Kamis, 2009 Juni 25

Agama yang Berpolitik

Saya tergelitik ketika melihat dan membaca berita tentang “fitnah tim JK-Wiranto” bahwa “istri Budiono adalah seorang katolik”. Saya tidak tahu persis itu fitnah atau memang benar. Atau mungkin dulu istri beliau memang seorang katolik kemudian mualaf menjadi seorang muslimin. Saya tidak tahu persis. Tapi yang menggelitik saya adalah tentang isu-isu keagamaan yang diangkat oleh para wapres dan cawapresnya, atau mungkin oleh tim suksesnya.

Saya heran dengan negara ini yang masih juga mencampur-adukkan antara agama dan politik, dan yang masih juga mudah dipecah belah untuk urusan agama. Agama memang baik dan menjadi dasar moralitas seseorang yang akan berpolitik. Orang yang taat beribadah akan punya moralitas tinggi, lalu nanti dia akan menjadi pemimpin yang baik dan bisa berpolitik dengan baik. Baik dalam arti memimpin dengan hati, penuh kebijaksanaan, menghargai orang lain, menjauhi keinginan setan seperti KKN, menjegal lawannya dengan licik, dsb.

Inti dari semua agama adalah ingin membuat pemeluknya punya moralitas tinggi. Masa ada sih agama yang mengajarkan hal-hal buruk pada pemeluknya. Di sini konteksnya adalah 5 agama yang diakui di negara kita loo… Yaa.. saya sangat percaya semua agama itu baik adanya. Semua agama itu mengajarkan moralitas yang baik, tanpa membuat agama tertentu lebih spesial, lebih bermoral, dll.

Nah… ditarik ke urusan politik. Seharusnya dalam politik terdiri dari orang-orang yang bermoral baik, yang taat beribadah apapun itu agamanya. Negara kita ini negara berdasarkan hukum bukan berdasar agama. Norma-norma yang berlaku di negara ini, norma hukum dan bukan norma agama. Apalagi negara kita ini sudah sangat besarrr, sangat luasss, masyarakatnya pun sangat majemukkk. Kalau mau membuat negara ini dijalankan berdasarkan norma agama tertentu sudah sangat terlambat. Lebih baik membuat negara kecil sendiri dengan peraturan dan undang-undang sendiri.

Jadi, kalau saya berpendapat… Saya tidak peduli presiden saya (juga istri/suami, anak, atau keluarganya) nanti seorang Muslim, Kristiani, Katolik, Hindu, atau Budha. Yang pasti presiden saya harus menghargai perbedaan di negara ini, merangkul semua kepentingan di negara ini, mempertahankan perbedaan di negara ini, dan tidak fanatik terhadap satu sisi saja. Ya, karena kita tinggal dan hidup di Indonesia – Negara yang Bhineka Tunggal Ika.

Senin, 2009 Juni 22

Membaca Iklan Politik Pemilu

Di era yang mengagungkan demokrasi dan kebebasan ini, semua orang bebas mengekspresikan pemikirannya dalam bentuk apapun juga. Tulisan, lagu, iklan, puisi, cerita, dll. Sehingga, kali ini kreativitas semua orang muncul bertebaran di mana-mana. Sudah tidak zamannya lagi orang-orang terkukung dengan komando orang tertentu. Dan sudah saatnya orang-orang yang tidak berpikir kreatif untuk melengserkan diri digantikan orang-orang kreatif yang mampu berpikir dengan cara yang tidak biasa.

Di pemilu 2009 ini, terlihat sekali masing-masing calon presiden dan wakil presiden menunjukkan kekreatifannya melalui iklan. Iklan dianggap sebagai sarana untuk menyosialisasikan pemikiran dan rencana para kandidat, atas nasib bangsa ini ke depan. Jadi tidak heran, mereka mau membayar mahal untuk 10 detik iklan.

Manusia yang melek televisi masih lebih banyak dibandingkan orang yang melek surat kabar. Jadi, iklan-iklan di televisi inilah yang dianggap ampuh untuk memengaruhi penontonnya. Tidak pastinya mereka berlomba-lomba mengiklankan dirinya di jam-jam prime time.

