapi tidak mampu untuk berpikir. Jadi, mampulah untuk berpikir bahwa Negara ini mampu. Mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya dan bukan hanya rakyat pegawai negeri sipil saja.

baca selengkapnya......

Kamis, 25 Juni 2009

Agama yang Berpolitik

Saya tergelitik ketika melihat dan membaca berita tentang “fitnah tim JK-Wiranto” bahwa “istri Budiono adalah seorang katolik”. Saya tidak tahu persis itu fitnah atau memang benar. Atau mungkin dulu istri beliau memang seorang katolik kemudian mualaf menjadi seorang muslimin. Saya tidak tahu persis. Tapi yang menggelitik saya adalah tentang isu-isu keagamaan yang diangkat oleh para wapres dan cawapresnya, atau mungkin oleh tim suksesnya.

Saya heran dengan negara ini yang masih juga mencampur-adukkan antara agama dan politik, dan yang masih juga mudah dipecah belah untuk urusan agama. Agama memang baik dan menjadi dasar moralitas seseorang yang akan berpolitik. Orang yang taat beribadah akan punya moralitas tinggi, lalu nanti dia akan menjadi pemimpin yang baik dan bisa berpolitik dengan baik. Baik dalam arti memimpin dengan hati, penuh kebijaksanaan, menghargai orang lain, menjauhi keinginan setan seperti KKN, menjegal lawannya dengan licik, dsb.

Inti dari semua agama adalah ingin membuat pemeluknya punya moralitas tinggi. Masa ada sih agama yang mengajarkan hal-hal buruk pada pemeluknya. Di sini konteksnya adalah 5 agama yang diakui di negara kita loo… Yaa.. saya sangat percaya semua agama itu baik adanya. Semua agama itu mengajarkan moralitas yang baik, tanpa membuat agama tertentu lebih spesial, lebih bermoral, dll.

Nah… ditarik ke urusan politik. Seharusnya dalam politik terdiri dari orang-orang yang bermoral baik, yang taat beribadah apapun itu agamanya. Negara kita ini negara berdasarkan hukum bukan berdasar agama. Norma-norma yang berlaku di negara ini, norma hukum dan bukan norma agama. Apalagi negara kita ini sudah sangat besarrr, sangat luasss, masyarakatnya pun sangat majemukkk. Kalau mau membuat negara ini dijalankan berdasarkan norma agama tertentu sudah sangat terlambat. Lebih baik membuat negara kecil sendiri dengan peraturan dan undang-undang sendiri.

Jadi, kalau saya berpendapat… Saya tidak peduli presiden saya (juga istri/suami, anak, atau keluarganya) nanti seorang Muslim, Kristiani, Katolik, Hindu, atau Budha. Yang pasti presiden saya harus menghargai perbedaan di negara ini, merangkul semua kepentingan di negara ini, mempertahankan perbedaan di negara ini, dan tidak fanatik terhadap satu sisi saja. Ya, karena kita tinggal dan hidup di Indonesia – Negara yang Bhineka Tunggal Ika.


baca selengkapnya......

Senin, 22 Juni 2009

Membaca Iklan Politik Pemilu

Di era yang mengagungkan demokrasi dan kebebasan ini, semua orang bebas mengekspresikan pemikirannya dalam bentuk apapun juga. Tulisan, lagu, iklan, puisi, cerita, dll. Sehingga, kali ini kreativitas semua orang muncul bertebaran di mana-mana. Sudah tidak zamannya lagi orang-orang terkukung dengan komando orang tertentu. Dan sudah saatnya orang-orang yang tidak berpikir kreatif untuk melengserkan diri digantikan orang-orang kreatif yang mampu berpikir dengan cara yang tidak biasa.

Di pemilu 2009 ini, terlihat sekali masing-masing calon presiden dan wakil presiden menunjukkan kekreatifannya melalui iklan. Iklan dianggap sebagai sarana untuk menyosialisasikan pemikiran dan rencana para kandidat, atas nasib bangsa ini ke depan. Jadi tidak heran, mereka mau membayar mahal untuk 10 detik iklan.

Manusia yang melek televisi masih lebih banyak dibandingkan orang yang melek surat kabar. Jadi, iklan-iklan di televisi inilah yang dianggap ampuh untuk memengaruhi penontonnya. Tidak pastinya mereka berlomba-lomba mengiklankan dirinya di jam-jam prime time.