Melihat iklan-iklan pemilu ini bertebaran di semua stasiun TV ini, saya mencoba mengamati sisi kekreatifitasan para kandidatnya. Kita hidup di era platinum yang semuanya serba kreatif. Menghadapi hidup dan menyelesaikan hidup juga harus kreatif. Jadi, cara menarsiskan diri pun juga musti kreatif.

Dari ketiga kandidat tersebut, saya mencoba membuat ranking berdasarkan kekreatifitasannya. Rangking 1 – Jusuf Kalla, Ranking 2 – Megawati, Ranking 3 – SBY.

Iklan itu media yang singkat untuk promosi, jadi PR besar bagaimana bisa menjelaskan maksud iklan tersebut dalam waktu yang singkat.

Saya menaruh Jusuf Kalla di ranking 1. Karena setiap iklan beliau memiliki kekreatifitasan dan pesan tertentu yang ingin dibawanya. Misal iklan “JK” – dengan menyingkat namanya dengan kepanjangan yang macam2 itu. Bermaksud bahwa beliau adalah orang yang tepat bagi masyarakat yang menginginkan Jalin Kerukunan, dll. Trus, iklan yang bertema “Batik” dan “Sepatu” mau menunjukkan bahwa beliau peduli dengan industri kecil yang menjadi kekhasan Indonesia. Ada pula iklan bertema “Aceh” yang mau menunjukkan bahwa beliau ini peduli sekali dengan kedaulatan RI. Setiap iklan memiliki satu pesan yang khas dan mudah ditangkap, sehingga mudah sekali diingat. Yaps, ini dia kunci iklan yang menurut saya benar.

Lalu saya menaruh Megawati di ranking 2. Karena iklan beliau ini seakan-akan ingin menyampaikan banyak pesan. Semua pesan, semua ke-OK-annya ingin dimasukkan dalam satu iklan. Tapi sayangnya, ini membuat iklan itu susah ditangkap & susah diingat esensinya. Iklannya yang panjang, isinya banyak, tapi tidak banyak yang masuk ke otak penonton. Sungguh sayang sekali.. Ohya, sedikit melenceng. Iklan beliau di terakhir, ada tulisan “No. 1. Megawati – Prabowo”, lalu tulisan itu dicontreng. Uniknya, gambar contreng itu berwarna biru, bukan merah seperti logo PDI-P dan Gerinda. Artinya…. Simpulkan sendiri saja…

Dan yang terakhir SBY di ranking 3. Ini dia yang sangat disayangkan, yaitu karena iklan beliau yang copy paste dari jingle Indomie. Meski urusan royalty dengan di pemilik jingle tersebut sudah beres, tapi menurut saya ini menurunkan poin beliau tentang kekreatifitasan. Daripada bayar mahal Mike Ind. Idol dan royalty jingle, bukankah lebih baik bikin jingle sendiri yang singkat dan langsung nyakut di otak penonton. Jingle indomie memang sudah familiar di telinga penonton, tapi masalahnya beliau adalah kandidat orang tertinggi di Indonesia. Dengan me-copy paste jingle ini bisa menurunkan kredibilitasnya dan orang-orang (terutama) dari dunia kreatif akan menyangsikan kebijakan-kebijakannya yang seakan-akan menghalalkan co-pat dan menumpulkan dunia kreatif di Indonesia.

Yupz… tulisan ini bukan bermasud untuk mengarahkan kalian memilih kandidat tertentu. Saya hanya memotret dari satu sisi bagian, yaitu dari iklan politiknya. Padahal, untuk memilih presiden itu harus melihat dari semua sisi. Masa depan bangsa juga akan menentukan masa depan kita. Jadi, selamat memilih…

Selasa, 2009 Juni 09

RS OMNI vs Prita Mulyasari

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan kasus Prita Mulyasari dengan RS OMNI Internasional. Berita ini begitu heboh, bahkan sampai menutup pemberitaan yang lain seperti kasus Ambalat, jatuhnya pesawat Herkules, dan pembunuhan Nassrudin. Sampai-sampai di Facebook pun juga ramai dibicarakan, status dukungan terhadap Prita Mulyasari, atau miris terhadap masalah ini, berlomba-lomba ditulis oleh orang-orang di status Facebooknya. Ada juga grup “Dukung Prita Mulyasari” dengan comment yang banyak sekali, intinya dukungan untuk Prita.

Saya tidak mau membahas mendalam tentang dukungan saya kepada salah satu pihak. Bisa-bisa saya juga kena jerat UU ITE tentang pencemaran nama baik tersebut. Wah… jangan sampai deh… :-)

Yaa.. Saya cuma mau berbagi pemikiran saya tentang kasus ini. Bagi saya, kasus ini memang miris sekali. Prita dijerat oleh UU yang baru seumur jagung, karena baru disahkan bulan April 2008 lalu. Saya jujur tidak tahu bagaimana proses pembuatan UU tersebut, karena saya sendiri tidak merasa UU ini ramai dibicarakan sebelumnya. Tidak seperti UU Pornografi yang dilempar dulu ke publik, bahkan dibuat debat di televisi swasta. Jadi mikir nii… jangan-jangan UU ini take it from granted. Ada enggak ya, trial and error untuk setiap UU yang dibuat pemerintah?

Dari yang saya pernah baca di Kompas, Senin 8 Juni 2009. Dari situ saya baru tahu bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia sudah diminta untuk menghapus pasal tentang pencemaran nama baik dan perlakuan tidak menyenangkan. Tapi, sampai sekarang masih juga belum dilaksanakan.

Menurut saya memang bener deh, pasal yang menyinggung tentang pencemaran nama baik dan perlakuan tidak menyenangkan ini adalah sesuatu yang relatif. Ketika saya mengatai seorang A dengan kalimat, “kamu jelek sekali. Kalau begitu tidak ada yang mau berteman denganmu,”. Mungkin dia bersikap biasa saja dan tidak membalas kata-kata saya. Tapi lain halnya jika saya mengatai seorang B dengan kalimat yang sama. Mungkin dia akan marah dan menuntut saya telah mencemarkan nama baiknya. Intinya, tingkat sensitifitas orang itu beda-beda.

Fiuuhh… miris sekali. Bukankah UU dan hukum itu sifatnya pasti dan diberlakukan sama ke semua pihak. Melihat ini, saya jadi khawatir dengan nasib penegakan hukum Indonesia untuk selanjutnya. UU yang disusun oleh DPR, yang notabene mereka digaji besar dari uang rakyat. Tapi, UU itu sendiri dibuat untuk menjerat rakyat. Mereka yang punya super power dan money power menggunakan UU itu dengan semena-mena. Jadilah kasus Prita ini terjadi.

Melihat kasus Prita ini, saya rasa Prita sedang apes karena bertemu dengan pihak industri yang sangat sensitif, dan seperti yang dibilang seorang dokter ketika diwawancarai di TV – bahwa industri tersebut bersikap cukup arogan.

Pihak RS OMNI pun juga tidak kalah apesnya. Mereka hanya berniat untuk menuntut Prita dan menyelesaikannya di meja hijau. Tapi ternyata kasus ini tercium media elektronik alias TV. Jadinya, ramai-ramailah massa menghakiminya.

Kasus Prita ketika dilayani dengan tidak baik di RS mungkin sebuah kasus yang sederhana. Tapi, kemudian Prita curhat ke temennya dan temennya menyebarluaskan ke milis-milis. Akhirnya jadi tidak sederhanalah kasus itu. Didukung juga, tata bahasa yang kemudian dijadikan alasan pihak penuntut. Gaya bahasanya mungkin kurang halus dan tidak ada editornya di situ.

Reaksi RS OMNI pun juga terlalu berlebihan. Dengan memasang iklan besar setengah halaman SK Kompas pada bulan November 2008. Orang-orang pembaca Kompas jadi penasaran dan mencari tahu masalahnya apa sih, kok sampai masang iklan gede begitu. Saya yakin memori itu tidak akan lama, mereka akan segera melupakan iklan besar tersebut. Tapi sayangnya, tuntutan RS OMNI dan memenjarakan Prita yang tercium media TV kali ini membuat masalah jadi runyam. Orang yang dulu sudah lupa dengan iklan besar tersebut, jadi berusaha mengingat lagi (seperti saya ini), dan orang yang tidak pernah tahu atau tidak pernah mendapat email dari Prita tersebut jadi berusaha mencari tahu. Lalu ramailah massa menghakimi OMNI.