Melihat iklan-iklan pemilu ini bertebaran di semua stasiun TV ini, saya mencoba mengamati sisi kekreatifitasan para kandidatnya. Kita hidup di era platinum yang semuanya serba kreatif. Menghadapi hidup dan menyelesaikan hidup juga harus kreatif. Jadi, cara menarsiskan diri pun juga musti kreatif.

Dari ketiga kandidat tersebut, saya mencoba membuat ranking berdasarkan kekreatifitasannya. Rangking 1 – Jusuf Kalla, Ranking 2 – Megawati, Ranking 3 – SBY.

Iklan itu media yang singkat untuk promosi, jadi PR besar bagaimana bisa menjelaskan maksud iklan tersebut dalam waktu yang singkat.

Saya menaruh Jusuf Kalla di ranking 1. Karena setiap iklan beliau memiliki kekreatifitasan dan pesan tertentu yang ingin dibawanya. Misal iklan “JK” – dengan menyingkat namanya dengan kepanjangan yang macam2 itu. Bermaksud bahwa beliau adalah orang yang tepat bagi masyarakat yang menginginkan Jalin Kerukunan, dll. Trus, iklan yang bertema “Batik” dan “Sepatu” mau menunjukkan bahwa beliau peduli dengan industri kecil yang menjadi kekhasan Indonesia. Ada pula iklan bertema “Aceh” yang mau menunjukkan bahwa beliau ini peduli sekali dengan kedaulatan RI. Setiap iklan memiliki satu pesan yang khas dan mudah ditangkap, sehingga mudah sekali diingat. Yaps, ini dia kunci iklan yang menurut saya benar.

Lalu saya menaruh Megawati di ranking 2. Karena iklan beliau ini seakan-akan ingin menyampaikan banyak pesan. Semua pesan, semua ke-OK-annya ingin dimasukkan dalam satu iklan. Tapi sayangnya, ini membuat iklan itu susah ditangkap & susah diingat esensinya. Iklannya yang panjang, isinya banyak, tapi tidak banyak yang masuk ke otak penonton. Sungguh sayang sekali.. Ohya, sedikit melenceng. Iklan beliau di terakhir, ada tulisan “No. 1. Megawati – Prabowo”, lalu tulisan itu dicontreng. Uniknya, gambar contreng itu berwarna biru, bukan merah seperti logo PDI-P dan Gerinda. Artinya…. Simpulkan sendiri saja…

Dan yang terakhir SBY di ranking 3. Ini dia yang sangat disayangkan, yaitu karena iklan beliau yang copy paste dari jingle Indomie. Meski urusan royalty dengan di pemilik jingle tersebut sudah beres, tapi menurut saya ini menurunkan poin beliau tentang kekreatifitasan. Daripada bayar mahal Mike Ind. Idol dan royalty jingle, bukankah lebih baik bikin jingle sendiri yang singkat dan langsung nyakut di otak penonton. Jingle indomie memang sudah familiar di telinga penonton, tapi masalahnya beliau adalah kandidat orang tertinggi di Indonesia. Dengan me-copy paste jingle ini bisa menurunkan kredibilitasnya dan orang-orang (terutama) dari dunia kreatif akan menyangsikan kebijakan-kebijakannya yang seakan-akan menghalalkan co-pat dan menumpulkan dunia kreatif di Indonesia.

Yupz… tulisan ini bukan bermasud untuk mengarahkan kalian memilih kandidat tertentu. Saya hanya memotret dari satu sisi bagian, yaitu dari iklan politiknya. Padahal, untuk memilih presiden itu harus melihat dari semua sisi. Masa depan bangsa juga akan menentukan masa depan kita. Jadi, selamat memilih…

baca selengkapnya......

Selasa, 09 Juni 2009

RS OMNI vs Prita Mulyasari

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan kasus Prita Mulyasari dengan RS OMNI Internasional. Berita ini begitu heboh, bahkan sampai menutup pemberitaan yang lain seperti kasus Ambalat, jatuhnya pesawat Herkules, dan pembunuhan Nassrudin. Sampai-sampai di Facebook pun juga ramai dibicarakan, status dukungan terhadap Prita Mulyasari, atau miris terhadap masalah ini, berlomba-lomba ditulis oleh orang-orang di status Facebooknya. Ada juga grup “Dukung Prita Mulyasari” dengan comment yang banyak sekali, intinya dukungan untuk Prita.