Padahal sebenarnya, masalah sederhana itu tidak usahlah dibahas terlalu bahkan sampai tuntut menuntut ke meja hijau. Masyarakat di Indonesia yang melek internet masih lebih sedikit dibanding yang melek televisi. Meski pelanggan OMNI itu rata-rata orang yang melek internet, tapi kenyataannya tidak semua orang yang melek internet itu tahu masalah ini. Jadi, karena sudah terangkat televisi.. OMNI kena bumerangnya sendiri.

Kasus Prita dianggap sebagai penyelamat kasus-kasus serupa lainnya yang sampai ke meja hijau tapi tidak tercium media. Dan kasus ini digunakan para capres untuk menyuarakan pendapatnya demi meraih simpati masyarakat. Belum lagi, kasus ini juga menjerat si Jaksa dan juga si Pembuat UU. Duh.. duh.. jadi lingkaran setan gini. Semua saling bertautan. Lalu sampai kapan ya akan selesai? Kasian Prita enggak bisa kerja.

Yaa… untuk kita sebagai orang awam (konsumen/pelanggan) dan juga sebagai industri atau pemerintah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini. Seperti pepatah “Mulutmu Harimaumu”. Kata-kata kita bisa jadi bumerang dan sandungan buat kita sendiri. Jadi lebih baik berhati-hati sajalah. Apalagi karena kita tinggal di Indonesia – di mana segala sesuatunya masih belum pasti dan belum stabil ini.

Minggu, 2009 Mei 17

Manusia itu tidak ada yang adil


Adil itu artinya sama rata, tanpa membeda. Jadi adil itu susah. Kalau orang-orang yang berpoligami mengatakan bahwa “sebisa mungkin saya akan berlaku adil”, saya tidak percaya. Kalau orang tua yang punya banyak anak mengatakan bahwa “saya melakukan hal yang adil untuk anak-anak saya”, saya rasa pun juga tidak seluruhnya bisa. Dan kalau atasan mengatakan bahwa “saya memperlakukan karyawan saya dengan adil tanpa membeda”, saya pun semakin tidak percaya.

Manusia itu selalu ingin yang terbaik dan baik untuk dirinya juga untuk orang-orang terdekatnya. Jadi, dia akan memilih orang lain yang bisa memberi yang terbaik baginya itu. Suami yang berpoligami akan lebih memilih istri yang cantik dan bisa melayaninya di ranjang. Orang tua yang punya banyak anak akan lebih memilih anak yang pintar, patuh, dan mungkin cantik atau tampan. Atasan yang punya banyak karyawan akan lebih memilih karyawan yang pintar, tekun, inisiatif, dan bahkan cantik atau tampan.

Menyedihkannya lagi, jika sekuat apapun orang lain yang diperlakukan tidak adil itu berjuang menuntut keadilan. Biasanya itu dianggap sebelah mata. Dipuji hanya sesaat, dilambungkan hatinya hanya sebentar, lalu selanjutnya dibandingkan lagi dengan “si kesayangannya”. Apa pun yang dilakukannya tidak pernah dianggap sempurna bahkan kurang dibandingkan si kesayangannya ini.

Akan semakin parah lagi, kalau si kesayangan ini bukannya membantu, tapi malah berlenggang dengan santai karena dialah si kesayangan. Jadi tak perlu kerja keras karena semua pasti dianggap bagus oleh di punya wewenang.

Yah, pada dasarnya manusia di dunia ini tak ada yang bisa berlaku adil. Saya tak lagi percaya dengan kata-kata “saya akan berlaku adil”. Karena kenyataannya keinginan mendapatkan terbaik itu akan menuntutnya berlaku tidak adil.

Siapa yang sedang diperlakukan dengan tidak adil? Mungkinkah ini salah satu bentuk dari rasa iri hati? Menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain sehingga merasa diperlakukan tidak adil? Bisa saja, karena selain manusia itu pada dasarnya tidak bisa berbuat adil, dia juga selalu menginginkan milik orang lain (sekecil apa pun itu).

Lalu bagaimana sebaiknya?

Yah, siapapun yang sedang berlaku tidak adil sebaiknya mulai sekarang benar-benar berusaha adil. Dengan tidak hanya mengatakannya tapi juga berlaku. Tidak hanya tersenyum, menyapa, bercanda, memuji, memanggil nama, atau apapun itu kepada “si kesayangannya”. Lalu untuk yang sedang diperlakukan tidak adil, buat apa pusing-pusing memikirkan itu. Biarkan saja si kesayangan melenggang dengan santai. Tak perlu iri hati, tetapi tetap tunjukkan bahwa kalian itu bisa lebih bahkan jauh lebih dibandingkan si kesayangan. Wah, jadi pada dasarnya manusia itu punya sifat persaingan dong? Iya, persaingan untuk mendapatkan keadilan dan yang terbaik untuk dirinya.

Senin, 2009 Maret 30

Big Give

Berbuatlah baik selama masih punya kesempatan di dunia ini. Jangan pikirkan balasannya, karena semua itu akan dibalas dengan jalan yang tak dikira dan oleh orang yang tak disangka.

Kadang kalau kita ingin berbuat baik kepada orang lain, kita selalu memikirkan balasan dari orang tersebut. Ya, dunia jaman sekarang ini mengajarkan pada kita untuk semakin perhitungan. Apa-apa dihitung, apa-apa ditimbang. Untung ruginya, berat ringannya. Dan yang paling parah, semua dihitung berdasarkan angka dengan satuan rupiah.

Memang tidak memungkiri, dengan rupiah kita memang bisa bertahan hidup. Tapi karena rupiah juga kita bisa mengakhiri hidup ini. Tidak ada yang kekal selama kita hidup di bumi ini. Begitu juga dengan rupiah. Sayangnya… itu salah satu faktor yang membuat orang-orang malas berbuat baik.

Teman saya pernah bercerita, ketika dia berdebat dengan orang tuanya perihal ke(terlalu)baikannya meminjamkan barang-barang miliknya ke salah satu temannya. Dan teman saya itu hanya berkata kepada orang tuanya (juga pada saya), bahwa dia berbuat baik memang tidak memikirkan balasannya, tapi ia percaya bahwa kebaikannya itu akan dibalas oleh Tuhan dengan tangan yang lain alias melalui tangan orang lain. “Tuh kan bener, selama ini gue selalu bantuin dia tanpa memikirkan balasannya. Tapi Tuhan itu baik, dia balesnya lewat elo. Elo temen gue yang selalu bantuin gue seperti gue bantuin temen gue itu. Berarti lewat elo tangan Tuhan itu bekerja buat gue,” katanya pada saya.

Tersentak. Amazing banget kata-katanya. Ternyata tangan saya ini adalah tangan Tuhan. Tangan yang Tuhan ciptakan untuk saya membantu lingkungan sekitar. Ini seperti mata rantai yang tidak pernah putus. Teman saya membantu temannya, dia mendapat balasan dari saya. Saya membantu teman saya itu, saya akan mendapat balasan dari kalian. Dan seterusnya….

Jangan dipikirkan mata rantai yang tidak akan putus itu. Yang perlu kalian pikirkan hanyalah terus menyambung mata demi mata rantai itu. Jangan dipikirkan juga kepada siapa saya membantu atau dari siapa saya mendapat bantuan. Bisa jadi tangan Tuhan itu datang melalui orang yang sama sekali tidak kita kenal sebelumnya.