Saya tidak mau membahas mendalam tentang dukungan saya kepada salah satu pihak. Bisa-bisa saya juga kena jerat UU ITE tentang pencemaran nama baik tersebut. Wah… jangan sampai deh… :-)

Yaa.. Saya cuma mau berbagi pemikiran saya tentang kasus ini. Bagi saya, kasus ini memang miris sekali. Prita dijerat oleh UU yang baru seumur jagung, karena baru disahkan bulan April 2008 lalu. Saya jujur tidak tahu bagaimana proses pembuatan UU tersebut, karena saya sendiri tidak merasa UU ini ramai dibicarakan sebelumnya. Tidak seperti UU Pornografi yang dilempar dulu ke publik, bahkan dibuat debat di televisi swasta. Jadi mikir nii… jangan-jangan UU ini take it from granted. Ada enggak ya, trial and error untuk setiap UU yang dibuat pemerintah?

Dari yang saya pernah baca di Kompas, Senin 8 Juni 2009. Dari situ saya baru tahu bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia sudah diminta untuk menghapus pasal tentang pencemaran nama baik dan perlakuan tidak menyenangkan. Tapi, sampai sekarang masih juga belum dilaksanakan.

Menurut saya memang bener deh, pasal yang menyinggung tentang pencemaran nama baik dan perlakuan tidak menyenangkan ini adalah sesuatu yang relatif. Ketika saya mengatai seorang A dengan kalimat, “kamu jelek sekali. Kalau begitu tidak ada yang mau berteman denganmu,”. Mungkin dia bersikap biasa saja dan tidak membalas kata-kata saya. Tapi lain halnya jika saya mengatai seorang B dengan kalimat yang sama. Mungkin dia akan marah dan menuntut saya telah mencemarkan nama baiknya. Intinya, tingkat sensitifitas orang itu beda-beda.

Fiuuhh… miris sekali. Bukankah UU dan hukum itu sifatnya pasti dan diberlakukan sama ke semua pihak. Melihat ini, saya jadi khawatir dengan nasib penegakan hukum Indonesia untuk selanjutnya. UU yang disusun oleh DPR, yang notabene mereka digaji besar dari uang rakyat. Tapi, UU itu sendiri dibuat untuk menjerat rakyat. Mereka yang punya super power dan money power menggunakan UU itu dengan semena-mena. Jadilah kasus Prita ini terjadi.

Melihat kasus Prita ini, saya rasa Prita sedang apes karena bertemu dengan pihak industri yang sangat sensitif, dan seperti yang dibilang seorang dokter ketika diwawancarai di TV – bahwa industri tersebut bersikap cukup arogan.

Pihak RS OMNI pun juga tidak kalah apesnya. Mereka hanya berniat untuk menuntut Prita dan menyelesaikannya di meja hijau. Tapi ternyata kasus ini tercium media elektronik alias TV. Jadinya, ramai-ramailah massa menghakiminya.

Kasus Prita ketika dilayani dengan tidak baik di RS mungkin sebuah kasus yang sederhana. Tapi, kemudian Prita curhat ke temennya dan temennya menyebarluaskan ke milis-milis. Akhirnya jadi tidak sederhanalah kasus itu. Didukung juga, tata bahasa yang kemudian dijadikan alasan pihak penuntut. Gaya bahasanya mungkin kurang halus dan tidak ada editornya di situ.

Reaksi RS OMNI pun juga terlalu berlebihan. Dengan memasang iklan besar setengah halaman SK Kompas pada bulan November 2008. Orang-orang pembaca Kompas jadi penasaran dan mencari tahu masalahnya apa sih, kok sampai masang iklan gede begitu. Saya yakin memori itu tidak akan lama, mereka akan segera melupakan iklan besar tersebut. Tapi sayangnya, tuntutan RS OMNI dan memenjarakan Prita yang tercium media TV kali ini membuat masalah jadi runyam. Orang yang dulu sudah lupa dengan iklan besar tersebut, jadi berusaha mengingat lagi (seperti saya ini), dan orang yang tidak pernah tahu atau tidak pernah mendapat email dari Prita tersebut jadi berusaha mencari tahu. Lalu ramailah massa menghakimi OMNI.

Padahal sebenarnya, masalah sederhana itu tidak usahlah dibahas terlalu bahkan sampai tuntut menuntut ke meja hijau. Masyarakat di Indonesia yang melek internet masih lebih sedikit dibanding yang melek televisi. Meski pelanggan OMNI itu rata-rata orang yang melek internet, tapi kenyataannya tidak semua orang yang melek internet itu tahu masalah ini. Jadi, karena sudah terangkat televisi.. OMNI kena bumerangnya sendiri.