Seperti yang saya tonton di setiap episode Kick Andy. Tayangan-tayangannya selalu inspiratif. Ada banyak orang yang berbuat baik tanpa memikirkan sama sekali balasannya. Dia dicemooh banyak orang. Dia yang terlalu jujur, justru tidak mendapat apa-apa karena dimanfaatkan. Dia yang memikirkan orang-orang lain, malah tidak dipikirkan oleh orang-orang tersebut. Mereka melakukan kebaikan bertahun-tahun tanpa memikirkan balasannya. Siapa sangka mereka mendapatkan balasan beberapa tahun setelahnya melalui Kick Andy.

Yaa… Tuhan sudah membuat mata demi mata rantai kebaikan di kehidupan ini untuk saling terkait dan berbuat baik. Kita adalah mata rantai itu dan kita adalah tangan Tuhan yang dipakai untuk menyalurkan kebaikan. Sudahkah kita memakai tangan ini dan menyambung mata rantai kebaikan ini.

Senin, 2009 Februari 23

Musisi Kembar

Menjadi musisi bagi beberapa orang sepertinya mudah sekali. Asal punya kemampuan menyanyi yang oke, penampilan yang menarik, beberapa bakat tambahan lainnya, ditambah (kadangkala) punya modal yang besar di segi financial – produksi berapa ratus ribu keping CD pun enggak masalah mungkin, yang penting lagunya diterima pasar dengan baik dan laku. Berbekal itu semua, rasanya semua menjadi mudah.

Saking banyaknya musisi di tanah air ini, saya sampai bingung dan lupa dengan setiap penyanyi dan lagunya. Apalagi saya bukanlah seorang pengamat musik, melainkan hanya seorang penikmat musik. Tanpa harus memperhatikan siapa yang nyanyi, yang penting lagunya bagus, liriknya apik, lalu saya suka. That’s all.

Di kantor, ada seorang teman yang benar-benar ter-update playlist lagunya. Bahkan lagu yang belum ada video klipnya di TV pun dia punya. Jadi, ketika dia memutar lagu di komputernya, saya hanya mendengarkan tanpa memperhatikan siapa yang nyanyi. Saya hanya menebak, “Oo.. ini suaranya si A. Wah, dia sudah bikin album baru yaa..”.

Kira-kira dua bulan saya mengira bahwa lagu itu dinyanyikan oleh si A. Tapi ketika saya melihat video klipnya di TV, barulah saya tahu bahwa penyanyinya bukan si A. Contohnya saja; Ello – Masih Ada Cinta, saya mengira yang nyanyi Glenn Fredly, Maia dan Cinta Laura - Pengkhianat Cinta, saya mengira yang nyanyi Mulan Jameela, Nindy – Cinta Cuma Satu, saya mengira yang nyanyi Audy, dan Kotak – Masih Cinta, saya mengira yang nyanyi Utopia.

Wah, ini kesalahan ada pada kuping saya atau memang pada penyanyi yang tidak punya ciri khas lagi yaa… Saya masih ingat, ketika di acara adu bakat penyanyi, sang komentator selalu berkata “Kamu harus punya ciri khas sendiri. Jadi ketika saya dengar suaramu di radio, saya langsung tahu itu kamu.” Kata-kata itu terus saya ingat sampai sekarang, meskipun saya bukan seorang penyanyi. Sehingga, saya selalu salut dengan penyanyi yang benar-benar punya ciri khas.

Di luar itu semua, bolehlah… Karena lagunya memang lumayan bagus dan enak untuk didengar. Tapi, melihat maraknya industri musik saat ini, seharusnya menjadikan semua pihak yang terjun di industri musik lebih memperhatikan persaingan yang ada. Bukan asal punya modal kuat dari segi financial saja, tapi juga memperhatikan pasar, kemampuan entertain, ciri khas musik dan suara penyanyi, serta jangan sampai bikin satu album langsung bubar. Itu mah, numpang tenar sesaat aja.. dan musik dijadikan batu loncatan. Wah, kalau musisi senior tahu seperti ini, bisa saja mereka nangis miris.

Memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Tapi paling tidak, dimodifikasilah sedikit supaya ada perbedaan dengan penyanyi lain yang mungkin menjadi kiblat itu tadi. Kekreatifan itu pastilah akan mendapat apresiasi lebih dari sesama musisi lain dan juga para penikmat musik – seperti saya..