Kasus Prita dianggap sebagai penyelamat kasus-kasus serupa lainnya yang sampai ke meja hijau tapi tidak tercium media. Dan kasus ini digunakan para capres untuk menyuarakan pendapatnya demi meraih simpati masyarakat. Belum lagi, kasus ini juga menjerat si Jaksa dan juga si Pembuat UU. Duh.. duh.. jadi lingkaran setan gini. Semua saling bertautan. Lalu sampai kapan ya akan selesai? Kasian Prita enggak bisa kerja.

Yaa… untuk kita sebagai orang awam (konsumen/pelanggan) dan juga sebagai industri atau pemerintah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini. Seperti pepatah “Mulutmu Harimaumu”. Kata-kata kita bisa jadi bumerang dan sandungan buat kita sendiri. Jadi lebih baik berhati-hati sajalah. Apalagi karena kita tinggal di Indonesia – di mana segala sesuatunya masih belum pasti dan belum stabil ini.

baca selengkapnya......

Minggu, 17 Mei 2009

Manusia itu tidak ada yang adil


Adil itu artinya sama rata, tanpa membeda. Jadi adil itu susah. Kalau orang-orang yang berpoligami mengatakan bahwa “sebisa mungkin saya akan berlaku adil”, saya tidak percaya. Kalau orang tua yang punya banyak anak mengatakan bahwa “saya melakukan hal yang adil untuk anak-anak saya”, saya rasa pun juga tidak seluruhnya bisa. Dan kalau atasan mengatakan bahwa “saya memperlakukan karyawan saya dengan adil tanpa membeda”, saya pun semakin tidak percaya.

Manusia itu selalu ingin yang terbaik dan baik untuk dirinya juga untuk orang-orang terdekatnya. Jadi, dia akan memilih orang lain yang bisa memberi yang terbaik baginya itu. Suami yang berpoligami akan lebih memilih istri yang cantik dan bisa melayaninya di ranjang. Orang tua yang punya banyak anak akan lebih memilih anak yang pintar, patuh, dan mungkin cantik atau tampan. Atasan yang punya banyak karyawan akan lebih memilih karyawan yang pintar, tekun, inisiatif, dan bahkan cantik atau tampan.

Menyedihkannya lagi, jika sekuat apapun orang lain yang diperlakukan tidak adil itu berjuang menuntut keadilan. Biasanya itu dianggap sebelah mata. Dipuji hanya sesaat, dilambungkan hatinya hanya sebentar, lalu selanjutnya dibandingkan lagi dengan “si kesayangannya”. Apa pun yang dilakukannya tidak pernah dianggap sempurna bahkan kurang dibandingkan si kesayangannya ini.

Akan semakin parah lagi, kalau si kesayangan ini bukannya membantu, tapi malah berlenggang dengan santai karena dialah si kesayangan. Jadi tak perlu kerja keras karena semua pasti dianggap bagus oleh di punya wewenang.

Yah, pada dasarnya manusia di dunia ini tak ada yang bisa berlaku adil. Saya tak lagi percaya dengan kata-kata “saya akan berlaku adil”. Karena kenyataannya keinginan mendapatkan terbaik itu akan menuntutnya berlaku tidak adil.

Siapa yang sedang diperlakukan dengan tidak adil? Mungkinkah ini salah satu bentuk dari rasa iri hati? Menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain sehingga merasa diperlakukan tidak adil? Bisa saja, karena selain manusia itu pada dasarnya tidak bisa berbuat adil, dia juga selalu menginginkan milik orang lain (sekecil apa pun itu).

Lalu bagaimana sebaiknya?

Yah, siapapun yang sedang berlaku tidak adil sebaiknya mulai sekarang benar-benar berusaha adil. Dengan tidak hanya mengatakannya tapi juga berlaku. Tidak hanya tersenyum, menyapa, bercanda, memuji, memanggil nama, atau apapun itu kepada “si kesayangannya”. Lalu untuk yang sedang diperlakukan tidak adil, buat apa pusing-pusing memikirkan itu. Biarkan saja si kesayangan melenggang dengan santai. Tak perlu iri hati, tetapi tetap tunjukkan bahwa kalian itu bisa lebih bahkan jauh lebih dibandingkan si kesayangan. Wah, jadi pada dasarnya manusia itu punya sifat persaingan dong? Iya, persaingan untuk mendapatkan keadilan dan yang terbaik untuk dirinya.

baca selengkapnya......