Kamis, 2009 Februari 19

Nge-Slank bareng Garin Nugroho dan Generasi Biru

“Pasti kalo film ini muncul di jaman Soeharto, sudah dicekal” kata seorang teman ketika kami sedang menonton film karya Garin Nugroho – “Generasi Biru”. Film ini dimainkan oleh Slank, sebuah band yang usianya bahkan lebih tua daripada usia saya 25 thn.

Khas sekali film Garin. Menurut saya, dari scene satu ke scene lainnya susah dimengerti, karena kesannya enggak nyambung. Tapi, setelah hampir akhir2 film, barulah kita bisa berkata “Oo.. jadi maksudnya tuh gini too…”

Pantas juga ketika di brosurnya ditulis “Dari ‘Opera Jawa’ ke ‘Rock and Roll’”, karena film ini memang opera jawa (film Garin sebelumnya) banget tapi dikemas dengan nge-slank. Kalau di “Opera Jawa” dulu, jujur saja saya tidak begitu mengerti esensi penting dari film itu. Mungkin saja karena ketika itu, otak saya belum dipaksa berpikir kritis dan dewasa. Tapi melihat animo masyarakat, sepertinya justru film “Opera jawa” yang heboh sekali penontonnya. Sampai-sampai pemutarannya di Jogja diperpanjang. Bagaimana nasib film “Generasi Biru” ini yaa… Ah, terlalu dini untuk mereview.

Film “Generasi Biru” ini beda dan lebih meremaja. Ada gokilnya, ada nyleneh ke arah ‘saru’nya (tapi emang ini kan yang digemari anak2 sekarang), ada sisi kemanusiaannya, dan ada kritik sosialnya. Jadi, itulah kenapa teman saya tiba2 menyeletuk demikian.

Sekarang kita memang hidup di generasi biru, yang merdeka dan bebas berekspresi serta berpendapat. Tapi seharusnya kebebasan itu digunakan dengan sebaik-baiknya. Bukan asal manut dengan yang ketok palu, tapi juga bukan asal semprot tanpa pemikiran yang matang.

Film ini mengingatkan kita bahwa negara ini pernah mengalami tragedi kemanusiaan besar-besaran, bahkan kalau mau ditelusuri di setiap provinsi mungkin saja masih ada. Mulai dari kerusuhan Mei 1998, Konflik Ambon, krisis gizi, krisis pangan dan air, dll.

Menurut saya, disinilah hebatnya Slank dan Garin Nugroho. Ketika genenasi biru sesungguhnya ada di tangan remaja, padahal remaja adalah saat rentan dengan berbagai godaan. Lalu, film ini muncul dengan maksud mengajak mereka supaya lebih peduli dengan negaranya. Serta benar-benar menanamkan P.L.U.R – Peace.Love.Unity.Respect dalam diri setiap generasi biru – generasi bangsa.

Yah, sekarang kita memang tidak hidup lagi di jaman kuping kita ditutup, ruang gerak kita dibatasi dengan kerangkeng, atau manusia yang tidak dimanusiakan. Meski, sekarang ini masih banyak kejadian yang seperti masa-masa itu. Tapi, mungkin patutlah kita bersyukur karena negara kita sudah banyak berubah, yang perubahan itu dilakukan oleh para generasi biru dan untuk generasi biru.

Coba saja deh, tengok negara tetangga di Korea Utara dengan paham komunisnya. Sampai sekarang ini mereka begitu mengidolakan “the great jenderal”nya yang sudah meninggal. Bahkan fotonya pun disembah-sembah dan tak boleh geser sedikit pun dari gantungan. Mereka diajarkan anti-Amerika, padahal pemimpin barunya sekarang diduga diam2 mengonsumsi produk Amerika. Dan lucunya, lirik lagu kebangsaannya ada kata2 pujaan kepada “the great jenderal”.

Wah, untunglah negara kita telah melewati masa-masa itu. Bukan untuk dilupakan, tapi untuk dipelajari. Dan… coba kalau film ini dibuat oleh warga Korea Utara ya? Mungkin nasibnya seperti surat kabar Indonesia jaman dulu.